Pagi itu, di sebuah ruangan luas berlapis kaca, seorang CEO muda tampan duduk termenung. Jemarinya mengetuk meja, matanya menatap kosong pada tumpukan dokumen yang tak kunjung selesai.
“Penat banget hidup gue… kerjaan nggak ada habisnya. Belum lagi digangguin anak teman Papa yang centil itu,” gumamnya lirih.
Ia menekan tombol interkom.
“Revan, masuk ke ruangan saya.”
Tak lama, asistennya muncul dengan wajah ceria.
“Ada apa, Bos?”
“Van, mulai besok tolong handle semua kerjaan gue seminggu ke depan. Gue mau liburan. Sekalian kabur dari cewek aneh yang ngejar-ngejar gue itu. Kalau dia nanya, bilang aja gue lagi liburan ke Eropa.”
Revan nyengir. “Eropa? Serius, Bos? Memangnya kerjaan segunung ini siapa yang beresin?”
Arya mengangkat alis, pura-pura kesal.
“Lo nggak rela gue liburan, ya? Oke deh, gampang… gue potong bonus sama gaji lo bulan ini.”
“Ya ampun, Boss! Jangan gitu dong.” Revan langsung mengangkat tangan pasrah. “Oke, oke! Gue yang handle. Have fun aja liburan lo, Bos. Siapa tahu lo ketemu gadis desa terus nikah di sana, hahaha…”
“Sialan lo, Van!” Arya melempar pulpen ke arah asistennya yang kabur sambil ngakak.
---
Keesokan harinya, Arya benar-benar berangkat. Ia memilih menyetir sendiri menuju sebuah desa di pegunungan, sekitar lima jam perjalanan dari Jakarta. Meski macet, Arya merasa lega saat akhirnya udara segar dan hamparan sawah hijau menyambutnya.
Siang terik itu, ia berhenti di sebuah rumah makan sederhana untuk makan siang yang tertunda. Sambil menunggu pesanannya datang, pandangannya jatuh pada pemandangan desa yang tenang.
“Indah banget… kayaknya di sini gue bisa nenangin diri,” gumamnya.
Setelah makan, Arya kembali melanjutkan perjalanan mencari penginapan. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat keributan di pinggir jalan desa.
Seorang gadis berlari ketakutan, tangannya menenteng tas belanjaan yang sudah terjatuh berhamburan. Di belakangnya, beberapa pria berwajah kasar mengejarnya.
“Lepaskan dia!” suara Arya lantang menggema.
Para preman menoleh, menatap tajam. Bukannya mundur, mereka malah semakin agresif, berusaha meraih gadis itu dan merobek lengannya.
Arya bergerak cepat. Dengan kemampuan bela diri yang terlatih, ia melumpuhkan satu per satu preman. Namun, di tengah perkelahian, salah satu preman mendorong gadis itu hingga hampir terjatuh. Refleks, Arya meraih tubuhnya ke dalam pelukan, lalu menangkis pukulan terakhir sampai para preman kabur tunggang-langgang.
Ketika Arya dan gadis itu—Nayla—terjatuh bersama di tanah, nafas mereka terengah. Lengan baju Nayla robek, rambutnya berantakan. Saat mereka saling bertatapan, seorang warga lewat melihat kejadian itu.
Tak lama, teriakan membelah udara.
“Ya ampun! Mereka berbuat m***m!”
Orang-orang segera berdatangan. Beberapa mengenali Nayla.
“Itu kan Nayla Arindya, anaknya Pak Agus dan Bu Ajeng!”
“Ya Allah, Nay… apa yang kamu lakukan?! Mau mencoreng nama desa ini?”
Arya bangkit, mencoba menjelaskan.
“Tolong, jangan salah paham. Saya hanya menolong dia dari preman—”
“Tapi saya lihat kalian berpelukan!” seru seorang ibu dengan wajah sinis. “Lihat penampilan Nayla! Rambut acak-acakan, bajunya robek! Memalukan!”
“Tidak, Bu… Nayla nggak salah apa-apa…” Nayla terisak, suaranya pecah di tengah tangis.
Namun warga tak percaya. Suara-suara menuntut semakin keras.
“Arak saja mereka ke balai desa!”
“Biar kepala desa yang memutuskan!”
Arya tak bisa berbuat banyak, ia hanya menggenggam erat jaket yang tadi disampirkannya di bahu Nayla untuk menutupi keadaannya.
---
Di rumah Nayla, suasana semakin mencekam. Ayahnya, Pak Agus, terdiam dengan rahang mengeras menahan amarah. Ibunya menangis sambil memeluk Nayla erat.
Kepala desa menghela napas panjang, lalu menatap Arya dan Nayla.
“Untuk meredakan amarah warga, hanya ada satu jalan. Malam ini juga, Nayla dan pemuda kota ini… harus dinikahkan.”
Arya terkejut. “Apa?! Tidak… ini salah paham. Saya hanya—”
Tapi tatapan warga penuh kecurigaan, dan suara-suara menuntut terus menggema. Arya menunduk pasrah. Ia tahu, meski ia tak bersalah, keadaan sudah terlanjur memburuk.
Sementara Nayla hanya bisa menangis di pelukan ibunya, menolak takdir yang diputuskan tanpa sempat ia suarakan.