part 1

222 Kata
Di bawah pohon yang menjulang tinggi, seorang gadis desa duduk sambil menatap langit biru. Ia baru saja lulus sekolah menengah atas dan kini ia tengah menunggu hasil seleksi masuk universitas, berharap bisa diterima di jurusan kedokteran sesuai impian. Namanya Nayla Arindya Prameswari, meski di rumah dan di desa ia akrab disapa Arin. Ia adalah satu-satunya putri pasangan Pak Agus dan Bu Ajeng, pemilik sawah yang cukup luas. Hasil panen sawah mereka bukan hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sanggup membiayai pendidikan Arin. Selain menggarap sawah, Pak Agus masih menyempatkan diri memelihara beberapa sapi dan kambing. s**u sapi segar biasanya ia jual ke UMKM di desa, sementara kambingnya kerap laku menjelang Idul Adha. Pagi yang cerah itu, seperti biasa, Nayla—gadis yang riang dan murah senyum—ikut membantu ayah dan ibunya di sawah. Sesekali, ia bermain di tengah pematang sambil melihat orang tuanya bekerja. “Arin… Arin!” panggil Bu Ajeng dari kejauhan. “Iya, Bu. Ada apa?” sahut Arin, berlari kecil menghampiri ibunya. “Bantu Ibu, ya, Nak. Tolong ambil sayuran yang sudah bisa dipetik. Nanti kita masak buat makan siang Ayah.” “Baik, Bu. Arin petik sayurnya dulu, terus nanti bantu masak.” “Terima kasih, Nak. Anak Ibu memang rajin dan baik hati.” Arin tersenyum malu, pipinya merona. “Hehe…” ucapnya pelan sambil mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN