Malam Pertama yang Dingin
Malam itu, kamar hotel suite tempat kami menginap begitu mewah. Lampu gantung kristal berkilauan, tirai tebal menutup rapat jendela, dan aroma bunga mawar memenuhi ruangan. Tapi, semua kemewahan itu tidak berarti apa-apa. Hatiku justru terasa kosong.
Aku duduk di tepi ranjang dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuh. Bahannya yang berat membuatku susah bernapas, tapi yang paling menyesakkan sebenarnya adalah suasana hening di antara kami berdua.
Nathan berdiri di depan kaca, melepas jas hitamnya dengan tenang. Gerakannya teratur, seakan semuanya sudah dihitung dengan sempurna. Lalu ia membuka dasi, menggulung lengan kemejanya, memperlihatkan lengannya yang berotot. Semua itu membuatnya terlihat semakin berwibawa—namun juga semakin dingin.
“Kalau kau lelah, tidurlah di ranjang. Aku akan tidur di sofa,” katanya tanpa menoleh sedikit pun.
Aku menelan ludah. Hanya itu? Tidak ada sepatah kata pun yang manis, tidak ada perhatian, tidak ada sambutan hangat seperti yang seharusnya diberikan seorang suami kepada istrinya di malam pertama.
“Nathan…” suaraku lirih, nyaris hilang ditelan sunyi. “Kenapa kau begitu dingin padaku? Kita baru saja menikah, setidaknya bersikaplah sedikit lebih hangat.”
Dia menghentikan gerakannya, lalu menatapku lewat pantulan cermin. Tatapan itu dingin, menusuk, seakan tidak ingin aku berada di sana.
“Kau masih belum mengerti, ya? Aku menikahimu bukan karena mau, tapi karena keadaan. Jadi jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu lebih dari sekadar kewajiban.”
Dadaku sesak mendengar kata-kata itu. Rasanya seperti ditusuk belati.
“Kalau begitu… kenapa kau setuju menikah denganku?” tanyaku berani, meski suaraku bergetar.
Dia berbalik, menatapku langsung.
“Karena perusahaan keluargaku dan keluargamu membutuhkan ini. Tidak lebih.”
Seketika, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan wajahku. Tapi Nathan sempat melihat.
“Jangan menangis di depanku,” katanya tajam. “Aku tidak suka drama perempuan. Kalau kau ingin menangis, lakukan sendiri tanpa aku tahu.”
Aku terdiam, tubuhku bergetar menahan tangis. Aku tahu dia keras, tapi tidak pernah kusangka akan sekejam itu.
“Aku tidak minta dicintai, Nathan,” kataku akhirnya, berusaha terdengar tegar meski suaraku pecah. “Aku hanya minta dihargai.”
Nathan menghela napas berat, lalu berjalan menuju sofa. Dia merebahkan tubuhnya di sana, membelakangiku, tanpa menanggapi lagi. Seolah-olah keberadaanku sama sekali tidak berarti.
Aku duduk di ranjang cukup lama, mencoba menenangkan diri. Lalu perlahan aku berdiri, melepaskan gaun pengantin itu dengan susah payah. Tubuhku lelah, mataku sembab, tapi aku berusaha bertahan. Setelah berganti pakaian tidur, aku akhirnya berbaring di ranjang besar yang sepi.
Kupejamkan mata, memeluk diriku sendiri. Tapi rasa dingin itu tidak hilang.
Malam pertama yang seharusnya menjadi awal indah, justru terasa seperti penjara. Aku sadar, pernikahan ini bukan tentang cinta. Ini hanyalah kontrak dingin yang mengikat dua orang asing.
Sebelum terlelap, aku berbisik dalam hati:
Seberapa lama aku bisa bertahan hidup dengan pria ini? Seberapa lama aku bisa kuat menghadapi sikapnya yang dingin?
Air mata terakhir menetes di pipiku, lalu aku pun tertidur dalam kesepian.
Aku tidak bisa tidur. Meski mataku terpejam, pikiranku terus berputar. Suara napas Nathan terdengar teratur dari sofa, tanda dia mungkin sudah terlelap. Anehnya, justru suara itu membuatku semakin gelisah.
Aku berbalik, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran mewah. Dalam hati, aku bertanya-tanya: Apakah hidupku akan selalu seperti ini? Tidur sendirian di ranjang besar, sementara suamiku memilih sofa?
Rasanya terlalu pahit.
Aku bangkit perlahan, melangkah mendekati jendela besar. Aku menarik sedikit tirainya, menatap lampu kota Jakarta yang masih berkelip meski sudah lewat tengah malam. Dari sini, semuanya terlihat indah, tapi hidupku sendiri hampa.
Tiba-tiba suara Nathan terdengar.
“Kau tidak tidur?”
Aku terlonjak. Kupikir dia sudah benar-benar tertidur. Perlahan aku menoleh, mendapati tatapannya yang dingin dari sofa. Bahkan dalam cahaya redup, mata itu tampak begitu menusuk.
“Aku tidak bisa tidur,” jawabku jujur. “Aku… masih tidak percaya ini nyata.”
Nathan bangkit dari sofanya, berdiri tegak dengan kemeja putih yang sudah sedikit kusut. Dia berjalan ke arahku, langkahnya tenang tapi penuh wibawa. Jantungku berdegup kencang tanpa kendali.
“Apa yang kau harapkan, Alisha?” tanyanya datar. “Bahwa pernikahan ini akan membuatmu bahagia? Bahwa aku akan jatuh cinta padamu hanya karena kita sudah mengucapkan janji suci?”
Aku terdiam. Kata-katanya memang pedih, tapi ada kebenaran di dalamnya. Aku pun tidak pernah berharap dia akan jatuh cinta padaku dalam semalam. Namun, aku tetap ingin ada sedikit kehangatan.
“Aku hanya ingin… kita tidak saling menyakiti,” jawabku akhirnya dengan suara lirih.
Nathan menatapku lama, seakan menilai setiap kata yang kuucapkan. Lalu dia mendekat, berdiri tepat di hadapanku. Tinggi tubuhnya membuatku harus mendongak. Jarak kami begitu dekat, tapi anehnya terasa begitu jauh.
“Kau tidak akan kusakiti, selama kau tahu tempatmu,” ucapnya pelan tapi tegas.
Aku tercekat. Kata-kata itu membuatku sadar: dia memang tidak berniat jahat, tapi jelas dia menegaskan batas. Aku tidak boleh berharap lebih darinya.
Setelah itu, Nathan kembali ke sofa tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku menarik napas panjang, lalu kembali ke ranjang. Kali ini aku benar-benar mencoba tidur, meski air mata terus mengalir diam-diam.
Malam itu, aku belajar satu hal: mencintai Nathan mungkin akan menjadi hal tersulit dalam hidupku, tapi membenci suamiku sendiri juga bukan pilihan.
Aku hanya bisa menunggu… entah sampai kapan.
Waktu berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti menit, setiap menit terasa seperti jam. Aku membalikkan badan berkali-kali di ranjang, tapi rasa kantuk tak kunjung datang.
Entah karena terlalu lelah, terlalu tegang, atau karena tatapan dingin Nathan masih terpatri jelas dalam ingatanku.
Akhirnya, entah pukul berapa, aku terlelap. Tapi tidurnya tidak nyenyak. Bayangan wajah Papa muncul dalam mimpiku, dengan ekspresi lelah yang selama ini berusaha dia sembunyikan.
“Alisha… maafkan Papa, Nak. Papa tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”
Aku terbangun dengan keringat dingin. Nafasku tersengal, d**a terasa sesak. Aku menegakkan tubuh, memeluk lututku, berusaha menenangkan diri.
“Kenapa? Kau mimpi buruk?”
Suara berat itu membuatku menoleh. Nathan duduk di sofa, menatapku dengan mata yang setengah terbuka. Rupanya dia belum benar-benar tidur.
Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Hanya mimpi…” jawabku singkat.
Nathan tidak berkata apa-apa. Tapi aku melihat gerakan kecil: dia meraih botol air mineral di meja dan meletakkannya di nakas dekat ranjang.
“Minum. Kau terlihat pucat.”
Aku menatapnya, agak terkejut. Itu pertama kalinya dia menunjukkan sedikit perhatian, meski ucapannya tetap datar. Perlahan aku meraih botol itu, meminumnya, lalu menggumam lirih,
“Terima kasih.”
Tidak ada jawaban. Nathan kembali berbaring di sofa, membelakangiku. Namun entah kenapa, hatiku sedikit lebih ringan.
Aku merebahkan tubuh lagi di ranjang, kali ini dengan pikiran yang lebih tenang. Meski dingin, setidaknya dia tidak sepenuhnya mengabaikanku. Ada secuil sisi manusia di balik sikap arogan itu.
Sebelum mataku benar-benar terpejam, aku sempat berbisik dalam hati:
Mungkin… masih ada harapan. Entah kecil atau besar, aku tidak tahu. Tapi mungkin, Nathan tidak seburuk yang kubayangkan.
Namun, jauh di lubuk hati, aku juga sadar—perjalanan pernikahan ini baru saja dimulai. Dan jalannya tidak akan mudah.
Aku akhirnya bisa kembali memejamkan mata, tapi tidurku tetap tidak nyenyak. Setiap kali aku terbangun, aku selalu mendengar suara jam dinding berdetak pelan, mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan.
Sekitar pukul tiga dini hari, aku kembali membuka mata. Ranjang ini luas dan empuk, tapi dingin sekali. Selimut tebal pun tak mampu menghangatkan tubuhku. Mungkin karena aku terlalu terbiasa tidur ditemani suara Mama atau Papa di rumah.
Aku menoleh sekilas ke arah sofa. Nathan masih di sana, berbaring dengan satu lengan menutupi mata. Nafasnya berat, entah tidur atau pura-pura tidur.
Dalam hati, aku bergumam lirih, Apa dia benar-benar tidak merasa kasihan padaku? Bahkan sekadar menanyakan keadaanku pun tidak?
Aku menarik selimut, bangkit perlahan, lalu duduk di meja kecil dekat jendela. Dari situ, aku bisa melihat cahaya lampu kota yang mulai meredup, tanda dini hari segera berganti pagi.
Aku membuka ponselku, menatap layar yang penuh notifikasi ucapan selamat dari teman-teman dan kerabat.
“Selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia selalu.”
“Kalian pasangan serasi sekali!”
Aku tertawa getir membaca semua pesan itu. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tahu betapa kosongnya hatiku sekarang.
“Kenapa kau tidak tidur?”
Suara Nathan lagi. Kali ini lebih serak, mungkin karena baru bangun. Aku menoleh, melihatnya duduk di sofa sambil mengusap wajah.
Aku ragu menjawab, tapi akhirnya berkata pelan, “Aku… tidak terbiasa tidur sendirian.”
Ada jeda. Dia menatapku lama, seakan menimbang sesuatu. Aku pikir dia akan mengabaikanku lagi. Namun tiba-tiba, dia bangkit dari sofa, lalu berjalan mendekat.
Aku spontan menegakkan tubuh, jantungku berdegup kencang.
Dia berhenti tepat di depanku, lalu berkata singkat, “Kau tidur saja. Aku akan duduk di sini sampai kau benar-benar terlelap.”
Aku tertegun. Untuk pertama kalinya, dia melakukan sesuatu yang membuatku merasa… sedikit aman.
Tanpa banyak kata, aku kembali ke ranjang. Benar saja, hanya dengan tahu dia duduk tidak jauh dariku, rasa dingin itu mulai berkurang.
Mataku perlahan menutup. Sebelum aku benar-benar tertidur, aku mendengar suara Nathan yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan,
“Jangan salah sangka. Aku hanya tidak mau kau terlihat pucat besok di depan orang tua kita.”
Meskipun ucapannya dingin, aku bisa merasakan sedikit ketulusan yang ia sembunyikan.
Dan malam pertama itu akhirnya berakhir dengan aku tertidur lebih tenang, ditemani siluet seorang pria yang masih menjadi asing bagiku, tapi kini tidak terasa sejauh sebelumnya.