"Tapi lo harus janji, kalo gue ceritain lo jangan marah, jangan nangis, dan lo harus bersikap sama seperti biasa ke Nathan," pinta Aldi.
Risa mengangguk paham, "Iya gue janji kak," sahut Risa sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Nathan udah punya pacar, sekelas."
"Haha, jangan becanda kak,"
"Gue serius, dia gabisa jemput lo karena pacarnya juga minta dijemput,"
Jedar! Seolah ada petir yang menyambar di siang bolong.
"Gue gak yakin Nathan ngebohongin gue, lo pasti becanda kan?" Risa kembali meyakinkan.
Aldi membuang nafas kasar, "Ngapain gue ngibulin lo, kenyataannya dia emang udah punya cewek, dan lo juga udah tau siapa pacarnya Nathan,"
"Kenapa? Bukannya waktu itu lo ngejekin gue sama dia pas kita makan bareng dikantin, siapa ceweknya? Gue masih ragu."
"Faye. Waktu itu hubungan Nathan dengan Faye lagi renggang, kita semua ngira mereka udah putus, tapi ternyata salah. Dan gue gak nyangka Nathan nembak lo secepat ini, padahal dia masih berstatus sebagai pacarnya Faye."
"Gue masih gak percaya,"
"Terserah lo,"
"Ada bukti?"
Aldi merogoh saku celananya, lalu mengambil sebuah ponsel disana,
"Nih," ucap Aldi sambil menunjukkan beberapa foto dari galerinya.
Mata Risa membulat sempurna ketika dia melihat kenyataannya. Bagaimana mungkin Nathan mengajaknya pacaran sedangkan dia masih berstatus sebagai pacar dari mantan sekretaris osis yang pernah menghukum Risa waktu itu?
Risa sangat kecewa, beruntung Aldi memberitahu kepada Risa sekarang, sebelum perasaannya terlalu jauh pada Nathan.
Aldi kembali memasukkan ponsel itu kedalam saku celananya,
"Gue gak bermaksud ngomporin lo, gue cuma gak mau lo punya masalah sama Faye, dan gue harap lo bisa nepatin janji lo tadi, karena gue sahabatan sama Nathan udah lama, dia pasti bakal marah besar kalo gue bilang yang sebenarnya sama lo."
"Iya kak, gue janji. Makasih lo udah mau jujur sama gue." sahut Risa lirih.
Aldi mengangguk pelan, "Udah nyampe, belajar yang bener, jangan pikirin hal tadi,"
"Iya, makasih kak."
Setelah keluar dari mobil mewah itu dan mengucapkan terimakasih pada Aldi, Risa segera menuju ruang kelasnya.
Risa telah selesai bercerita pada Revan panjang lebar tanpa terlewat satu tanda baca pun, setelah itu dia menghela nafas lega. Bukannya mendapat respon positif, Risa malah mendapatkan gelak tawa dan toyoran kuat dikepalanya dari Revan.
"Bagus, kualat kan lo, udah gue bilangin jangan langsung menilai seseorang baik hanya karena dia sering bantuin lo, tau kan akibatnya?" cibir Revan sambil melontarkan senyum yang sulit diartikan.
"Ih apaan sih lo, sakit nih sakit nyet." celetuk Risa sambil mengusap bagian yang ditoyor.
Revan hanya tersenyum cerah, meskipun sebenarnya perasaan Revan menjadi aneh ketika mendengar bahwa Nathan telah mengajak Risa pacaran, tapi beruntunglah karena Risa tidak menerimanya.
"Yaudah sih maafin," sahut Revan. Namun tidak mendapat respon dari Risa yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Saat ini Risa, Revan, dan Deby berada diruang tengah. Risa sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya dan memakan beberapa cemilan. Sedangkan Revan sedang membantu Deby mengerjakan PR. Walaupun Revan tidak begitu pintar, tapi setidaknya dia masih bisa mengerjakan soal matematika anak kelas 3 SD itu.
"Ris," ucap Revan memecah keheningan.
Risa melirik sebentar ke arah Revan, "Apa?" tanya Risa sambil mengangkat dagunya.
"Habis ini jalan yok," ajak Revan.
"Malam minggu masih lama." celetuk Risa.
"Lo pikir kalo mau jalan harus nunggu satnight dulu? Udahlah, ikut aja. Gue mau kerumah Dion." sahut Revan.
Risa memutar bola matanya seraya berpikir, "Dion siapa?"
"Ck! Masa lo lupa? Dion yang waktu itu ketemu sama lo di starcafe."
"Ahh iya baru inget, yang sok ganteng itu kan ya,"
"Serah lo deh, mau ikut gak nih?"
"Ngapain dulu?"
"Mau ngajak Dion sama temennya tanding basket disekolah kita minggu depan."
"Males ah, mending gue semedi." sahut Risa sambil terkekeh kecil di akhir kalimatnya.
Revan hanya tersenyum sinis. "Yang belum dikerjain tinggal satu kan? minta jawaban sama Ka Risa aja ya, abang mau pergi dulu Deb," pamit Revan. Deby hanya mengangguk paham. Sementara Risa masih sibuk dengan ponselnya tanpa melirik ke arah Revan yang sedang berjalan menuju pintu utama.
----
"Ahh gila, foto nya pake bikini semua men," Adit berteriak heboh sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Revan dan Reza.
Reza membuat gerakan tidak setuju, "d**a rata gitu, sia-sia pake bikini, gabakal bikin gue nafsu juga,"
"Emang lo pernah nafsu sama cewek?" sinis Adit.
"Yaiyalah, gue normal kok. Bentar lagi gue bakal punya gebetan, jan kaget." celetuk Reza.
Adit menganga, Bagaimana bisa si kemayu Rezya punya gebetan? Apa mungkin gebetannya sejenis? Adit bergidik ngeri namun berujung gelak tawa.
"Ngapain gue kaget, pasti sejenis kan. Gue udah tau." cerocos Adit.
"Sotoy kamu bang Adit, bilang aja cemburu kalo Rezya punya gebetan," cibir Reza.
Adit membuat gerakan seperti ingin muntah, "Najis b**o!" rutuk Adit sambil menoyor kepala Reza.
"Kamu mah mainnya kasar, aku tuh gabisa diginiin bang, atit athu tuh,"
Salsa yang sedang berpikir merasa terganggu karena celotehan kedua personil troublemaker itu, "Bisa diem gak sih lo pada? Punya mulut berisiknya minta ampun, toa mesjid aja kalah." gerutu Salsa.
"Ahh yayang Salsa bisa aja, masa Reza yang lucu dan imut ini disamain sama toa mesjid,"
Salsa beranjak dari tempat yang didudukinya menghampiri Reza yang sedang tersenyum geli. Enak saja dia menyebut Salsa dengan sebutan yayang. Jijik! Pengalaman paling buruk ketika seorang jelmaan banci kuda poni seperti Reza memanggilnya dengan sebutan itu. Salsa menendang tulang kering si kemayu itu, membuat Reza meringis kesakitan.
"Jahat kamu dek, tapi bang Rezya tambah cinte kok," celetuk Reza sambil mengusap-usap kakinya.
Plak!
Sebuah bogeman mentah mendarat diperut Reza. Siapa suruh dia berani menggoda Salsa? Sudah tau Salsa itu orangnya lumayan galak. Rasakan sensasinya za! Adit terbahak melihat Reza yang tersungkur diatas lantai
"Nah loh, jadi yang lo maksud gebetan si Salsa, za?" celetuk Adit.
"Ng-nggak kok, dia serem. mana berani gue sama dia," sahut Reza.
Sebenarnya saat ini mereka sedang diberi tugas kelompok Bahasa Indonesia membuat teks negosiasi, sang Guru sedang keluar entah kemana dari setengah jam yang lalu. Satu kelompok terdiri dari tiga orang. Nasip s**l menimpa Salsa, dia satu kelompok dengan si kemayu Reza, dan Adit.
Sementara Risa satu kelompok dengan Revan dan Arina. Mereka terlihat serius mengerjakan tugas, tidak terkecuali Arina. Akhir-akhir ini Arina sering menstalker twitter para boyband korea. Ya, sepertinya sumpahan dari Rara waktu itu manjur juga.
Risa sepertinya sedang sibuk memikirkan tema apa yang akan digunakan untuk tugas kelompok itu, hal itu bisa dilihat dari tangannya yang sedari tadi tidak berhenti mengetuk-ngetukan pulpen dikepalanya.
"Lo mikirin apa?" tanya Revan, heran.
"Gue bingung ini Van, temanya apaan ya? Negosiasi tentang beli rambutan atau semangka? atau baju atau apa? Gua gak mau ya kelompok kita temanya samaan sama kelompok lain," gumam Risa.
Revan berpikir sejenak, seolah ada bola lampu yang sedang menyala terang dikepalanya, "Gue punya ide bagus!"