Part 3

555 Kata
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Sejak pagi, Arin sudah gelisah menanti pengumuman hasil seleksi mahasiswa baru jurusan kedokteran di kampus favoritnya di ibu kota. Semoga aku lolos. Aku ingin membanggakan Ayah dan Ibu. Aku juga ingin menggapai cita-citaku jadi dokter, batinnya penuh doa. Di kamar, ia mondar-mandir tanpa arah, sementara di ruang tengah, Pak Agus dan Bu Ajeng santai menikmati sarapan pagi. “Di mana Arin, Bu?” tanya Pak Agus. “Masih di kamar, Yah. Lagi menunggu pengumuman kampus,” jawab Bu Ajeng sambil tersenyum tipis. “Semoga Arin lolos ya, Bu,” ucap Pak Agus pelan. “Amin, Yah. Insyaallah, doa kita akan dikabulkan,” balas istrinya. Tak lama kemudian, Bu Ajeng mengetuk pintu kamar putrinya. “Tok tok tok… Arin, Ibu sama Ayah mau ke sawah dulu, ya. Jam berapa pengumumannya, Nak?” “Nanti siang, Bu,” jawab Arin dari dalam kamar. “Kalau begitu, jangan lupa sarapan, ya. Dan jangan berhenti berdoa.” “Iya, Bu. Nanti Arin sarapan dulu.” Setelah kedua orang tuanya pergi, Arin segera menyiapkan sarapan ringan. Setelah itu, ia duduk di depan laptop, jantungnya berdegup tak karuan. Jemarinya gemetar saat mengetik nomor peserta dan tanggal lahir. “Ya Allah, semoga Arin lolos…” bisiknya lirih. Halaman pengumuman terbuka. Tulisan itu terpampang jelas: “Selamat! Anda diterima di Fakultas Kedokteran dengan Beasiswa.” Arin menutup mulutnya, air mata bahagia langsung mengalir. “Ya Allah… terima kasih.” Ia segera bangkit dan berlari ke sawah, tempat Ayah dan Ibunya bekerja. “Ayah! Ibu!” teriaknya dari kejauhan. Bu Ajeng kaget, menghentikan langkahnya. “Arin? Kenapa teriak-teriak, Nak?” Arin terengah-engah, tapi senyumnya merekah. “Ibu… Ayah… Arin lulus! Arin diterima di Fakultas Kedokteran!” “Alhamdulillah, Nak. Doa kita terjawab,” ucap Bu Ajeng sambil memeluk putrinya erat. “Ibu bangga sekali sama kamu.” Pak Agus, yang biasanya kalem, ikut tersenyum bangga. Matanya berkaca-kaca. “Anak Ayah… cita-citamu selangkah lebih dekat. Jangan pernah lupa darimana kamu berasal, ya.” --- Seminggu kemudian Hari keberangkatan pun tiba. Arin akan diantar kedua orang tuanya menuju ibu kota, ke kos yang sudah ia pesan dekat kampus. “Huft… akhirnya sampai juga, Bu,” ucap Arin lega ketika mobil pick-up berhenti di depan rumah kos. “Iya, Nak. Ayo, kita lihat kamarnya dulu,” kata Bu Ajeng. Sementara Pak Agus berbincang dengan ibu kos, Arin sibuk membereskan barang-barangnya. Tak lama, ibunya mendekat. “Sudah selesai beres-beresnya, Rin?” “Sudah, Bu. Barang-barang sudah Arin taruh di lemari.” Bu Ajeng langsung memeluk putrinya erat. “Jaga dirimu baik-baik ya, Nduk. Ingat pesan Ibu. Jangan lupa makan, jangan sering keluar malam, dan fokus belajar.” “Iya, Bu… Arin janji.” Pak Agus menepuk pundak putrinya. “Nduk, Ayah percaya kamu bisa. Belajar yang rajin biar cepat lulus. Jangan khawatir soal biaya, Ayah dan Ibu akan usahakan.” Arin mengangguk, suaranya bergetar. “Iya, Yah. Arin janji akan jaga diri.” “Kalau begitu, Ayah dan Ibu pamit. Insyaallah, kalau sawah sudah panen, kita jenguk kamu.” “Iya, Yah… hati-hati di jalan. Jangan lupa kabarin kalau sudah sampai rumah, ya.” “Pasti, Nduk.” Pak Agus tersenyum sambil mengusap kepala putrinya. Dan di depan pintu kos sederhana itu, Arin melepas kedua orang tuanya dengan air mata haru. Ia tahu, hari itu adalah awal dari perjalanan panjang untuk meraih impiannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN