Kringgg!
Alarm meja di samping ranjang berbunyi nyaring. Arin menggeliat, lalu membuka matanya dengan malas.
“Huuu… sudah pagi aja. Cepet banget, ya. Ayo, Arin… semangat! Hari ini kuliah pertama, harus strong!” gumamnya sambil mengusap wajah di depan cermin.
Di depan gedung kuliah, Caca sudah menunggu dengan wajah ceria.
“Pagi, Nay!” sapanya riang.
“Pagi juga, Ca,” jawab Arin.
“Yuk, kita masuk kelas pertama. Semoga dosennya baik, ya. Jangan killer-killer amat, deh.” Caca terkikik sambil cengengesan.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang pria muda berpenampilan rapi masuk dan berdiri di depan kelas. Senyumnya hangat, membuat banyak mahasiswa berbisik-bisik dan tersipu malu.
“Halo semua, apa kabar? Perkenalkan, nama saya Rian Atmaja. Kalian bisa panggil saya Rian. Tahun ini saya akan mengajar kalian,” ucapnya tenang.
Caca menunduk mendekati Arin, berbisik dengan wajah jail.
“Duh, Nay… dosennya cakep banget. Kira-kira masih single apa udah sold out, ya?”
Arin nyengir. “Mana gue tau. Coba aja lo tanya, Ca. Siapa tau beruntung.”
“Apaan sih lo! Sialan, Nay!” Caca mencubit lengan temannya sambil terkekeh.
Suasana kelas berlangsung menyenangkan. Gaya mengajar Rian yang santai dan komunikatif membuat materi mudah dipahami. Arin dan Caca pun semakin semangat mengikuti perkuliahan.
---
Sementara itu…
Di sebuah kantor pusat, seorang CEO muda tengah sibuk dengan tumpukan dokumen. Wajahnya serius, kedua tangannya tak berhenti membalik halaman.
“Siang, Bos,” sapa seorang pria yang masuk ke ruangannya. Dialah Revan, asisten pribadi sang CEO.
“Ya, ada apa, Van?” tanya sang CEO tanpa mengangkat kepala.
“Sudah waktunya makan siang. Bos mau pesen makanan atau keluar sekalian?”
“Hm… pesenin aja deh. Lagi tanggung sama dokumen-dokumen ini. Lo tuh kasih kerjaan nggak kira-kira, Van,” sahutnya dengan nada setengah kesal.
Revan nyengir. “Hahaha, makanya Bos jangan kebanyakan izin. Dateng tiap hari, kan gue nggak kewalahan.”
“Kurang ajar lo! Gw potong gaji lo, baru tau rasa!”
“Eits, sabar Bos. Santai aja,” jawab Revan sambil terkekeh.
CEO itu akhirnya mendesah. “Udah, lo pesenin aja makan seperti biasa. Abis ini gue ke rumah sakit, ada jadwal operasi sore.”
“Siap, Bos. Gue pesen langsung sekarang.”
---
Dua Semester Berlalu
Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa, Arin sudah menyelesaikan dua semester kuliah. Kini masa libur tiba.
“Nay!” panggil Caca di koridor kampus.
“Ya, Ca? Kenapa?”
“Liburan besok lo balik kampung apa nggak?”
Arin mengangguk mantap. “Balik dong. Kangen banget sama Ayah sama Ibu. Kalau lo gimana?”
“Sama. Gue juga balik, tapi cuma sebentar. Soalnya gue ada kerjaan ngajar les anak-anak sekolah.”
Arin tersenyum. “Asik tuh. Semester depan gue juga mau coba ngajar les, Ca. Lumayan buat tambahan uang jajan.”
“Oke deh. Ntar gue coba tanya temen gue ada lowongan nggak, ya.”
“Thanks, Ca.”
Hari itu mereka berpisah untuk sementara. Arin pulang dengan bus ke kampung halamannya, sementara Caca naik kereta menuju kotanya.
Di hati Arin, rasa rindu akan rumah semakin menguat. Liburan kali ini bukan sekadar melepas penat kuliah, tapi juga kembali ke pelukan Ayah dan Ibu yang selalu jadi semangatnya.