Sebelum melihat siapa yang Berbicara, mereka sudah jelas mengenal siapa yang memiliki suara nyaring mengalahkan toa mesjid itu, dia adalah Faye Anastasya, mantan sekretaris osis yang telah menghukum Risa pada masa orientasi dulu.
Risa hanya memandang Faye dengan kedua alis yang saling bertautan, dia sudah tau apa tujuan Faye menghampiri meja yang ditempati Risa dan teman-teman itu.
Sementara Salsa sangat tidak terima, karena cewek yang sedang berdiri tepat disampingnya itu telah menghina mereka, dia pikir dia siapa? Seenaknya mengatakan sampah masyarakat.
"Heh iwak peyek, ngomong apaan sih lo berisik banget." ucap Salsa.
Faye melipat kedua belah didada, "Adek kelas laknat, nama gue Faye bukan peyek, lain kali belajar baca yang bener," cibir Faye sambil menoyor kepala Salsa.
Salsa tidak terima, lalu tanggapan Faye, "Wah nyolot nih, bulu mata lo panjang sebelah," sahut Salsa sambil menjentikkan jari jempol dan jari telunjuknya di kening Faye.
Dengan segera Faye mengambil cermin kecil dari sakunya, memastikan apakah bulu matanya panjang sebelah, i***t memang. Dia hanya bisa melihat bulu mata palsu dan maskara. Bagaimana seseorang bisa seperti dia pernah sebagai sekretaris osis?
"Eh gue gaada urusan sama lo ya," celetuk Faye.
Kali ini Diva yang berbicara, "Kalo gaada urusan, ngapain lo nyamperin kita kesini? Kalo mau foto sama gue gausah galak-galak neng, sini mana hape lo? Sekalian sama tanda tangan juga boleh," sahut Diva.
"Ini lagi nih satu, pengikut hasil beli aja bangga," cibir Faye.
"Bangke! Pengikut gue emang udah banyak dari sono nya, yakali gue beli!" sahut Diva tidak terima.
"Wah emang hubungan intim dia div, mulut iwak peyek ini emang gapernah makan kurma kan ya? Bulan puasa bentar lagi kak pey, ntar Arina jualan kurma keliling komplek, kalo mau beli teriakin Arina pake nama Park Shin Hye, Arina bakal samperin kak pey, karena Arina anak yang baik, Arina kasih kak pey gratis, kasian kan kak pey anak orang kaya tapi gapernah makan kurma? " sambung Arina panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.
"Karma peak, bukan kurma," celetuk Nadya sambil menginjak sepatu kets milik Arina.
"Iya itu maksud gue," gumam Arina, polos.
Faye memutar bola matanya malas, "Emang gak nyambung ngomong sama sampah masyarakat kayak kalian, bilangin tuh sama temen lo atu, jadi orang jangan sok kecentilan godain pacar orang, untung Nathan setia dan faktanya Nathan lebih milih gue," cetus Faye sambil mengamatikan kearah Risa.
Risa tersenyum miring mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan Faye. Sementara yang lain hanya menatap Risa heran. Pasalnya, hanya Risa yang dikabarkan dekat dengan Nathan.
Risa memilih untuk tidak terlalu memikirkan omongan Faye. Bukannya Risa takut, tetapi jika ditanggapi, semua itu hanya akan mencampakkan-buang waktu Risa.
"Udahlah, percuma gue ngomong sama sampah masyarakat kayak lo pada!" cibir Faye.
“Emang percuma kak pey, mending kak pey go sana jauh-jauh,” usir Arina dengan gaya polosnya.
Faye berdecak kesal, "Songong lo ya, dasar bau sampah!" rutuk Faye.
Faye melangkahkan kakinya menjauhi meja yang ditempati Risa dan teman-teman.
"Yaiyalah bau sampah, mulut kak pey kan deket sama idung!" teriak Arina, sementara yang diteriaki langsung menoleh dengat tatapan yang sangat tajam, namun memilih untuk tidak kembali ke tempat mereka.
Salsa heran menatap pada Risa. Bukankah malam itu Risa mengatakan bahwa Nathan telah mengajak Risa pacaran? Lalu kenapa baru saja Faye mengatakan Nathan lebih memilih ikan berjalan itu?
"Ris, maksud Faye tadi apa?" tanya Salsa prihatin, diiringi anggukan oleh yang lainnya
Risa menghela nafas pelan, dan mulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Jujur saja, Risa sakit jika kembali mengingat dan menceritakan hal itu. Tapi apa boleh buat, semuanya harus di ikhlaskan, karena kenyataannya Nathan memang milik Faye.
- -
Sekolah sudah mulai sepi, hanya ada sebagian yang masih bertahan, itupun hanya karena kegiatan ekstrakurikuler.
Disini Risa sekarang, duduk disebuah kursi panjang yang terletak didepan kelasnya. Tadinya dia minta dijemput Bang Dodi -sopir pribadi mamanya, tapi Revan melarangnya. Revan menyuruh Risa untuk menunggunya latihan basket. Kalau saja Risa tau latihannya selama ini, pasti dia tidak akan meng-iyakan perintah bocah sableng itu.
Risa mengeluarkan benda pipih yang kurang lebih berukuran 5 inci dari ranselnya, cewek itu tersenyum cerah saat melihat layar ponsel dengan lambang buah apel yang digigit itu. Ya, Risa sedang membuka akun i********:, diam-diam Risa mengidolakan seorang model sekaligus DJ kelahiran Salamnca, Spanyol. Siapa lagi kalau bukan Alvaro Mel.
Menurut Risa, Nathan mempunyai kemiripan dengan idolanya itu. Ahh, Risa mengingat orang itu, orang yang telah membohonginya. Hampir saja Risa menerima cinta palsunya. Beruntunglah Alldi tell semuanya pagi tadi.
Risa kembali fokus memandangi layar ponselnya, dia terus saja menstalker akun idolanya itu.
"Ahh, kumis tipisnya." gumam Risa sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan, kagum.
"Mirip gue," sahut seseorang disebelah Risa.
Risa melirik sekilas kearah sumber suara, lalu menyimpan kembali ponselnya kedalam ransel.
"Kak, gue minta maaf," ucap Risa lirih, saat dibaca orang yang sedang duduk disampingnya adalah Aldi.
Aldi mengernyitkan dahinya, "Kenapa?" tanya Aldi, datar.
"Gue ingkar janji,"
"Yaudah sih gapapa, gausah dipikirin."
"Terus gimana hubungan kakak sama Nathan?"
"Gapapa, paling gue kena tonjok sedikit lebih awal," sahut Aldi sambil menunjukkan sedikit memar diatas bagian matanya.
Mata Risa membulat dengan sempurna, setengah tidak percaya. "Sedikit lo bilang? Jelas-jelas memar kayak gini lo masih bisa bilang gapapa," cibir Risa sambil berkata poni yang menutupi pelipis Aldi.
"Iya, udah sih lo gausah mikirin. Gue udah sering berantem sama Nathan, sikap dia emang masih kekanak-kanakan, gue masih bisa ngertiin." tegas Aldi.
Risa berdecak kesal, "Why gak lo lawan aja sih, kenapa lo biarin dia nonjok lo? Bodoh." celetuk Risa.
Karena gue sahabatnya, sahut Aldi sesantai mungkin.
Risa yang terdiam memandang sosok yang sedang duduk disampingnya itu. Aldi ini seseorang yang sangat baik apa sangat bodoh? Bisa-bisanya dia pasrah saat Nathan menerkamnya? Seandainya Revan melakukan hal seperti itu pada Risa, sudah pasti bocah sableng itu akan dimutilasinya.
“Serah lo deh serah,” pasrah Risa. "Ngapain lo kesini? Bukannya lo lagi latihan basket?" tambahnya.
"Gue kan ketuanya, terserah dong gue mau kemana aja, gaada yang ngelarang." sahut Aldi, bangga.
"Belagu," gumam Risa.
Aldi tersenyum miring, "Ikut gue ke lapangan," pinta Aldi.
“Ogah ah kak, ntar ketemu Nathan. Salah gue,” celetuk Risa.
"Kapan sejak keranjang utama Nathan?"
“Nathan gaada? Serah deh. Gue tetep mau disini, udah sana urus anak buah lo,” usir Risa.