Seharian ini Arya benar-benar sibuk. Pagi tadi ia sudah dijadwalkan operasi di rumah sakit , lalu siang hingga sore harus menghadiri meeting dengan beberapa klien di kantor dan besok ia harus sudah mulai ngajar lagi di kampus. Rasanya otaknya nyaris meledak.
“Huft… hari ini melelahkan banget.” Arya mengusap wajahnya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Hening sejenak, pikirannya tiba-tiba melayang pada satu nama. Nayla…
“Ya ampun.” Ia menepuk jidatnya sendiri. “Kenapa bisa sampai lupa kalau gue udah punya istri?” gumamnya lirih. “Dia juga belum kabarin apa udah balik ke kota atau belum. Apa perlu gue telepon ya?”
Arya terdiam sebentar, lalu menunduk frustasi. “Astagaa… nomor teleponnya aja gue nggak punya! Gimana ceritanya gue cuma nyimpen nomor bapaknya doang? Arya, lo bego banget…”
Belum sempat melanjutkan omelannya, ponselnya berbunyi. Tiinggg… notifikasi pesan masuk.
Dari: Mama
> “Arya, malam ini pulang cepat ya. Mama mau kita makan malam bareng. Sudah lama kita nggak kumpul. Pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus datang. Titik.”
Arya menarik napas panjang. Mama kalau sudah pakai kata ‘titik’, artinya nggak bisa ditawar lagi.
“Iya, Mah. Arya bentar lagi pulang,” balasnya cepat.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kembali penuh oleh sosok Nayla. Gimana caranya ketemu dia, ya? Apa gue langsung samperin ke kampusnya aja?
Mobil Arya berhenti tepat di depan rumah. Saat turun, pandangannya tertumbuk pada seorang gadis yang baru neak dari motor online dan berjalan keluar dari gerbang rumahnya.
Arya tertegun. Punggung itu… terasa begitu familiar.
Kayaknya gue pernah lihat…
---
Ruang makan keluarga malam itu terasa hangat. Mama tersenyum puas melihat Arya akhirnya bisa pulang lebih cepat. Papa duduk di sebelahnya, sementara Adel—adik bungsu Arya—sibuk menata piringnya sendiri.
“Mama senang banget akhirnya kita bisa kumpul kayak gini lagi,” ucap Mama sambil menatap anaknya satu per satu.
Arya tersenyum kecil. “Iya, Ma. Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk dan pulang malam terus .”
“Kerja terus, kerja terus.” Papa menggeleng pelan. “Kalau bukan dipaksa Mama, pasti kamu nggak pulang juga, ya?”
Arya hanya nyengir, memilih diam.
Di tengah suasana makan malam itu, Adel tiba-tiba bersuara riang.
“Oh iya, Kak, aku sekarang punya guru les baru loh.”
Arya menoleh sekilas. “Guru les? Bukannya kamu udah lama nggak pakai guru les?” apa yang ini cocok Del?"
“Iya, kan dulu ga cocok guru les nya.yang ini cocok donk ka karena yang ini beda, seru banget ngajarnya. Enak, nggak bikin tegang. Namanya..... ka Nayla” cantik loh ka nay...
Arya yang sedang meneguk air mineral langsung terbatuk pelan. “Eh—siapa tadi?”
“Nayla,” jawab Adel santai sambil menyendok nasi. “Dia mahasiswa kedokteran. Pintar banget. Aku jadi semangat belajar gara-gara ka Nay.”
Arya terdiam. Jantungnya berdetak cepat, wajahnya berusaha tetap tenang di depan Mama dan Papa. Nayla…? Apa orang yang sama ?
Mama menoleh, heran melihat ekspresi Arya. “Kenapa, Ar? Kamu kenal?”
Arya buru-buru menggeleng. “Nggak… cuma namanya familiar aja.”
Mama ikut tersenyum. “Mama juga suka sama guru les Adel yang ini. Anak itu cantik, sopan, dan kelihatan pintar.”
Papa ikut menimpali, “Wah, kalau gitu kenalin dong nanti. Papa juga pengin tahu.”
Adel mengangguk antusias. “Iya, nanti deh, Pa, aku ajak Kak Nay makan malam di rumah biar kenal sama Papa. Soalnya aku seneng banget belajar sama dia. Orangnya asyik, gampang nyambung. Baru pertama ketemu aja udah klik banget.”
Mereka terus membicarakan tentang guru les Adel—tanpa ada yang tahu bahwa gadis yang sedang dipuji-puji itu adalah istri Arya sendiri.