Dimas bergerak gelisah tak tentu arah. Sesekali ia mondar-mandir ke sana kemari, kadang duduk di kursi tunggu, kadang pula bersandar di depan pintu tempat di mana Tania sedang ditangani oleh dokter. "Darah apa tadi? Apa mungkin itu darah menstruasi Tania? Tapi, bukankah dia suntik KB? Itu berarti dia tidak akan mengalaminya dan jikapun mengalami pasti jumlahnya tidak banyak. Tapi mengapa cairan tadi sampai merembes mengenai lantai?" gumam Dimas, air mukanya sungguh menampakkan sebuah tanda tanya besar. "Arrghh ... mengapa dokter itu lama sekali?" geramnya seraya menonjok sebuah tembok tak bersalah, tak peduli rasa sakit menjalar di setiap buku jarinya. Pria itu luruh di lantai seraya mengusap wajahnya kasar, lalu mengacak-acak rambutnya. Sungguh, ia tidak tahan menunggu lebih lama. Setia

