pernikahan yang tak pernah kuinginkan
Hujan turun deras sore itu, membasahi jalanan kota yang selalu sibuk. Dari balik kaca mobil hitam yang mewah, aku hanya bisa menatap kosong ke luar jendela. Hatiku seakan ikut basah oleh hujan, dingin, dan berat.
Namaku Alisha Ardelia. Aku berusia 22 tahun, baru saja menyelesaikan kuliah, dan seharusnya aku bisa mengejar mimpiku bekerja sesuai passion-ku. Tapi semua itu runtuh begitu saja saat Papa memintaku menikah… bukan dengan lelaki yang kucinta, melainkan dengan seseorang yang sama sekali tidak kukenal.
“Alisha, Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Nathan adalah CEO muda yang sukses. Dia akan melindungimu,” kata Papa waktu itu, suaranya bergetar, seakan menyembunyikan sesuatu.
Aku tidak bodoh. Aku tahu pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan tentang bisnis. Perusahaan keluarga kami hampir bangkrut, dan satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan menjodohkanku dengan pewaris keluarga besar yang kaya raya.
Nathan Adrian Wijaya.
Nama itu terdengar begitu asing di telingaku, namun semua orang mengenalnya. CEO arogan, dingin, dan terkenal tidak pernah peduli pada perempuan. Gosip yang beredar mengatakan kalau dia pernah menolak lamaran kerja sama hanya karena tidak suka gaya bicara seseorang. Sombong, itulah julukan yang melekat padanya.
Hari ini, aku akan resmi menjadi istrinya.
Gaun pengantin putih melekat di tubuhku, beratnya hampir membuatku sulit bernapas. Di cermin, aku melihat diriku sendiri: seorang perempuan yang tersenyum pahit, mencoba terlihat tegar padahal jiwanya sudah hancur.
Saat pintu gereja terbuka, langkah kakiku terasa begitu berat. Semua mata tertuju padaku, tapi aku tidak peduli. Yang kutatap hanya satu sosok di ujung altar—pria tinggi dengan jas hitam sempurna, rahang tegas, tatapan dingin menusuk. Dialah Nathan, lelaki yang akan menjadi suamiku.
Dia berdiri tegak, wajahnya sama sekali tanpa ekspresi. Seolah-olah pernikahan ini bukan hal besar baginya, hanya formalitas semata.
Ketika aku sampai di sisinya, ia menoleh sekilas, lalu berbisik pelan,
“Mulai sekarang, kita hanya akan jadi suami-istri di atas kertas. Jangan pernah berharap lebih.”
Darahku berdesir. Hatiku semakin sakit. Tapi aku menggenggam buket bunga erat-erat, menahan air mata.
Dalam hati, aku berbisik:
Beginikah awal dari hidupku yang baru? Menjadi istri dari seorang CEO arogan yang bahkan tidak menginginkan aku?