27. Jealous

1139 Kata
"APA? GUE ?!" tanya Reza sambil menunjuk dirinya sendiri. "Iya elo, gaada keberatan! Pokoknya sekarang ikut kita kelapangan," suruh Revan dan Adit sambil berusaha paksa lengan banci kuda poni itu. "Gue mana bisa main basket! Lo berdua gak berperikemanusiaan!" sahut Reza. "Salsa suka sama cowok yang hobinya keranjang utama, bayangin kalo lo main dilapangan terus diliatin Sal-" belum selesai Revan Berbicara Reza sudah memotongnya. "Gue ikut!" Mereka bertos ria menuju lapangan. Semudah itu? Hanya karena mendengar nama Salsa, Reza melalui rekomendasi untuk ikut menggantikan Aldi. Pertandingan kembali, suasana yang semakin menegangkan di babak ke empat ini, skor 18-20 untuk tim dari SMAN 2 Cendikia. Di posisi divence, merebut bola dari lawan lalu lewat ke arah Rio. Rio melakukan Gerakan Ancaman kemudian lewat Ke Arah, Reza. Kotoran! Reza sangat bingung karena dia sama sekali tidak pernah bermain basket sebelumnya, "Dit, gue apain nih bola?" tanya Reza. Adit mengacak frustasi rambutnya, "Lo tau pivot kan?" geram Adit. Reza hanya mengangguk berpura-pura paham. Revan tau, itu tidak pernah bermain basket, dia mencoba mengarahkan Reza agar melakukan passing ke arah Revan. Beruntung Reza PAHAM, Revan Segera Berlari JAUH mendekati cincin Dan MENERIMA lewat JAUH Dari Reza Dan melakukan lay up. Priiiiiiitt .. !!! Salah satu pemain dari tim SMAN 1 melakukan pelanggaran terhadap Revan. Revan mendapatkan dua tembakan tembakan bebas. Terdengar tepuk tangan riuh penonton saat melihat pertandingan yang semakin sengit. "Revaaannn .. Semangat! Lo pasti bisaa .. !!" Teriak salah satu penonton, Revan berharap itu adalah Risa, tapi sepertinya Revan berharap pada orang yang salah, nyatanya yang berteriak memberi semangat itu adalah gadis pirang, dia Viola. Revan menatap ring yang berada didepannya. Sebelum melakukan tembakan, Revan sempat menoleh ke arah Viola yang berdiri di pinggir lapangan. Tatapan matanya berbinar seolah berharap Revan dapat mencetak dua titik untuk menyamakan skor. Beruntung, perjuangan Revan tidak sia-sia. Priiitttt .. !!! Pertandingan berakhir dengan skor sama 20-20. Terjadi seiring waktu. Perpanjangan waktu pertandingan selama lima menit, penonton yang semakin menggila baik pendukung dari SMAN 2 Cendikia atau SMAN 1, mereka sangat bersemangat meneriakkan yel-yel mereka masing-masing. Pada menit ketiga, masih tidak ada yang menyumbangkan titik dari kedua tim untuk mengungguli titik. Namun pada menit kelima detik-detik terakhir, Revan dapat menjebol divence dari tim lawan. Kemudian melewati posisi tengah dari Reno dengan melakukan gerakan memutar badan dan melakukan menembak. Prakkkk! Bola masuk tepat pada sasaran. Peluit pun dibunyikan, pertandingan benar-benar berakhir dimenangkan oleh tim dari SMAN 2 Cendikia sebagai tuan rumah dengan skor 21-20. Semua penonton bertepuk tangan. Harusnya Revan bahagia kan karena didetik-detik terakhir dia yang menyumbangkan satu poin? Namun sepertinya Revan tidak sebahagia itu. "Wah selamat ya Van, lo berhasil menggantikan Aldi sebagai kapten." ucap Rio sambil menepuk pelan bahu Revan. Revan hanya berdehem pelan dan tersenyum kecut. Setelah Rio pergi. Dion, Ari dan Reno menghampiri Revan, Adit dan Reza yang sedang berdiri mematung dipinggir lapangan. "Woi! Ngelamun aja lo! Seharusnya lo bahagia karena tadi bisa ngerebut bola dari gue," celetuk Reno. Revan mengerjap, "Biasa aja," balas Revan santai. "Wah songong banget lu tong," cibir Reno sambil menoyor kepala Revan namun tangan Reno berhasil ditepis Revan. "Galak," umpat Reno. Dion dan Ari serta Adit terbahak melihat Revan yang tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan itu. "Nih buat lo, gue lapin yah," ucap gadis yang baru datang langsung mengusap keringat di pelipis Revan dengan tisu, selain itu dia juga membawakan sebotol air mineral untuk Revan. Sontak membuat Revan kaget. Ari bersiul mengejek Revan, "Wah lama gak ketemu udah punya gebetan aja kamu bung!" goda Ari. Revan mengangkat satu alisnya heran, "Gausah repot-repot repot, gue bisa sendiri," ucap Revan sambil menepis pelan tangan Viola. "Ah sok jual mahal lo Van, kasian tuh cewek lo." celetuk Dion. "Dia bukan cewek gue." sahut Revan sesantai mungkin. Ucapan Revan itu mampu membuat senyum cerah. Viola berubah menjadi senyuman kecut. "Gak diakuin Revan kamu neng, mending sama Abang sini," ucap Dion sambil menepuk dadanya. "Najong!" cibir Vio sambil menjauh meninggalkan mereka. Sudah pernah Revan bilang kan? Vio itu memang aneh, dia juga mempunyai kebiasaan aneh menjatuhkan barang. Datang tiba-tiba membawakan sebotol air mineral dan mengelap keringat di pelipis Revan. Maksudnya apa? Ah, untuk apa Revan menilai hal itu? "Nih buat lo," Revan menyerahkan air mineral dari Viola itu pada Adit. Gue kesana dulu, tambahnya sambil menunjuk kearah ruang UKS dengan dagunya. "Woi .. !! Mau kemana lo? Gue tamu disini, ajakin jajan kek keliling sekolah lo, malah ditinggal." teriak Dion. Revan menoleh sebentar lalu mengangkat kedua bahunya, tanpa merespon teriakan Dion. "Wah kurang ajar si curut! Seenaknya ngacangin gue! Eh elo, ajakin gue ke kantin ngapah," ucap Dion. "Gue?" tanya Adit sambil menunjuk dirinya sendiri. "Bukan! Yaiyalah siapa lagi?" cetus Dion. Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mau tidak mau dia harus meng-iyakan sesuai permintaan teman Revan yang mengaku Brandon Salim itu. Adit mengangguk menyetujuinya. “Nah gitu dong, sekarang kita temenan,” ucap Dion sambil merangkul bahu Adit. "Eh disekolah ini ada cewek cantik kan, kenalin gue sama dia ngapah," pinta Dion. "Yang cantik mah banyak, ada yang kurus tapi cantik, ada yang semok juga cantik, dan yang bantet pun ada yang cantik," jelas Adit panjang lebar. "Buset dah, cewek yang gue maksud ini beda laki-laki, kalo gak salah nama i********: -nya afdila apa pokoknya dia cantik, tapi lihat pas gue dm gak pernah dibales," "Jaman sekarang mah cewek mau balas dm orang juga harus liat-liat postingan yang nge-dm dulu, kalo lo posting foto pake B612 gitu mana ada cewek yang mau bales dm lo!" sambung Ari. "Jangan buka kartu!" sinis Dion. Memutar bola matanya, dia tahu siapa yang dimaksud Dion, "Maksud lo Diva Andwita Tri Afdila?" tanya Adit. Dion mengangguk antusias, "Nah itu lo tau, cakep bener kan anaknya, kenalin sama gue yakk," pinta Dion. "Nah itu Diva tuh," tunjuk Adit pada salah satu dari lima cewek yang berjalan sambil tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. Tanpa babibu, Dion segera berlari ke arah Diva. "Lah, bukannya tadi dia mau diajakin jajan?" tanya Reza heran. Biarin aja dia emang suka gesrek kalo nemu cewek cakep, sahut Reno yang sedari tadi diam. - - Risa sedang merawat memar dikepala Aldi dengan cara mengkompresnya dengan handuk dan air diruang UKS. Sebenarnya bisa saja meminta anggota PMR untuk melakukannya. Tapi karena ulah Revan ini, Risa jadi ingin perawatan luka dikepala Aldi sendirian. "Gimana, masih sakit kak?" tanya Risa. Aldi meringis sambil sekekali ingin memegang bagian yang memar, "Udah mendingan sih, makasih banget Ris lo udah nolongin gue disini," ucap Aldi. "Ah gapapa kak, justru gue harus minta maaf karena ulah Revan lo jadi ambruk gini, entar kalo ketemu dia pasti gue bales," sahut Risa. "Gak boleh dendam sama orang, Ris." ucap Aldi mengacak rambut Risa. Risa hanya tersenyum malu saat Aldi mengacak rambutnya. Revan yang melihat hal itu dibalik gorden pembatas sontak mengurungkan niatnya untuk minta maaf pada Aldi. Ya, tujuan Revan ke bilik UKS adalah untuk memastikan apakah Risa juga ada disana sekaligus ingin meminta maaf atas kejadian tadi, ternyata benar Risa memang ada disana. Dia sedang tersenyum malu saat Aldi mengacak rambutnya. Mereka juga sedang membicarakan kesalahan Revan. Revan menghela nafas kasar. Siapapun pasti bisa merasakan bagaimana perasaan Revan saat ini. Kenapa sahabat sendiri harus sesakit ini? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN