"Risa, gue suka sama lo. Maukah kamu menjadi milikku?" ucap Revan sambil berjongkok dihadapan Risa dengan setangkai bunga kertas ditangannya.
Risa menangkupkan kedua telapak tangan dimulutnya, "Van, Lo nembak gue?"
Seisi kelas itu berteriak heboh setelah melihat dan mendengar langsung ucapan Revan.
"Iya Ris, gue udah lama suka sama lo, gue cuma gak punya nyali buat ngungkapin semuanya, gue berharap lo nerima gue," pinta Revan dengan mata yang berbinar.
Risa masih sangat kaget, "Coba jelasin kenapa lo bisa suka sama gue?"
"Karena lo itu cantik, baik, setia, gue sayang sama lo, dan gue gabisa lama bertahan dengan status persahabatan ini Ris,"
Risa menggeleng-gelengkan berpikir tanpa berpikir untuk mengambil setangkai bunga dari Revan, "Van, Gue sama lo itu gabakal jadi kita, selama masih ada DIA!" Risa menunjuk gadis yang sedang berdiri di depan pintu kelas.
Revan menoleh sebentar kearah gadis itu, "Dia bukan siapa-siapa gue Ris, lo jangan salah paham! Gue sama dia cuma ketemu buat-"
"Buat apa?" cerocos Risa memotong ucapan Revan yang belum selesai.
"Buat itu, gue gabisa jelasin."
Risa berdecak kesal, "Ck! Gabisa jelasin kan lo? Haha udah gue tebak, lo itu suka dimulut doang, gue gabakal nerima lo Van. Dan inget! Lo itu sahabat gue! Selamanya kita tetep sahabat! Gaada pacar-pacaran!" tegas Risa.
Perkataan yang baru saja diucapkan Risa mampu membuat Revan tertohok, sedikit malu, karena Risa menolaknya dihadapan semua murid dikelas.
"Gue gasuka bunga, maaf gue gabisa nerima bunga itu, mending lo kasih to dia," ucap Risa sambil kembali menunjuk gadis itu.
Revan menatap Risa sendu, "Maafin gue Ris. Lo bener, selamanya kita tetap jadi sahabat. Dan sahabat lebih penting diperhatikan cinta." sahut Revan.
Risa tersenyum, "Iya Van. Yang namanya cinta kalo gak jodoh bisa aja putus, jadilah mantan pacar. Sedangkan sahabat? Sampai sekarang gue bisa membuktikan bahwa mantan sahabat itu bener-bener belum ada."
Gadis yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kini berjalan Revan dan Risa, "Gue juga mau punya sahabat, lo berdua mau nggak jadi sahabat gue?" ucap gadis itu dengan kilauan mata -nya.
"Kenapa tidak?" sahut Revan sambil memberikan bunga kertas pada gadis itu, Risa tersenyum cerah melihatnya.
Suasana kembali heboh diiringi dengan tepukan tangan dari semua murid dikelas itu. Begitulah tadi salah satu contoh negosiasi berdasarkan untung ruginya yaitu "Menghindari Konflik."
Guru Bahasa Indonesia mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, Negosiasi macam apa ini? Apakah ini yang dinamakan dengan negosiasi jaman now? Bu Erna terkekeh pelan melihat penampilan Revan, Risa dan Arina.
Mau tidak mau Bu Erna harus memberikan nilai A+ untuk mereka yang berani tampil paling awal memperagakan tema yang mereka buat.
"Aduh tiba-tiba cuacanya panas gini ya, gerah bodi sama gerah hati gue nih, ichi ocha woy." ucap Adit sambil mengibaskan tangannya seolah-olah tangannya itu adalah kipas.
Reza yang paham dengan maksud Adit pun ikut berbicara, "Kemaren Om gue nembak burung dihutan pake senapan, ehh gak kena. Kesel pan Om gue, kasian dia tuh udah usaha mati-matian tapi gaada hasil," celetuk Reza.
Revan sadar bahwa kedua temannya yang kurang waras itu sedang mengejeknya, tanpa segan Revan menoyor kepala mereka bersamaan. Untuk apa Revan punya dua tangan jika tidak digunakan untuk menerkam dua temannya yang mulai gila itu?
"Sakit njing! Maen toyor ae lu," cetus Adit tidak terima.
"Iya, mas Revan jahad banget sama Rezya, ntar Rezya aduin ke pengadilan biar mas Revan dipenjara! KDRT nih!" sambung Reza.
Astaga, Revan sudah muak dengan kelakuan kedua temannya itu. Tapi mau bagaimana lagi? Segila-gilanya Adit dan Reza, mereka juga mempunyai jiwa solidaritas yang tinggi jika salah satu diantara mereka sedang kesusahan, seperti saling mencontek misalnya.
Revan menelungkupkan kepalanya diatas meja, malas menanggapi celotehan kedua temannya itu. Revan memang benar menyukai Risa. Jika suatu hari Revan menyatakan perasaan yang sebenarnya, apakah jawaban Risa akan sama seperti tadi? Sungguh, kata-kata Risa tadi sangat membekas dihati Revan, meskipun hal tadi hanya imitasi.
----
Risa sedang berdiri sendiri didepan toilet menunggu Arina. Seolah tidak ada tempat lain. Sudah hampir lima menit Risa berdiri disini, Arina belum juga keluar. Apa yang dilakukan anak itu didalam sana?
Risa bahkan rela tidak pergi ke kantin dengan yang lainnya hanya karena meng-iyakan ajakan Arina.
"Sendirian?" sapa seseorang yang baru saja keluar dari toilet pria.
Risa mendengkus sebal, dia adalah Nathan. Untuk apa dia muncul dihadapan Risa? Risa sudah sangat benci padanya.
"Gue mau minta maaf," ucap Nathan dengan wajah datarnya.
Tidak ada pilihan lain, "Dimaafin. Lo pergi sana! Ntar princess lo ngeliat." usir Risa.
Setelah mengucapkan terimakasih, Nathan pergi meninggalkan tempat itu. Lihat? Dia pikir dengan cara mengucapkan maaf semuanya bisa balik seperti dulu? Tidak, sama sekali tidak. Mengucapkan maaf dengan wajah datar? Rasanya Risa ingin sekali mencakar wajah Nathan, tapi dia tidak bisa melakukan hal itu. Ahh, apasih yang Risa pikirkan ini?
Arina belum juga keluar dari toilet, rasanya tidak mungkin jika Arina pingsan didalam sana. Perlahan pintu toilet itu terbuka, Arina tidak keluar dari tempat itu, hanya saja kepalanya yang menjenguk ke arah luar pintu toilet.
"Beliin pembalut," suruh Arina.
Risa berdecak kesal, jadi dari tadi Risa berdiri disini hanya menunggu Arina untuk itu? Risa kembali ke kelasnya, berhubung dia selalu membawa benda itu untuk berjaga-jaga. Setelah itu Risa menyerahkannya pada Arina.
----
Untuk kali kedua Risa menaiki mobil mewah ini. Ya, Risa diantar Aldi pulang tanpa sepengetahuan Revan. Risa terlihat cemas, bisa dilihat ketika tangannya yang sedari tadi meremas ponsel di genggamannya. Bagaimana tidak? Aldi menyeret paksa lengan Risa untuk memasuki mobilnya.
Aldi terkekeh geli melihat ekspresi Risa, "Gausah cemas gitu, hari ini Revan latihan basket, lo mau nunggu dia sampe jam 5 sore?" celetuk Aldi.
"Bukan itu masalahnya kak, gue cuma takut dia nyariin gue,"
"Yaudah lo telpon aja,"
"Gue gapernah isi pulsa, kuota gue abis,"
Aldi mengambil ponselnya lalu memberikannya pada Risa. "Nih, gue punya kontak Revan di WA, lo pake aja dulu," ucap Aldi.
Risa tersenyum, "Ah, lo peka banget kak, ini gue pake dulu ya," sahut Risa.
Setelah selesai menelpon Revan, Risa tidak mengembalikan ponsel Aldi, dia bilang ingin melihat galeri, Aldi hanya mengangguk menyetujui permintaan Risa.
Senyum Risa semakin mengembang ketika menatap foto Aldi yang selalu memakai kacamatanya.



Sebenarnya Risa ingin bertanya, mata Aldi itu mines atau apa sehingga dia kesekolah selalu mengenakan kacamata? Padahal jika tanpa kacamata pun, Aldi sudah tampan.
"Kenapa lo nyengir gajelas gitu?" celetuk Aldi yang sedari tadi memperhatikan Risa.
Risa hanya terkekeh, "Gapapa," sahut Risa.
"Iya gue tau, gue ganteng, gausah segitunya juga lo ngeliatin foto gue," gumam Aldi.
Risa mengangkat satu alisnya, "Pede banget lo kak," cetus Risa. "Eh ini nyokap lo?" tanya Risa sambil menunjukkan sebuah foto Aldi tanpa memakai kacamatanya yang sedang memeluk wanita paruh baya.

"Hm, almarhum nyokap gue lebih tepatnya," sahut Aldi, sendu.
Risa menutup mulutnya dengan tangan kanannya, "Sorry kak, gue gak bermaksud buat itu, gue gak tau kalo-"
"Udah, gausah dipikirin, gue gapapa kok." belum selesai Risa bicara, Aldi sudah memotong ucapannya.