Setelah resmi diterima menjadi pengajar les matematika, Nayla mendapat jadwal pertama untuk mengajar siswi SMA kelas sebelas bernama Adelia. Siang menjelang sore, ia berangkat bersama Caca. Nayla dibonceng di motor sahabatnya itu, karena kebetulan rumah tempat Caca juga memberi les tidak jauh dari lokasi Nayla.
Setibanya di rumah besar yang tertera di alamat, Nayla turun dan menghampiri satpam yang berjaga di depan.
“Assalamualaikum, Pak,” sapa Nayla sopan.
“Waalaikumsalam. Maaf, Neng cari siapa?”
“Betul ini rumah Ibu Safira, orang tua dari Adelia?”
“Iya, benar. Neng siapa, ya?”
“Saya Nayla, Pak. Saya diminta Ibu Safira datang untuk mengajar les Adelia.”
“Oh begitu. Silakan masuk, Neng. Sudah ditunggu nyonya.” Satpam itu lalu mengantarnya masuk.
Di ruang tamu yang megah, seorang pembantu rumah tangga menyambutnya.
“Silakan duduk dulu, Neng. Saya panggil nyonya dulu.”
“Iya, Mbok. Terima kasih,” jawab Nayla sopan, sembari menatap sekeliling. Duh… rumahnya besar sekali, batinnya kagum.
Tak lama kemudian, seorang wanita anggun muncul.
“Assalamualaikum,” ucap Nayla sambil berdiri.
“Waalaikumsalam. Oh, kamu Nayla, ya? Yang Bu Erika bilang akan membantu Adelia belajar matematika?”
“Iya, Tante. Saya Nayla,” jawabnya tersenyum.
Wanita itu tersenyum balik. “Kamu cantik sekali, Nak. Umurnya berapa?”
“Umur saya dua puluh tahun, Tante.”
“Masih muda sekali, berarti masih kuliah, ya?”
“Iya, Tante. Saya baru masuk semester tiga.”
“Kuliah di mana, kalau boleh tahu?”
“Di Universitas Bangsa, jurusan kedokteran.”
“Wah, calon dokter ternyata. Sama seperti anak pertama Tante, dia juga dokter. Tapi sibuk sekali, jarang pulang, bahkan punya pacar pun belum. Kadang Tante sedih kalau ingat itu… eh, kok Tante jadi curhat, ya. Maaf, Nayla.”
Nayla tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, Tante.”
Ibu ini ramah sekali… sepertinya orangnya baik, gumam Nayla dalam hati.
Tak lama, Bu Safira memanggil anaknya. “Del, sini sebentar. Kenalan dulu sama tutor barumu.”
Adelia muncul dengan wajah penasaran. “Ini siapa, Mah?”
“Ini Nayla, yang akan bantu kamu belajar matematika.”
“Ohh, halo Kak. Salam kenal, aku Adelia.”
“Halo juga, aku Nayla. Salam kenal ya, Adel.”
“Kalau begitu, kalian bisa mulai belajarnya di gazebo. Nanti biar Mbok bawakan minum dan camilan,” ucap Bu Safira. “Nayla, tolong bantu Adel, ya. Dia kurang suka matematika dan sering tidak cocok sama guru-guru sebelumnya. Tante berharap kali ini bisa cocok.”
“Baik, Tante. Saya akan berusaha membantu Adel supaya lebih paham,” jawab Nayla mantap.
“Ka, dua puluh tiga persen dari dua ratus ribu itu berapa, ya? Ada cara gampangnya nggak?” tanya Adelia dengan wajah penasaran.
Nayla tersenyum. “Oke, aku jelasin konsepnya dulu, Del. Jadi, dua puluh tiga persen itu artinya dua puluh tiga per seratus. Nah, tinggal dikaliin sama dua ratus ribu. Karena ini perkalian, nol-nolnya bisa kita coret. Nol satu di bawah, terus dua nol di atas, hilang. Jadi tinggal dua puluh tiga kali dua. Hasilnya empat puluh enam. Tambahin lagi nolnya tiga, jadinya empat puluh enam ribu. Paham kan? Jadi gitu konsepnya.”
Adelia mengangguk cepat, matanya berbinar. “Wah, iya! Lebih gampang kalau Kakak yang jelasin. Aku jadi ngerti, deh. Matematika ternyata bisa enak juga kalau belajarnya sama Kak Nay.”
Nayla terkekeh pelan. “Syukurlah kalau kamu jadi lebih ngerti. Oke, Del, bab selanjutnya kita lanjut lusa aja ya. Sekarang udah mau magrib, Kakak pamit pulang dulu.”
“Yaah, cepet banget sih, Ka?” Adelia manyun sebentar lalu tersenyum lagi. “Tapi nggak apa-apa. Lusa ketemu lagi, kan? Jangan lupa datang, ya!”
“Siap, Dek. Pasti. Kebetulan abang ojek Kakak udah nunggu di depan tuh,” jawab Nayla sambil meraih tasnya.
“Oke, Adel panggilin Mama dulu… Eh, itu Mama udah datang.”
Safira menghampiri dengan wajah ramah. “Loh, udah mau pulang toh, Nay?”
“Iya, Tante. Soalnya udah mau magrib, Nay juga udah pesan ojek. Abangnya nunggu di depan.”
Safira menghela napas kecil. “Sayang banget, padahal Tante mau ajak kamu makan malam bareng.”
Nayla tersenyum sopan. “Makasih banyak, Tante. Lain kali ya, soalnya besok pagi Nay ada kegiatan di kampus. Jadi harus pulang cepat.”
“Ya sudah, kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Nay. Hati-hati di jalan,” ucap Safira hangat.
“Kalau begitu Nay pamit dulu ya, Tante. Del… Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Safira.
“Eh, tunggu Ka!” Adelia buru-buru menghampiri Nayla sambil membawa ponselnya. “Kak Nay, boleh minta nomor HP-nya nggak? Jadi kalau Adel mau tanya-tanya matematika, bisa langsung chat atau telepon Kakak.”
Nayla tersenyum sambil mengulurkan ponselnya. “Boleh dong. Nih, save aja nomornya.”
“Udah, Ka! Makasih banyak ya. Adel seneng banget belajar sama Kakak.”
“Sama-sama, Del.” Nayla melambaikan tangan, lalu melangkah keluar rumah dengan senyum kecil di wajahnya.
Sesampainya nayla di kos berbarengan dengan caca yang juga baru tiba.
“Gimana, Nay? Cocok nggak sama murid barumu?” tanya Caca begitu Nayla mendekat.
Nayla tertawa kecil. “Alhamdulillah, cocok, Ca. Adel anaknya asik, meski awalnya agak malas. Tapi pas ngerti, dia malah lebih semangat.”
“Wah, bagus dong. Berarti nggak sia-sia loe gue rekomendasiin ke Bu Erika,” jawab Caca bangga.
“Eh, Nay,” Caca kembali bersuara, “rumahnya gede banget, ya? Loe sempet mikir nggak sih , kayak lagi masuk drama Korea gitu?”
Nayla langsung ngakak. “Bener banget, Ca. Tadi gue aja sempet bengong pas duduk di ruang tamu. Megah banget rumahnya. Sampai bilang dalam hati, duh ini rumah apa istana?”
Caca ikut tertawa. “Nah, kan. Hati-hati loe Nay, jangan-jangan nanti bukan cuma ngajarin muridnya, tapi sekalian nyangkut di keluarganya. Siapa tau…tuh Adel punya kaka cowok ganteng”
“Hei, Ca!” Nayla mencubit pelan lengan sahabatnya. “Mulut loe itu lho, jangan ngawur.”
“Hahaha… becanda, Nay. Tapi serius, loe kan cantik, pinter, ramah lagi. Nggak menutup kemungkinan ada yang naksir.”
Nayla hanya menggeleng sambil tersenyum malu. Ia memilih masuk ke kamar kostnya, tak ingin menanggapi lebih jauh.
---
Malam itu, sebelum tidur, Nayla duduk di tepi ranjang dengan buku catatan kecil di pangkuannya. Ia menuliskan rencana belajar untuk Adelia lusa nanti—materi yang harus dipelajari, target yang harus dicapai, dan catatan kecil untuk metode mengajar.
Senyum tipis menghiasi wajahnya. Ada rasa lega sekaligus antusias. Pekerjaan baru ini bukan hanya sekadar tambahan pengalaman, tapi juga seolah membuka babak baru dalam hidupnya.
Namun, begitu pena berhenti bergerak, pikirannya beralih ke satu sosok. Mas Arya… gimana kabarnya ya? Apa dia masih inget sama aku, atau malah sudah lupa?
Nayla menghela napas panjang. Astaga, Nay… kamu bahkan lupa minta nomor HP dia. Gimana bisa?
Ia menggigit bibir pelan, hatinya sedikit perih. Kalau dia ternyata udah punya wanita lain gimana? Apa aku siap kalau memang begitu?
Lalu ia menutup matanya, berusaha menenangkan hati.
Kalau iya… ya sudah. Nay harus rela melepas, mungkin belum jodoh. Toh sejak awal, Nay punya cita-cita sendiri yang harus dikejar. Jadi jangan sampai hancur gara-gara perasaan.
Ia menutup bukunya, meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur. Dengan sisa senyum yang rapuh, Nayla berbaring dan menarik selimut. Malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri: apapun yang terjadi dengannya dan Arya, ia tak akan berhenti melangkah menuju mimpinya.