Malam itu, halaman rumah Pak Agus dipenuhi warga desa. Lampu-lampu petromak dipasang, menyorot wajah-wajah penasaran. Suara bisik-bisik terdengar di mana-mana, sebagian penuh amarah, sebagian lagi hanya ingin tahu.
Pak Agus menatap Arya dengan sorot mata serius namun tetap tenang.
“Nak Arya… sebelumnya, boleh Bapak bertanya sesuatu?” suaranya terdengar hati-hati.
Arya menegakkan tubuhnya. “Silakan, Pak,” jawabnya sopan.
Pak Agus menghela napas sejenak sebelum bertanya, “Apa Nak Arya sudah berkeluarga? Atau… sudah memiliki pendamping?”
Arya menggeleng pelan. “Tidak, Pak. Saya masih sendiri. Belum ada pendamping.”
Pak Agus mengangguk mantap, meski wajahnya terlihat berat. “Baiklah… kalau begitu, akad nikah bisa kita laksanakan.
Akad nikah diadakan di rumah pak Agus sekaligus orang tua nayla, pernikahan tanpa pesta ini di laksanakan dengan wali nikah ayah nayla sendiri dan di hadiri juga oleh tetangga dan warga desa setempat
Di dalam kamar, Nayla terduduk lemas di sisi ranjang. Air matanya tak berhenti mengalir. Bu Ajeng, ibunya, menggenggam tangan putrinya erat.
“Sudah, Nduk… ikhlaskan. Anggap saja ini sudah kehendak Allah,” bisiknya, meski matanya sendiri basah.
“Ibu…” suara Nayla bergetar. “Arin belum siap, Bu. Semua terasa begitu cepat…”
Bu Ajeng menepuk bahunya lembut. “Ibu tahu. Tapi ini jalan yang harus kita tempuh, Nduk. Percayalah, Allah akan beri hikmah di balik semuanya.”
Sementara itu, Arya duduk bersila di ruang tamu, berhadapan dengan penghulu dan para saksi. Jantungnya berdetak kencang. Ia terbiasa menghadapi meja operasi dengan penuh konsentrasi, tapi kali ini berbeda. Keringat dingin membasahi pelipisnya
“Bagaimana, Nak Arya, sudah siap?” tanya penghulu dengan suara mantap.
Arya menarik napas panjang, lalu menatap ke arah Pak Agus yang duduk di hadapannya. “InsyaAllah, saya siap.”
Suasana pun semakin hening. Semua mata tertuju pada Arya dan Pak Agus. Beberapa warga berbisik pelan, sementara di dalam kamar, Nayla terdengar terisak, menambah ketegangan di ruangan itu.
“Baiklah, mari kita mulai akad nikah ini. Saudara Agus Bhaihaqi, sebagai wali, silakan.”
Pak Agus menarik napas panjang. Tangannya sedikit bergetar saat menggenggam tangan Arya.
Dengan suara bergetar tapi jelas ia mengucapkan,
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Arya Mahendra Pratama bin Surya Mahendra, dengan anak kandung saya, Nayla Arindya Prameswari binti Agus Bhaihaqi, dengan mas kawin uang tunai sebesar dua juta rupiah, dibayar tunai.”
Arya menahan napas, lalu membalas dengan suara tenang namun berat:
“Bismillahirrahmanirrahim. “Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Arindya Prameswari binti Agus Bhaihaqi, untuk saya, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
“Bagaimana para saksi?” tanya penghulu.
“Sah,” jawab kedua saksi serentak.
Sejenak hening, lalu ucapan syukur mengalir dari beberapa orang.
Arya juga entah kenapa merasa lega karena mengucapkan ijab kabul hanya dalam sekali dengan lancar dan dengan satu tarikan nafas.
Sementara itu, di dalam kamar, Nayla menangis di pelukan ibunya. Kini, ia resmi menjadi istri seorang pria yang bahkan baru ia kenal.
--
Setelah sah, suasana rumah pak Agus kembali sepi. Para saksi dan tetangga mulai berpamitan meninggalkan kediaman Pak Agus. Di ruang tamu, Arya, Nayla, dan orang tua Nayla duduk berhadapan.
Pak Agus menatap Arya dengan sorot mata penuh rasa bersalah. Ia menghela napas berat sebelum berkata,
“Nak Arya… sekali lagi Bapak ucapkan terima kasih. Bapak tahu, keputusan ini begitu mendadak dan berat untukmu. Bapak minta maaf… karena semua terjadi di luar rencana. Seharusnya liburanmu tidak berubah jadi seperti ini.”
Arya menatap Pak Agus dengan tenang. Senyum tipis terlukis di wajahnya.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah ikhlas menerima semua ini. Saya anggap ini sebagai takdir yang Allah atur untuk saya. InsyaAllah, saya akan bertanggung jawab.”
Bu Ajeng yang sedari tadi menggenggam tangan Nayla menahan isak. Sementara Nayla sendiri hanya menunduk, matanya sembab, bibirnya bergetar namun tak sanggup berkata apa-apa.
Arya melanjutkan dengan suara mantap,
“Untuk dokumen kelengkapan nikah, nanti akan saya urus setelah kembali ke kota. Dan… mengenai Nayla, saya akan mencari tempat tinggal yang layak. Untuk sementara, mungkin ia bisa ikut saya tinggal di apartemen, sampai saya mendapat waktu untuk menjelaskan semua ini kepada orang tua saya.”
Semoga Bapak dan Ibu mengerti kondisi saya saat ini.
“Baiklah, Nak. Bapak mengerti,” jawab Pak Agus.
Nayla cepat menunduk. “Maaf, Mas… kalau untuk tempat tinggal, mungkin Nayla tetap di kost dulu saja. Kost Nayla dekat kampus, jadi lebih praktis. Suaranya lirih.
“Boleh saya bicara sebentar berdua dengan Nayla, Pak?” pinta Arya pada Pak Agus.
“Silakan, Nak. Ini juga sudah malam Ayah dan Ibu pamit ke kamar untuk istirahat ” jawab Pak Agus. Ia menatap putrinya, lalu berkata lembut, “Nduk, dia sekarang suamimu. Hormati dia seperti kamu menghormati ayah, ya.”
“Iya, Yah,” jawab Nayla singkat.
Setelah orang tua Nayla pergi, ruang tamu yang semula ramai berubah hening. Hanya tersisa mereka berdua. Entah apa yang berkecamuk di pikiran mereka masing-masing.
Arya membuka pembicaraan, suaranya pelan dan hati-hati. “Ehm… boleh saya tanya sesuatu, Dek?”
Nayla mengangguk. “Silakan, Mas.”
“Aku akan mencoba menerima keadaan ini. Mari kita saling terbuka. Soal perasaan — maaf, aku belum bisa menjanjikan apa-apa sekarang. Tapi aku berjanji akan berusaha membuka hati untukmu, Nayla. Nah, bagaimana denganmu?”
Nayla menahan jeda panjang, menarik napas dalam. “Pertama, aku ingin berterima kasih karena mas menolongku kemarin. Entah bagaimana jadinya kalau mas tak datang. Kedua, maafkan aku kalau keadaan ini membuatmu terkena masalah. Aku merasa bersalah.”
Ia menunduk, jari-jarinya meremas ujung kain. “Aku akan mencoba menjalani semua ini. Tapi tolong izinkan aku melakukan kegiatan seperti biasa sampai aku benar-benar siap. Semester depan waktuku mungkin akan banyak tersita di kampus. Kalau mas mengerti, aku… akan berusaha.”
Arya menatap wajah Nayla yang tulus. Perlahan raut lelahnya melunak. “Baik. Aku mengerti. Aku juga akan bertanggung jawab. Bagaimanapun, sekarang kamu sudah menjadi istriku. Aku akan menjaga dan mendukungmu.”
Arya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan larut malam. Ia menarik napas perlahan sebelum berkata,
“Istirahatlah. Sudah malam sekali. Aku tidur di kursi saja malam ini.”
Nayla sontak mengangkat wajahnya. “Jangan, Mas… kursinya kecil. Nanti malah pegal.” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Arya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Lagipula, aku tidak ingin kamu merasa terbebani.”
Nayla sempat terdiam, lalu memberanikan diri berkata pelan,
“Lebih baik Mas istirahat di kamar ini saja. Biar Nay yang tidur di kamar Ayah dan Ibu.”