Dera memucat saat melihat pria itu memasuki ruang rawatnya. Marchel pergi meninggalkannya untuk bekerja sampai pukul lima nanti dan kini ia sendirian tanpa ada siapa pun. Pria itu melangkah berjalan mendekatinya. Senyum licik pria itu terukir di bibirnya dan langkahnya berhenti disisinya. Tatapannya terasa mengurung Dera dengan kedua mata tajamnya. Warna mata yang sama sepertinya. “Jika aku tahu kamu berbakat menjadi jalang, sudah dari lama aku mengirimmu ke barku untuk melayani pria-pria yang membutuhkan kehangatanmu.” Dera tak mengerti dengan ucapan Adrel. Dia berusaha untuk melepas kurungan pria itu di antara kasurnya. Namun, pria itu seakan tidak ingin melepaskannya. Kebencian Adrel padanya lebih besar dari sebuah puncak gunung sekali pun. Bahkan lebih panas dari sebuah letupan gunun

