Pergi Tanpa Pamit
Tiga tahun berlalu sejak peristiwa yang mengharukan itu ....
Aroma lavender yang menenangkan di ruang tengah sama sekali tidak membantu menurunkan denyut jantung Erlita.
Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel. Suara ayahnya di seberang telepon terdengar parau dan pecah, menceritakan kondisi Ibunya yang tiba-tiba jatuh pingsan di dapur.
"Ayah akan membawa ibumu ke rumah sakit terbesar di kota ini, kamu yang tenang, ibumu sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit,”
“Ya, Ayah," ucap Erlita dengan suara tertahan.
‘Ayah’, ia berhasil menyebutnya dengan kalimat itu. Dulu, ia ingin memiliki seorang ayah, kini ia berani memanggilnya dengan sebutan ayah setelah hatinya benar-benar ikhlas dengan ketetapan nasibnya yang sedari kecil hanya tahu ayahnya telah meninggal dunia.
Terbangun dari lamunannya, ia bergegas untuk pergi. Ia tidak punya waktu untuk bersiap.
Erlita menyambar tas kecil dan mengenakan cardigan krem tipis untuk menutupi kaos rumahan yang ia kenakan.
Wajahnya polos tanpa riasan, namun rona panik justru membuat kecantikan alaminya terlihat begitu rapuh dan memikat—seperti porselen yang nyaris pecah.
Di halaman depan, putranya yang berusia tiga tahun, Abian, sedang asyik mengejar bola bersama pengasuhnya.
"Mbok Imah, tolong jaga Abian sebentar. Aku ada urusan darurat, nenek Yesi sakit," pamit Erlita terburu-buru.
Ia bahkan tidak sempat mencari keberadaan sopir pribadi yang biasanya disiapkan suaminya.
Erlita langsung memesan taksi daring dan pergi dengan kecemasan yang meluap. Ia tak punya banyak waktu, ibunya selama ini baik-baik saja, dulu Mark yang membuatnya kembali sehat setelah dibawa ke Singapura.
Ayahnya sibuk mengurus banyak pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Mark.
Akhir-akhir ini hubungan Ayah dan suaminya sedikit renggang. Ia tak bisa berbuat banyak karena urusan bisnis yang melatarbelakanginya.
Ia lupa satu hal, pamit pada suaminya. Tapi ia tahu pasti Mark akan bertanya pada Mbok Imah kemana ia pergi.
**
Satu jam kemudian, mobil sedan mewah hitam mengkilap memasuki pelataran rumah bak istana itu.
Mark melangkah keluar dengan raut wajah kaku. Pekerjaannya di kantor sedang kacau, dan ia butuh melihat wajah tenang istrinya untuk meredam emosi.
Ada perasaan damai karena istrinya selalu menenangkan hatinya, ia merasa Erlita adalah sesuatu yang selalu menggairahkan hidupnya.
Namun, pemandangan di halaman depan membuatnya berhenti melangkah. Suasana tampak lengang dan sepi.
Ia masuk dan tak mendapati istrinya ada di penthouse miliknya.
"Di mana mamamu, Abian?" tanya Mark sambil mengusap kepala putranya.
"Mama pergi, Pa! Tadi lari-lari naik mobil warna biru," jawab Abian polos.
“Pergi?”
Rahang Mark mengeras. Ia menoleh tajam ke arah Mbok Imah, sang pengasuh yang langsung menunduk ketakutan. "Ke mana Nyonya pergi, Mbok?"
"Anu... Tuan... katanya Nyonya Besar Yesi sedang sakit, jadi Nyonya buru-buru ke rumah sakit," jawab Mbok Imah terbata-bata.
Mark mendengus sinis. "Sakit? Ibu mertuaku baik-baik saja kemarin. Bahkan sempat menggendong Abian"
Pikirannya langsung melayang pada informasi yang ia terima pagi tadi dari rekan bisnisnya kalau Ardi, mantan kekasih Erlita yang kini menduda, baru saja kembali ke kota ini.
Kebetulan? Fuih … Mark tidak percaya pada kebetulan.
Ia masuk, dan mendapati kamar mereka kosong. Ia mencoba menghubungi ponsel istrinya, namun hanya nada sibuk yang terdengar karena Erlita sedang sibuk berkoordinasi dengan dokter.
"Kamu berani keluar tanpa ijin dariku, Er? Dan kamu melakukannya saat pria itu kembali?" desis Mark. Tangannya mencengkram pinggiran meja rias.
Kekayaannya bisa membangun rumah sakit mana pun di kota ini, tapi egonya yang keras kepala tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya pergi tanpa bersujud meminta ijinnya.
Baginya, setiap langkah Erlita di luar rumah menjadi kesempatan melakukan pengkhianatan.
Dan ia tahu Ardi memang telah menjadi duda, rumah tangganya hancur, tentu saja banyak yang berspekulasi kalau Ardi menikah tanpa cinta atau hanya ingin membuktikan bahwa ia telah melupakan Erlita.
Mark menyambar kunci mobilnya kembali. Matanya berkilat penuh amarah. Jika benar istrinya berada di rumah sakit hanya untuk menemui 'pria masa lalu' itu dengan alasan ibunya sakit, ia bersumpah akan membuat sangkar emas yang lebih sempit untuk istrinya.
**
Bau antiseptik yang menyengat menyambut Erlita saat melangkah masuk ke lobi Rumah Sakit Bina Medika.
Pikirannya kalut. Ia mendapati ayahnya duduk membungkuk di depan ruang IGD dengan wajah pucat pasi.
Wajah tua yang sekarang ini sedang menikmati kebersamaannya dengan ibunya dalam satu rumah yang cukup harmonis dalam tiga tahun terakhir.
Saat ini, ibunya sedang ditangani di dalam, dan segala prosedur terasa berjalan begitu lambat di mata Erlita.
"Keluarga Nyonya Yesi?" panggil seorang perawat dari balik meja tinggi.
Erlita bergegas mendekat. "Ya, aku putrinya, Sus. Bagaimana keadaan Ibuku?"
"Dokter masih melakukan pemeriksaan intensif, tapi Anda harus segera menyelesaikan administrasi dan uang muka rawat inap agar tindakan lebih lanjut bisa segera dilakukan ke ruang HCU," jelas perawat itu dengan nada datar yang profesional.
"Silakan ke bagian administrasi di sayap kanan gedung ini."
Erlita terpaku. Administrasi. Uang muka.
Dalam kepanikannya, ia baru menyadari bahwa ia pergi hanya membawa tas kecil berisi ponsel dan dompet harian.
Ia tidak membawa kartu kredit hitam yang diberikan Mark—kartu yang biasanya ia gunakan hanya untuk keperluan rumah tangga atas ijin suaminya.
“Ayah lupa bawa itu semua, Er. Maafkan Ayah, biar nanti Ayah pulang dulu,” sahut Ayahnya dengan suara bergetar.
Erlita tahu betapa sayangnya Ayahnya pada ibunya, selama ini mereka tinggal terpisah.
“Nggak perlu, Yah. Biar Erlita saja yang aja urus ini semua. Ayah duduk saja disini, yang tenang dan jangan panik. Ibu akan baik-baik saja,” ucapnya seraya tersenyum.