Setelah sarapan bersama kedua orang tua nayla, dan berbincang dengan nayla dan kedua orang tua nya. Arya akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota. Sebenarnya ia sempat mengajak Nayla ikut bersamanya, namun gadis itu menolak. Liburnya masih tersisa dua hari lagi, dan Nayla ingin menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Ia sadar, liburan semester berikutnya mungkin belum tentu bisa pulang karena kesibukan kampus semakin padat—apalagi sekarang ia sudah masuk semester tiga.
“Baiklah,” ucap Arya lembut. “Aku tunggu kamu di kota. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai, ya.”
Nayla hanya mengangguk pelan.
“Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak, Bu.”
“Silakan, Nak Arya. Hati-hati di jalan,” jawab ayah dan ibu Nayla hampir bersamaan.
---
Sesampainya di kota, Arya langsung pulang ke rumah keluarga besarnya. Ia tiba larut malam, saat semua orang sudah terlelap. Tanpa banyak suara, ia masuk ke kamarnya, membersihkan diri, lalu merebahkan tubuh di atas ranjang.
Namun hingga tengah malam, matanya tak kunjung terpejam. Bayangan saat ia tak sengaja memeluk dan mencium Nayla terus menghantui pikirannya. Ia harus mengakui, Nayla memang cantik—bahkan sangat cantik. Ciuman itu masih membekas begitu jelas, membuat Arya menggelengkan kepala berulang kali, berusaha mengusir pikiran yang membuatnya gelisah. Sampai akhirnya, ia benar-benar terlelap.
---
“Pagi, Sayang. Semalam kamu pulang larut sekali, ya?” suara lembut sang mama terdengar dari meja makan.
“Iya, Mah. Arya sampai rumah sudah sangat malam,” jawabnya sambil menarik kursi.
“Oh iya, gimana liburanmu di desa? Kok cuma dua hari? Revan bilang kamu izin seminggu.”
Belum sempat Arya menjawab, sang papa sudah menyahut, “Mama ini… jangan tanya begitu. Bagus malah cuma dua hari, kan kerjaan di rumah sakit sudah menunggu.”
Arya tersenyum tipis. “Iya, Mah. Liburan dua hari cukup. Setelah ini jadwal operasi sudah menanti.”
“Pagi, Pah. Pagi, Mah,” sapanya ramah.
“Pagi juga, Sayang,” jawab kedua orang tuanya serentak.
Tak lama, terdengar suara riang adiknya, Adel. “Eh, ada Mas Arya yang ganteng nongol juga pagi-pagi. Gimana liburannya di desa? Seru nggak? Mas ketemu gadis desa cantik nggak, di sana?”
Arya melotot kecil. “Kamu ini, Dek… pagi-pagi sudah nanyanya aneh-aneh aja.”
“Udah, Adel. Cepat sarapan, nanti telat sekolah,” potong mamanya.
“Huuu… Ka Arya mah gitu, jawabnya pelit. Padahal siapa tahu sebentar lagi aku punya kakak ipar. Terus aku bisa gendong ponakan. Hehehe.”
“Adel!” seru mamanya. “Cepat makan, lihat tuh jam berapa sekarang!”
“Iya, Mah…” sahut Adel cemberut.
Setelah itu, sang papa berdeham. “Arya, nanti siang temui Papa di kantor. Ada yang mau Papa bahas.”
“Iya, Pah. Nanti siang Arya ke sana.”
Usai sarapan, Arya bersiap berangkat. “Mah, Pah, Arya pamit dulu. Pagi ini ada kelas mengajar. Ayo, Dek, bareng Mas. Sekalian Mas antar ke sekolah.”
“Yee asyik! Diantar Mas. Tambah uang sakunya juga ya, Mas?”
Arya terkekeh. “Kamu ini, Dek…”
---
Sementara itu, Nayla masih berada di rumah orang tuanya. Pagi itu ia mendapat telepon dari sahabatnya, Caca. Setelah berpamitan dengan ayah dan ibunya, Nayla pun bersiap kembali ke kota.
“Kenapa mendadak sekali, Rin?” tanya ibunya heran.
“Maaf, Bu. Arin belum sempat cerita. Kemarin Arin dapat tawaran mengajar les anak-anak sekolah. Lumayan, Bu, buat nambah uang saku di kota.”
Ayahnya menatap lembut. “Apa uang kiriman Ayah kurang, Nak?”
“Tidak, Yah. Uang dari Ayah sangat cukup. Arin hanya ingin membantu anak-anak belajar. Kebetulan bidang Arin matematika, jadi pas ada waktu senggang, bisa sekalian ngajar.”
Ayahnya menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah. Ayah tidak keberatan. Tapi ingat, jangan sampai sakit. Dan jangan lupa, kamu sekarang bukan hanya hidup untuk dirimu sendiri. Kamu sudah punya tanggung jawab sebagai istri. Jadi mintalah izin pada suamimu dulu.”
“Iya, Yah. Arin akan ingat pesan Ayah dan Ibu. Terima kasih.”
---
“Akhirnya lo sampai juga, Nay! Gue nunggu dari tadi, tahu nggak?” ucap Caca saat Nayla tiba di terminal.
“Maaf ya, Ca. Tadi busnya sempat berhenti lama karena bannya bermasalah.”
“Ya udah, yang penting lo selamat. Yuk, mumpung masih siang, kita ke tempat Bu Erika. Gue kenalin lo sama dia. Biasanya orang tua murid cari guru les lewat dia.”
“Boleh. Eh, tapi lo udah makan siang, belum?”
“Belum sih, tapi gue juga belum lapar. Kita ke Bu Erika dulu aja, baru habis itu makan.”
“Setuju. Yuk, cuzzz jalan.”
Sampai di rumah Bu Erika, Caca langsung memperkenalkan Nayla. Setelah wawancara singkat, Bu Erika tertarik karena kemampuan Nayla di bidang matematika. Kebetulan ada orang tua murid yang sedang mencari guru les untuk anaknya. Akhirnya, Nayla pun diterima dan diminta mulai mengajar dalam waktu dekat.