"Karena sekarang Risa milik gue," sahut Revan, santai.
Setelah itu Revan menyeret paksa lengan Risa menuju motornya, mau tidak mau Risa harus meng-iyakan permintaan Revan.
"Gue duluan kak," ucap Risa pada Aldi yang masih berdiri mematung didepan kelas X-1.
Revan mengikatkan jaketnya di pinggang Risa. Untuk pertama kalinya dia melakukan hal itu.
"Lain kali kalo diajak Aldi pulang bareng, lo jangan mau. Disini ada gue, gue berasa gak dianggap aja kalo lo pulang sama dia," ucap Revan.
Risa mengangguk sambil mencerna ucapan Revan. Ini bukan pertama kalinya dia pulang dengan Revan, tapi entah kenapa kali ini ada sesuatu yang berbeda dihatinya setelah mendengar perkataan Revan pada Aldi tadi.
"Karena sekarang Risa milik gue," Risa hanya tersenyum ketika mengingat hal itu.
Revan mengernyitkan dahinya, "Ris, kenapa lo senyam-senyum gitu? Wah kesambet lo ya," celetuk Revan.
Risa mengerjapkan matanya, "Dih. Apaan sih lo," sahut Risa.
"Inget yang gue bilang tadi. Lo itu sahabat gue, gue merasa punya tanggung jawab yang besar buat lo, jangan pernah pulang sama siapapun kecuali sama gue, Ris." ucap Revan.
Risa mengangguk paham, "Iya deh iya, tumben banget lo perhatian gini," cibir Risa.
"Gak boleh?" tanya Revan dengan wajah datarnya
"Ya boleh-boleh aja sih," sahut Risa.
"Udah cepet naik," suruh Revan sambil menghidupkan mesin motornya.
Revan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dia sedang membawa sahabat sekaligus cewek yang disukainya kan? Jadi dia tidak perlu kebut-kebutan jika tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Revan menarik dan melingkarkan tangan Risa dipinggangnya, "Pegangan," suruh Revan. Lagi-lagi Revan membuat Risa merasakan hal yang tidak wajar dihatinya. Risa mengangguk menyetujuinya.
----
"Welcome to our school, bro." Revan menyambut kedatangan Dion dan teman-temannya sambil bertos ria dan pelukan ala cowok. Ada Ari dan juga Reno yang sedang berjalan menuju tempat dimana Revan dan Dion berdiri.
"Ah sok inggris lo Van," ejek Dion sambil terkekeh geli.
Revan hanya terbahak, "Eh ini kenalin temen gue, Adit." ucap Revan memperkenalkan Adit pada teman-temannya yang dari sekolah lain itu.
"Kenalin gue Dion Pratama Syahreza, paling ganteng disini, banyak yang bilang gue mirip Brandon Salim, tapi terserah lo mau miripin gue sama Zayn Malik juga gue ikhlas lahir batin," ucap Dion sambil mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Adit.
"Gue Adit Alfaizal, pantesan muka lo serasa familiar banget, tapi sorry gue merasa lo gaada mirip-miripnya sama Brandon Salim, apalagi Zayn Malik." sahut Adit sambil terbahak.
"Temen lo asik juga ya Van," celetuk Dion diiringi gelak tawanya, pecah.
"Jangan bilang lo naksir Adit," ucap Revan sambil menatap sinis Dion.
"Lo kira gue homo? Kalo bener gue juga milih-milih kali," cibir Dion.
Revan terbahak, "Ah serah lo deh, mending kita kumpul sambil pemanasan disana dulu sama anak-anak yang laen," ucap Revan sambil menunjuk kearah lapangan basket dengan dagunya. Dion dan yang lainnya mengangguk tanda setuju.
Sekarang tibalah hari dimana diadakannya pertandingan basket antara SMAN 2 Cendikia dan SMAN 1. Seluruh siswa dan siswi berkumpul dipinggir lapangan yang ukurannya cukup besar itu untuk menyaksikan pertandingan.
Risa dan teman-temannya sedang duduk dikursi panjang yang ukurannya cukup untuk enam orang. Mereka sudah membuat rencana, jika pertandingan akan dimulai mereka harus berdiri berteriak seheboh-hebohnya memberi semangat untuk tim basket sekolahnya.
"Pokoknya kita jangan sampe kalah heboh sama cewek menor dari SMAN 1 itu," ucap Nadya sambil mengunyah popcorn. Lihat, menonton pertandingan basket saja dia seolah menonton film di bioskop. Yang lain hanya mengangguk menyetujui rencana Nadya.
"Wagelasehh, yang pake kacamata itu siapa sihh keren banget, ahh rambutnya udah basah keringetan gitu, cool banget yaampunnnnn." ucap Diva sambil menatap cowok dari SMAN 1 yang sedang melakukan pemanasan dilapangan itu dengan mata berbinar. Ah, jangan lupakan jarinya yang sedari tadi aktif memencat tombol kamera dilayar ponselnya.
"Dia udah punya pacar," sambung Risa.
Diva mencebikkan bibirnya, "Hm, Emang lo kenal sama dia? Siapa namanya? Ahh patah hati gue tuh," sahut Diva sambil menunjukkan wajah dramatisnya.
"Gue turut prihatin ya Div," tambah Arina sambil menepuk bahu Diva pelan.
"Gue nggak tau juga sih dia masih punya pacar atau enggak, Gue pernah dikenalin sama Revan, namanya Dion." sahut Risa.
"Wahh namanya Dion? Seandainya dia belom punya pacar, dia sama gue aja. Kan pas tuh Diva-Dion, kalo dibuat singkatan jadi double D." gumam Diva.
"Ngarep lo ngarep," sinis Salsa.
Priiiitttt..!!
Suara peluit telah berbunyi menandakan waktu time off telah habis. Kedua tim berkumpul dipinggir lapangan untuk mendengarkan intruksi dari coach. Setelahnya, mereka berdoa bersama menurut kepercayaan masing-masing. Tidak ada kata bersaing, menang kalah sudah biasa, ini hanya pertandingan sahabat kan?
"Tim dari SMAN 2 Cendikia!"
"Tim dari SMAN 1!"
Coach menyebutkan satu persatu tim basket yang akan bertanding.
"SIAP!!" sahut mereka semua lantang, penuh semangat.
Priiiittttt..!!
Peluit kembali berbunyi, ini tandanya pertandingan akan segera dimulai. Sesuai rencana, Risa dan teman-temannya segera berdiri dan akan berteriak seheboh-hebohnya untuk memberikan dukungan kepada tim basket sekolah mereka. Gemuruh sorak sorai dari penonton membuat suasana semakin menegangkan.
"Go Dion go Dion go!" teriak Diva yang akhirnya mendapat pelototan tajam dari kelima temannya.
"Dion bukan anggota tim sekolah kita, b**o!" rutuk Nadya.
Diva hanya terkekeh geli, "Ah iya lupa gue, haha." sahut Diva dengan cengiran khasnya.
"Woi bocah sableng, kak Aldi!! Semangat yaaa lo pada! kalo tim lo menang, lo berdua traktir gue makan eskrim..!!" teriak Risa pelan.
"Eh eleeh, lo kasih semangat buat Revan apa Aldi sih? rakus banget sampe dua-duanya lo embat," rutuk Salsa.
"Suka suka gue, ble! Mending lo kasih semangat buat Adit tuh," sahut Risa sambil menunjuk objek dengan dagunya.
"Ogah!"
Jump Ball pertama didapat oleh Aldi, setelahnya bola itu mengarah kepada Adit. Perlahan tapi pasti, Adit men-dribble bola menuju posisi ovence dan passing ke arah Rio -salah satu anggota tim inti SMAN 2 Cendikia. Rio melakukan pivot saat dihadang lawan, bola di passing kearah Aldi. Saat itu, Aldi mencoba shooting tapi ring menolaknya.
Dari awal babak pertama, tim dari SMAN 1 telah berhasil mendahului mencetak tiga point. Pada babak kedua, Tim dari SMAN 2 Cendikia dapat menyusul meskipun tidak mengungguli skor. Masuk babak ketiga, Rio berusaha mengendalikan tim mereka agar tetap bermain stabil. Terlihat ada keegoisan antara Revan dan Aldi. Revan mendapatkan passing bola dari Rio, dan Aldi yang telah berlari mendekati ring berteriak memanggil Revan agar segera memberikan passing kepadanya untuk mencetak point.
Drakkk!
Passing dari Revan tidak berhasil tepat sasaran. Aldi terlihat sedang memegangi sudut kepalanya yang berdenyut nyeri, bola itu mengenai kepalanya. Penonton pun ikut meringis melihat keadaan Aldi. Semoga saja Aldi tidak kenapa-kenapa.
"Van, lo sadar gak sih yang lo lakuin tadi dapat membuat tim kita hancur! Dia kapten disini, setidaknya lo hargai dia!" geram Rio dengan nada suara berat sambil mengacak rambutnya gusar.
Revan menghela nafas kasar, sebenarnya dia juga tidak sadar jika apa yang dilakukannya akan berakibat sefatal ini. Revan ingin menghampiri Aldi yang tengah ditangani oleh anggota PMR. Namun Revan menghentikan langkah kakinya ketika melihat Risa yang sedang ada didekat Aldi dengan tampang cemasnya.
"Sabar Van, gue harap lo jangan cemburu disaat yang gak tepat gini, pertandingan masih berlanjut, mending kita cari pemain baru buat gantiin Aldi, biarin dia istirahat dulu."