Arya Mahendra Pratama.
Nama itu cukup dikenal banyak orang. Bukan hanya karena ketampanannya, tetapi juga karena karisma yang melekat padanya.
Di hadapan orang lain, Arya sering terlihat dingin dan menjaga jarak. Namun, di balik sikap itu, keluarganya tahu betul bahwa ia adalah pria lembut dan penuh kasih sayang.
Tak cukup sampai di situ, Arya juga dikenal sebagai sosok multitalenta. Ia seorang dosen di kampus ternama, meski statusnya masih dosen tidak tetap. Di sisi lain, ia juga seorang dokter bedah yang juga aktif praktik di rumah sakit, sekaligus CEO Pratama Grup, perusahaan besar milik ayahnya.
Hidup Arya nyaris tanpa jeda. Dari pagi hingga malam, waktunya dipenuhi dengan mengajar, menangani pasien, dan mengurus bisnis keluarga.
---
Suatu pagi, setelah memarkir mobil di kampus, Arya melangkah tenang menuju gedung perkuliahan. Belum sempat sampai ke pintu, seorang wanita sudah menunggunya. Penampilannya mencolok—seksi dan penuh percaya diri.
Wanita itu adalah Anggun, putri dari sahabat lama ayah Arya. Sejak masa sekolah, Anggun selalu menyimpan rasa untuk Arya, meski tak pernah berbalas. Bagi Arya, Anggun hanyalah teman, tak lebih.
“Hai, Arya. Apa kabar? Sudah lama kita nggak ketemu,” sapa Anggun sambil tersenyum genit.
Arya menoleh sebentar, lalu berdeham pelan sebelum kembali melangkah.
“Ar, tunggu dong. Aku mau ngomong sesuatu. Kamu kok masih dingin aja sih sama aku?”
Arya menghentikan langkahnya, menatap jam di pergelangan tangan, lalu menoleh singkat.
“Anggun, ada apa? Saya nggak punya banyak waktu. Kelas saya sebentar lagi mulai. Kalau penting, cepat katakan.” Suaranya datar, nyaris tanpa ekspresi.
Anggun menggigit bibir bawahnya, lalu mendekat sedikit.
“Ar, hari ini aku baru pertama kali ngajar di kampus ini. Memang beda jurusan sama kamu, tapi kan kita bisa sering ketemu. Aku kangen banget sama kamu.”
Wajah Arya tetap tenang. “Selamat bekerja, Anggun. Semoga betah. Tapi maaf, saya harus ke kelas. Mahasiswa saya sudah menunggu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Anggun, Arya kembali berjalan, meninggalkan Anggun yang terdiam dengan wajah kesal.
“Huft… susah banget deketin kamu, Ar. Tapi aku nggak akan nyerah. Aku bakal terus coba,” gumam Anggun lirih, menatap punggung Arya yang semakin menjauh.
---