24. Piring Terbang

1051 Kata
Revan sudah selesai latihan, dia sedang duduk di kursi panjang yang sudah selesai dipinggir lapangan. Dari Revan sebelumnya terlihat kurang bersemangat, entah apa yang menjadi seperti itu. Biasanya, Ekstrakurikuler basket dilaksanakan seminggu sekali pada hari Rabu, tapi karena beberapa hari lagi diadakan pertandingan, maka anggota tim harus latihan rutin. Meskipun ini hanya pertandingan sahabat antara SMAN 2 Cendikia dengan SMAN 1, Mereka juga harus berusaha agar hasilnya tidak mengecewakan sebagai tuan rumah. "Yaelah Van, ngelamun ae lu." celetuk Adit yang juga sedang duduk bersama Revan dan yang lainnya. Adit juga mengikuti ekskul basket, sama seperti Revan. TAPI tidak dengan Reza. Dia lebih memilih yang mengikuti ekskul paduan suara, padahal paduan suara peminatnya banyak yang perempuan. Tidak masalah, Reza kemayu kan? Biarkan dia bergaul dengan perempuan agar bakatnya menjadi seorang banci kuda poni yang lebih berkelas. "Eh budeg! Denger gue ngomong gak sih lo?" gretak Adit sambil memukul bahu Revan kuat. "Bacot!" sinis Revan. Adit merasa heran dengan sikap Revan, "Lo galau gara-gara ditolak Risa ya nyet?" tebak Adit. Revan hanya bergumam pelan, "Hm," "Udah Van, tenang aja. Lagian yang tadi kan lo cuma akting, lain kali coba lagi tapi yang serius." Revan memutar bola matanya malas, "Dia pulang sama Aldi," gumam Revan. "Gak nanya! Nah, lain kali jangan sampe dia pulang sama Aldi lagi, kalo gitu gimana lo mau PDKT." "Gue udah deket, jadi gak perlu pendekatan lagi." tolak Revan. "Biarpun lo udah deket, lo juga harus PDKT lagi sama Risa, kasih perhatian lebih. Lo harus gerak cepet. Jangan sampe keduluan Aldi. Secara, Aldi lebih ganteng dari lo." timpal Adit dengan nada mengejek di akhir kalimatnya. "Anak sunggokong! Sok-sokan ngasih saran ujung-ujungnya ngehina gue juga, nistain aja gue terus!" cetus Revan. Adit terkekeh geli, "Ah elah, ngambekan amat lu tong, kalo gitu mana mau Risa sama lo." ejek Adit yang akhirnya mendapat pukulan kuat dibagian belakang tubuhnya dari Revan. Adit meringis kesakitan. Sedangkan Revan terbahak penuh kemenangan. Bruk! Revan dan yang lainnya segera menoleh ke arah sumber suara. Cewek dengan rambut pirang itu seperti sedang kesusahan mengumpulkan buku-buku yang sudah tergeletak diatas lantai koridor. "Gue kesana dulu." ucap Revan sambil menunjuk posisi cewek itu dengan dagunya. "Eh ngapain kesana nyet, woy bapaknya sunggokong! Ah modus lo! Inget Risa woyyy..!" teriak Adit. Revan terus berjalan hingga dia berdiri tepat dihadapan gadis itu tanpa memperdulikan teriakan Adit. Revan berjongkok, lalu membantu cewek itu mengumpulkan semua bukunya. "Lo abis les ya?" tanya Revan namun tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. "Lo hobi banget ya ngejatohin barang, minggu lalu kotak P3K sekarang buku, terus minggu depan barang apa lagi yang mau lo jatuhin?" celetuk Revan. Benar, cewek berambut pirang itu adalah Viola Artesya, orang yang pernah menjatuhkan kotak P3K di bilik UKS minggu lalu. Disaat Revan baru saja memejamkan matanya untuk tidur, namun harus kembali terbangun karena ulah Viola. "Matahari," cetus Viola. Revan hanya terkekeh mendengar jawaban Viola. Yang benar saja? Cewek itu mau menjatuhkan matahari ke muka bumi? Sepertinya dia sedang mabuk. "Yakali aja lo mau jatohin hati gue," canda Revan. Sekarang pipi Viola mulai memerah. Dia buru-buru merebut buku dari tangan Revan dan berjalan meninggalkan Revan. ---- "REZYA RIZALDI PUTRI CANTIKA CAH AYU DININGRAT..! BALIKIN JUS MANGGA GUEEEEE..!!" suara Salsa menggelegar diseluruh penjuru kantin. Dia sangat kesal. Bagaimana tidak? Banci kuda poni itu telah menyeruput jus mangga kesukaannya hingga habis tak bersisa setitikpun. Reza bersenda sambil mengelus lehernya, "Gabisa dibalikin yayang Salsa, sini sini kalo mau mau dibalikin cium dulu." ucap Reza sambil mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk. Salsa membuat gerakan seperti ingin muntah, "Jijik! Mending gue ciuman sama monyet dibanding sama lo! Eh nggak deng, Eh nggak juga. Ahh apasih! Beliin jus mangga yang baru buat gue!" suruh Salsa. "Oke yayang Salsa, tunggu bentar bang Rezya pesanin." Salsa hanya mengernyit jijik. Sementara yang lain hanya terbahak melihat kelakuan aneh Reza dan Salsa hari ini. Saat ini mereka sedang berada dikantin sekolah, tiga troublemaker itu dari tadi mengekor kemanapun Risa dan teman-temannya pergi. Bahkan, saat ini mereka makan di meja kantin yang sama. "Ini jus nya tuan putriku Salsa Federal," ucap Reza yang baru saja datang dengan membawakan segelas jus mangga yang langsung diambil oleh Salsa. "Siapa yang ngizinin lo ganti-ganti nama gue?" sinis Salsa. Reza menimpali, "Siapa ya? Sekarang aku tanya, siapa yang izinin yayang Salsa ganti nama bang Rezya tadi?" Revan terbahak, "Aku kamuuu meeen, jijik!" cetus Revan. "Gaboleh gitu Van, harusnya lo seneng. Kenapa? Karena temen lo sekarang mulai waras, udah mulai naksir cewek, padahal kan biasanya suka yang sejenis," celetuk Risa sambil memukul bahu Revan pelan. Salsa berdecak sangat kesal, "Waras ya waras, tapi gausah ganggu gue juga!" rutuk Salsa. "Gemeessshh bangett siii," ucap Reza sambil menoel-noel pipi kiri Salsa dengan telunjuknya. Cukup sudah! Reza sangat berani mengusik ketenangan singa betina yang sedang lapar. Sekarang rasakan sensasinya. Salsa menjatuhkan brownies miliknya ke lantai. Lalu mengangkat piring dengan bahan stainless steel itu dan siap menerbangkannya hingga mendarat diwajah banci kuda poni itu. Semua yang ada di meja itu hanya bisa memasang wajah cengo. Reza meneguk salivanya. Salsa sudah siap melayangkan piring itu ke wajahnya. Reza membuat aba-aba didalam hatinya, "Satu... dua.... tiga... KABOOOOOORRRR..!!!" Plak! Bukannya mendarat di kepala target, piring terbang itu kini tergeletak dibawah rak sepatu didepan bilik UKS. Salsa sangat kesal karena ulah Reza. Dia masih berdiri dan melampiaskan kekesalannya dengan menendang-nendang kaki meja. Satu langkah Salsa ingin meninggalkan tempat itu. Tidak sengaja, Salsa menginjak tali sepatunya yang terlepas dari ikatan. Risa dan yang lainnya hanya bisa meringis melihat apa yang akan terjadi pada Salsa jika dia melanjutkan langkah kakinya. Hampir jatuh, namun seseorang segera menangkap Salsa hingga jatuh ke pelukannya. "Ahhhh soswiiit, Arina juga pengen digituin." gumam Arina dengan mata berbinar melihat Salsa dan Adit yang kini tengah berpelukan ditengah ramainya kantin. "Ngimpi ae lu," cetus Nadya sambil menoyor kepala adiknya itu. "Ih biarin kali ah," sahut Arina tak kalah sinis. Cekrek! Jangan lupakan Diva yang selalu siap siaga jika melihat kejadian langka didepannya, dia berhasil mengabadikan moment itu. "G-Gue juga pengen kayak gitu sama tetet, Ya Allah kabulkan impian Rara untuk segera dipinang my baby honey sweety tetet," gumam Rara. Risa, Nadya, Arina dan Diva serta Revan menatap heran kearah Rara. Apa dia bilang? Tetet? Dia memang aneh. "Udah kali ah pandang-pandangannya, gak malu tuh diliatin banyak orang," sindir Risa. Salsa segera menjauhkan dirinya dari Adit menuju kelas. Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu kembali ke tempat duduknya. "Lo jahat banget Ris, seharusnya tadi lo biarin aja mereka pelukan gitu," gumam Nadya. Risa hanya terkekeh geli. Benar juga, seharusnya tadi Risa tidak menghentikan adegan pelukan itu. "Ris, lo mau gak pelukan kayak gitu juga sama gue?" "HAH?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN