Apaan sih ini? Sialan.
Faza mengumpat berulang kali sebelum akhirnya mengikuti langkah mamanya keluar dari dapur. Dengan malas dia mendekat pada meja paling pojok—tempat favorite dia dan seluruh Champ berkumpul—dan mulai membagikan satu per satu sponge cake pada sahabatnya.
Eza nyengir sambil terus membidik gambar Faza.
Faza mendesis. "Lo puas sekarang, Ja? Gue udah jadi pelayan di restaurant nyokap gue sendiri."
Eza mengibaskan tangannya. "Well... Utang lo udah lunas, Fa. Tinggal besok traktir gue dua mangkuk bakso di kantin."
"Dasar lo, sepupu sok kegantengan, nggak tahu terima kasih, nggak tahu diri. Awas lo!" geram Faza sambil menyeruput es tehnya dan melempar sedotannya ke wajah Eza.
Finza tertawa melihat hasil foto bidikan Eza. "Seriusan, Fa. Lo cocok juga jadi pelayan."
"Terserah!" Faza kembali meminum es tehnya. Bodo amat dengan kurcaci-kurcaci kecil menyebalkan di sekelilingnya itu.
"Liat dong sini!" Azel berseru. Dia melepas headset-nya dan mulai sibuk membongkar kamera Eza. Tawanya langsung pecah begitu saja. Kalau Azel bisa langsung tertawa, ini pasti sangat lucu.
"By the way, Divi mana? Kok dia nggak nongol?" Faza mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Eza tak merespon. Malah kembali melayangkan hinaan. "Uhuk... Mas sini dong bawain cake pesenan kita," dia berakting layaknya pelanggan. "Mas, udah setengah jam masak nggak jadi-jadi? Lama banget, sih. Mas yang becus dong kalau jualan."
Faza mencibir. "Ambil sono sendiri!" dampratnya sambil melemparkan nampan ke arah Eza.
Pada hitungan kelima nampan itu nyaris berdencing jatuh kalau Eza tidak segera menangkapnya dengan kilat. "Eh buset!"
Mauren yang sejak tadi sibuk membaca buku Fisika menoleh. "Pose lo lebih cocok tuh jadi pelayan," katanya sadis. Penuh nada penekanan.
Eza menyedekapkan tangan sambil memaksakan tawa. Dia menatap Mauren dengan pandangan berkilat. "Ahaha... kalau gue jadi pelayan lo cocok jadi buruh cuci dong, Ren."
"Hmm... bagus juga. Daripada pelayan bisa disuruh-suruh."
"Pelayan ganteng kayak gue mah dilayani cewek-cewek. Bukannya melayani! Sorry ya..."
Mauren langsung berakting mau muntah. Reaksi wajibnya jika Jaja Suhardja sudah mulai sok-sokan. "Kalau gue jadi cewek-cewek itu, gue nggak bakal sudi."
"Maksud lo apa, sih? Lo mau ngajak gue berantem lagi? Belum puas lo kemarin, ha?!" Eza menatap Mauren dengan jengkel sambil sebelah tangannya menggebrak meja. Seakan mengibarkan bendera peperangan mereka yang baru beberapa hari padam.
Mauren menutup bukunya sambil pura-pura tak peduli.
"Ehem..." sebelum pertengkaran itu sempat pecah. Zaza muncul sambil membawa beberapa potong brownies. Berusaha sebisa mungkin meredakan peperangan yang mungkin terjadi di antara duo Tom and Jerry.
"Ihh Tante mah baik bangettt. Tahu aja Jaja lagi laper." Eza mengambil start dan mencomot satu potong brownies secara kilat. Finza dan Mauren langsung meliriknya penuh benci.
Zaza berdecak sambil menggelengkan kepala. "Ckck... Kalian berdua nggak di rumah sakit, di kafe, di rumah, kerjaannya pasti berantem. Coba sekali-kali kalian contoh orang tua kalian. Akur gitu kan enak, Ja, Ren."
Sontak tawa Eza menyembur. "Jaja akur sama Aren, Tan? Ogah deh, Tan. Males baik-baikan sama nenek sihir. Nanti bisa disulap jadi kodok. Hih."
Mauren mendesis jengkel. Tak mau menanggapi. Dia paling malas berhubungan dengan manusia sok satu itu.
Zaza menepuk bahu Eza gemas. "Hush... Kamu ini kalau ngomong sembarangan. Mulutnya disaring dong, Ja."
"Emang!" tandas Faza keki. "Jaja Suhardja anaknya Om Erro yang nggak ada mirip-miripnya ama Om Erro, yang hobi ngejahilin orang, sok kegantengan, playboy akut, tukang hmpph—"
Eza tertawa lepas begitu berhasil menyumpal mulut Faza. Makhluk satu ini emang ember, hobi ngebacot kesana kemari, tidak bisa diam, sekarang dia harus rasakan pembalasannya.
Azel menganga. Bukunya nyaris jatuh karena melihat aksi kedua sepupunya yang bikin speechles. "Astaga Ja, Fa keselek tuh!"
Eza masih tertawa. Tangannya bergerak meraih segelas es teh dan menyurungkannya pada Faza yang sudah dalam mood amat-sangat-buruk.
"Gue ngambek ama lo, Ja! Tengil banget sih, lo! Gue sumpahin muka lo jerawatan besok pagi!" Faza menggeram sambil melempar serbet di pundaknya tepat ke wajah Eza. "Makan tuh serbet!" geramnya sambil melangkah masuk ke dapur.
Yang lain hanya tertawa melihat wajah horor Faza.
***
Sumpah. Melodi itu cantik banget ya. Banget. Banget. Seriusaaan. Faza bahkan harus mengelilingi padang ilalang agar bisa mengejar Melodi. Melodi-nya berlari-lari sambil terus menggoyangkan selendang merah tipisnya. Ah, menawan sekali. Faza sampai sesak nafas ketika melihat aura kecantikannya.
Oh Melodi... Melodi....
"Melodiii. Aku padamuuu!"
Sontak koor suara tawa terdengar memenuhi ruang kelas. Dalam hitungan detik Faza bisa merasakan aura mencekam sedang menghantui dirinya. Baru beberapa menit saja dia merasakan kebahagiaan bersama Melodi. Tapi dalam sekejap saja kebahagiaannya hancur dan menjadi sebuah petaka.
Kali ini tidak main-main. Bu Atun sudah menatap bengis ke arahnya dengan sebelah tangan tampak menggenggam kuat-kuat penggaris papan tulis.
Astaga. Mampus.
Faza menoleh pada Eza yang malah sibuk tertawa. Sialan.
"Rafanza, lagi ngapain kamu?"
"Eh—" Faza tampak kebingungan. "Itu Bu. Anu. Lagi. Itu lho."
"Melodi? Anak kelas IPA 1 maksud kamu?"
"Eh—" Faza tersenyum malu-malu. "Kok ibu tahu, sih."
"Oh, jadi yang itu!" Bu Atun menggeram. "Awas ya, nanti akan ibu kasih tahu ke Melodi biar dia nggak mau sama kamu!"
Begitu mengucapkannya, Bu Atun langsung berbalik kembali ke arah papan tulis. Lagi-lagi tawa anak-anak kelas meledak. Faza langsung menganga saking kagetnya.
"Gila! Mimpi basah pas pelajaran! Ckck..."
Faza menggeram. Kali ini dia tidak tanggung-tangggung. "Jaja Suhardja! Awas lo! Gue marah ama lo! Marah banget! Tega banget lo biarin gue ketiduran di pelajarannya Bu Atun?"
Eza mengedikkan bahu cuek. Dia bahkan dengan santai berjalan keluar kelas sambil bersiul-siul. Bahkan jelas-jelas Bu Atun belum membubarkan kelas. Memang sih, bel udah bunyi. Tapi kan tetap saja nggak sopan!
Ketika Bu Atun sudah membubarkan pelajaran. Faza langsung berlari menyusul Eza. Dia menyumpah akan balas dendam. Sayangnya langkah kakinya malah menubruk bahu Divia yang tengah membawa beberapa kertas soal bersama Melodi.
"Me-lo-di." Faza tergagap.
Melodi tersenyum tipis. "Hai, Fa."
"Ehem..." Divia menatap Faza sengit. "Gue segede galon gini nggak disapa! Tega ya!"
Faza terkaget. Buru-buru menoleh ke tempat dimana Divia berdiri. "Eh, elo Div. Sori. Abisnya lo nggak kelihatan. Hehe... Lagian lo kemarin kemana aja, sih, kok nggak ke Champ?"
"Nggak papa. Nggak enak badan." Divia mengedikkan bahu. "Yuk, Mel."
"Idiiih...." Faza mendesis panjang ketika dua orang cewek itu melewatinya. Terlebih Divia yang melewatinya dengan gerakan angkuh sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.
"Kenapa sih gak jelas banget si Divi? Eh tapi wangi sih." Faza terus mengendus-endus aroma shampoo yang dipakai Divia. Sampai tiba-tiba aroma wangi itu berubah menjadi aroma busuk. Dari baunya sih seperti bau—
"Jaja Suhardja!!!" Faza berteriak. Emosinya sudah amat sangat naik sekarang. Dengan emosi membara dia menangkis sepatu busuk di hadapannya. Dengan kilat benda itu melayang dan jatuh begitu saja dari lantai gedung tiga. Entah benda itu kemudian mendarat kemana.
Eza terkaget. "Ya ampun biasa aja dong, Fa."
"Lo emang bener-bener harus gue laporin ke Om Erro!" Faza menatap Eza penuh amarah. "Gue akan—"
"Fa, omong-omong sepatu itu tuh."
"Sepatu apa? Nggak usah ngeles lagi lo."
"Sepatu yang lo lempar tadi."
"Kenapa emang sepatu tadi?"
Eza menunjuk ke bawah. "Tadi kan pas liat Melodi lo kepleset terus sepatu lo lepas. Nah gue cuma bantu ngambilin aja biar lo nggak perlu repot. Eh, malah lo lempar. Ehm, ya udah sih gitu aja."
Oh jadi sepatunya yang dia lempar?
Jadi—
Apa sepatunya? Sepatunyaaa???
"Sialan lo bocah tengil! Sono ambil!" Faza berteriak kencang. Tapi lagaknya Eza tak peduli. Dia malah ngeloyor begitu saja sambil tertawa lebar. Meninggalkan Faza yang kesabarannya sudah habis di ambang jurang.
***
Siangnya Faza langsung meneror Eza si biang kerok itu sampai hidupnya tidak pernah tenang. Dengan gaya bak tentara dia mendatangi rumah Om kesayangannya. Pertama kali yang dilihatnya di ujung pintu adalah Finza. Cewek itu tengah membaca novel ditemani setoples cookies hangat buatan mamanya.
"Serem amat muka lo Fa." Finza langsung begidik. Tapi tawanya meledak begitu saja ketika mengingat kejadian di sekolah tadi. Dia sangat ingat adegan ketika Faza mengambil sepatu di atas ranting-ranting pohon. Dia menjadi bahan tontonan satu angkatan dan direkam banyak orang.
"Diem lo! Gue bakal mutilasi kembaran lo!"
Faza melangkah masuk. Dia bahkan tak peduli dengan Finza yang kini sudah memukul-mukul meja saking lucunya. Entah ide gila ini didapat kembarannya dari mana. Lucu banget sih Fa kayak manusia pohon bergelantungan gara-gara sepatu!
Azel yang tengah tiduran di atas sofa nyaris berjengit melihat Faza berlarian di ujung pintu. Detik berikutnya dia menganga lebar saat mendapati Faza terpleset jatuh akibat jebakan batman di ujung kamar.
"Jaja Suhardja, buset ini apaan ewh!"
Azel berlarian sambil terkikik. Sebelah tangannya terulur untuk menolong Faza. "Lain kali lihat jalan dong, Fa."
"Apa? Lihat jalan? Gue nggak sempet lihat jalan, Cel! Gue udah nggak sabar mutilasi kepala sok kegantengan itu!"
Eza tertawa lepas dari ujung kamar mandi. Lagi-lagi sambil mengarahkan DSLR-nya ke arah Faza yang kini bersungut-sungut marah. Sumpah ya, ini anak emang nggak ada tanggung-tanggungnya kalau mau ngerjain orang. Hiih!
"Udahan lah Ja, kesian si Fa." Azel tertawa sambil memasang headset birunya. Kemudian dengan tenang menidurkan diri di atas sofa kembali. "Mau kemana sih lo, jam segini udah mandi?"
"Mau main golf sama Pa—Ups!" Eza menangkis kuat-kuat pukulan Faza. Sebelah tangannya meraih raket di ujung kamar dan mulai membalasi Faza. Sampai-sampai Faza kewalahan gara-gara dia tidak membawa senjata apapun.
Detik berikutnya perkelahian mereka terhenti karena Erro sudah berdiri di ambang pintu sambil menggelengkan kepala. Astaga. Baru beberapa menit tadi istrinya menata kamar ini dan sekarang tempatnya sudah seperti kapal pecah. Baju berserakan dimana-mana, sampah bertebaran, barang-barang aneh juga berjatuhan di segala penjuru. Erro hanya bisa memijat kepalanya begitu melihat beberapa barang keusilan seperti kadal mainan, tali tambang, jebakan tikus, dan masih banyak lagi barang-barang nggak jelas lainnya.
"Ya ampun Ja, kamu ngapain aja sih?" Erro menatap jijik kamar Eza. "Dan ini kamar apaan sih kok kayak kapal kecah gini? Nanti Mama ngamuk tahu rasa kamu."
Eza menghembuskan nafas panjang. "Tahu tuh ini kerjaannya si Acel, Pa! Dia makan snack terus buangnya kesini. Kata Acel kamarnya Jaja cocok jadi pembuangan umum. Jadi dia bawa sampah rumahnya kesini terus jadinya gini deh."
"Sembarangan lo!" Azel menyumpah. Dengan gerakan kilat melempar buku-buku tebal dari meja belajar Eza. "Jangan percaya sama dia Om. Tukang bohong dia."
Erro menghembuskan nafas pasrah. "Kamu nggak usah ikut ajalah. Papa mau ngajak Om Rio aja. Awas ya kalau pas Papa balik kamarnya masih berantakan!"
"Yahhh... Papaaa..." Eza menjerit kesal. Sialan. Azel dan Faza tertawa menang di sampingnya. Dengan gaya superman mereka berdua menghempaskan diri di atas ranjang dan mulai mengacak-acaknya.
"Bagus. Berantakin aja semuanya." Eza bergumam kesal.
Pintu terbuka lagi. Erro masih berdiri di ambang pintu. Eza langsung nyengir. Dia langsung berakting merapikan buku-buku yang berserakan di bawah. "Ini lagi dibersihin kok, Pa. Tenaaang."
"Nih Papa ganti sama tiket." Erro menyerahkan beberapa lembar tiket pada Eza.
"Ganti main golf? Seriusan?" Eza mengernyit sambil mengamati tiket di tangannya. "Paket touring Ciwidey?" gumamnya heran.
"Yes. Pakainya pas liburan besok. Ajak yang lain juga ya. Siapa tahu nanti ketemu cinta sejati di Situ Patengan."
Faza yang mendengar kata cinta sejati langsung berlarian heboh. Dengan semangat empat lima dia menubruk Eza yang tengah berdiri. Bahkan Azel sampai bengong dengan sikapnya.
"Om bilang apa tadi? Cinta sejati? Seriusan Om? Beneran nanti Fa bakal ketemu cinta sejati disana?"
Erro tertawa. "Hmm... coba aja."
Eza melirik Faza yang tampak bahagia. Dia tersenyum jijik. "Kampungan banget sih, Fa. Cinta sejati gue mah udah banyak. Setiap kelas ada."
Faza menggetok kepala Eza. "Diem lo playboy cap lintah!"
"Ya udah Papa pergi dulu ya, udah ditungguin Om Rio nih. Jaga rumah yang bener ya kalian!" Erro melangkah dengan buru-buru.
"Siap Papap Erro ganteng, yang lebih ganteng daripada anaknya!" Faza berteriak heboh sambil melambai-lambaikan tangan. Eza melirik tak suka. Seenaknya aja sih Faza manggil-manggil papanya. Dasar! Pakai ngatain dia juga pula! Hiih.
Azel menggelengkan kepala. "Kalian ngapain, sih? Udah buruan nih, Ja, bersihin kamar lo! Lama-lama gue senep juga lihatnya!"
"Iya ih, ini juga baru mau gue bersihin." Eza langsung melancarkan aksi bersih itu sehat. Buru-buru dia menarik penghisap debu dari belakang ranjangnya.
"By the way, ayo bikin misi liburan menemukan cinta sejati!" Faza masih berteriak heboh.
"Gue nggak tertarik. Gue mau belajar aja buat UNAS."
Faza dan Eza langsung melirik tajam ke arah Azel. Saat itu juga Azel meneguk ludahnya kuat-kuat. Ah, ini pasti buruk. Dua sepupunya ini pasti punya sejuta cara untuk menyeretnya dengan paksa. Dan kalau dia tetep ngotot tidak ikut, setelah ini dia pasti akan dijadikan bulan-bulanan atau bahkan dikerjai habis-habisan di sekolah. Ahaha, dia belum siap pamornya turun gara-gara ulah nakal Eza. Apalagi mengingat kejadian Faza tadi langsung membuatnya begidik.
"Emm... maksud gue belajarnya bisa besok-besok lagi kok. Hehe."
"Nah, bagus. Bagus." Eza langsung tersenyum lebar. "Nanti gue telpon anak-anak deh. Malemnya kita kumpul di Champ aja. Oke?"
Azel mengangguk-angguk sambil kembali memasang headset. Dia sih ngikut-ngikut aja. Toh kalau menolak, dia pasti kena getah amukan Eza dan Faza.
Faza sendiri sudah tidak begitu peduli. Sekarang dia sedang berangan-angan. Ah, bisa saja takdir mempertemukannya dengan Melodi disana. Lalu mereka naik perahu berdua. Kemudian menyatakan cinta dan aww romantis sekali—
"Eh Fa, bantuin gue ngangkut jemuran Mama dong!"
Angan-angan Faza buyar seketika. "Jemuran? Eh sialan lo tengil ngerusak mimpi indah gue aja!"
"Apaan emang? Bayangin bokep?"
"Berisik! Emangnya lo?!" Faza berkilat marah. Lalu berlarian mengejar Eza. Lagi-lagi Azel hanya menggelengkan kepala. Yah, begitu saja terus sampai rumah ini berubah menjadi ladang cococrunch gara-gara ulah mereka.
***
Malamnya kafe Champ De Mars dikelilingi oleh makhluk-makhluk berisik yang suara tawanya sangat mengganggu para tamu. Untuk kesekian kalinya Zaza berdecak sebal karena lagi-lagi suara tawa koor perpaduan antara Faza dan Eza menyakitkan telinganya.
"Sssttt sayang! Lagi rame nih, jangan berisik dong!"
Faza menoleh sekilas. "Fa nggak berisik, Ma. Jaja nih yang daritadi ngoceh."
Eza nyengir lebar. Dengan satu gerakan kecil dia menunjuk ke arah Azel. Azel langsung pasang wajah datar. Zaza hanya bisa mendesah pasrah. Azel adalah kandidat yang paling tidak mungkin membuat keributan. Dan kandidat paling memungkinkan sudah pasti Eza sendiri.
"Kalau kalian masih berisik mending naik ke atas."
"Oke. Siap Ma!" Faza mengacungkan jempol hingga akhirnya Zaza menyerah dan kembali ke dapur. Faza langsung melirik kesal pada Eza yang lagi-lagi hanya tersenyum puas.
"Lo sih nggak bisa diem!"
Eza tak menggubris Faza dan malah sibuk mencoret-coret peta Jawa Barat. "Ntar malem mending kita nginep tempatnya Om El aja. Kita bikin agenda buat liburan besok."
Azel mendongak, melepas sebelah headset birunya, dan mendesis. "Kalau kalian berisik ntar yang kena gue juga! Gue nggak mau diamuk bokap!"
Mauren yang sejak tadi diam langsung bergerak menutup bukunya. Dia bangkit tanpa minat. "Gue nggak ikut. Belajar jauh lebih bermanfaat."
Eza menoleh malas. "Bagus deh kalau lo nggak ikut. Sono belajar ampe otak lo keriting kayak mie."
Detik berikutnya Mauren sudah melayangkan tatapan membunuh pada Eza. Sementara Eza tak begitu peduli. Dia hanya terus tersenyum dengan tatapan penuh ejekan. Sudah menjadi hal favoritenya untuk meladeni cewek berkacamata ini.
"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu? Lo suka sama gue?"
Mauren memaksakan tawa. "Gue? Huh... sorry aja! Jangan berharap deh, lo!"
Eza balas tertawa. "Pacar aja nggak punya, sok-sokan nolak gue."
"Apa lo bil—"
"STOOP!"
Divia tiba-tiba berlari dari ujung pintu. Secepat kilat merentangkan kedua tangannya di antara Eza dan Mauren. Baru datang saja sudah disuguhi peperangan dingin seperti ini. Bagaimana bila mereka benar-benar liburan bersama. Dan membiarkan kucing dan tikus dalam satu lingkup yang sama sangatlah buruk
"Kalau mau liburan jangan berantem gini dong." Divia menggaruk-garuk rambutnya frustasi.
"Lo darimana aja sih ditungguin daritadi?" Faza nyelonong menghampiri Divia.
Divia menoleh dengan malas. "Ye, terserah gue dong. Emang lo peduli?"
"Gue tanya serius, Div! Jangan balik ngomel dong lo!" Faza melotot jengkel.
"Lah kan gue nanya apa peduli lo?"
Mauren dan Eza giliran bengong. Sebenarnya yang tadi bertengkar siapa, sih? Kenapa malah jadi Divia dan Faza yang sekarang saling melempar kata-kata pedas.
Azel berdecak sebal. "Please, mendingan sekarang kita pindah tempat. Jangan disini berantemnya. Malu dilihatin pengunjung."
Seperti biasa Azel selalu menjadi yang paling dewasa. Meski pada kenyataannya dialah yang lahir paling terakhir. Tapi selalu saja dia menjadi yang paling bijaksana dan bersikap netral pada semuanya. Tanpa memihak satu dengan yang lain. Kadang Faza dan Eza iri dengan sikap Azel. Mereka sebagai yang tua malah bersikap memalukan dan kekanakan.
Tapi ya sudahlah, toh sikap mereka memang begini.
"Well, gue rasa kita harus cepet pindah markas." Eza menatap keadaan kafe yang mulai ramai dan menunjuk lantai atas. "Let's see the upstair."
***