20. Trouble

1030 Kata
Risa yang merasa namanya tadi disebut pun segera menatap sinis Arina, "Yang bener lo mau bayarin gue?" tanya Risa meyakinkan. "Bener ris, lo mau gue traktir choki-choki apa permen kaki?" "Bangke, gaada pilihan lain apa?" "Gaada ris, anggaran terbatas!" Risa baru mengingat kejadian tadi, Arina lah yang melaporkan kepada Bu Nuri bahwa Risa tidak membawa jamur untuk bahan praktikum, sehingga Risa harus berlari dan bertemu Nathan dilapangan futsal. "Tadi kan lo yang laporin gue ke Bu Nuri, jadi aktifkan, lo traktir gue makan hari ini," ancam Risa. Arina menggembungkan pipinya, "Lo masih inget?" tanya Arina. "Yaiyalah gue inget, lo pikir gue amnesia? Traktir gue kalo lo nggak mau ya gapapa, gausah temenan sama kita lagi, temenan aja tuh sama si Encun," sahut Risa sambil menunjuk gadis dengan rambut dikepang dua yang sedang duduk dikursinya. Fyi, Encun adalah cewek paling lugu dikelas dan sering kena bully. “Ah elah, yaudah deh iya,” pasrah Arina. Nadya, kakaknya Arina pun ikut berbicara. Kita berempat juga, kita kan temen lo, kalo lo nggak mau neraktir kita, kita e- "belum sempat Nadya menyelesaikan ucapannya, Arina telah memotongnya lebih dulu. "Iya, semuanya tenang aja. Arina si cantik kembarannya Park Shin Hye bakal bayarin kalian makan hari ini," ucap Arina. “Lah, gue kan kembaran lo, berarti gue Park Shin Hye nya, makasihhh,” sahut Nadya berbangga diri. Risa, Salsa, Diva, dan Rara hanya bisa menertawakan gambar yang sangat baik. Beruntung, Arina sekarang sudah sedikit waras setiap hari-hari sebelumnya, mungkin otaknya sudah diservis. Istirahat berbunyi, dengan segera mereka menuju kantin sekolah, menanti traktiran dari Arina. "Kalian mau pesen apa?" tanya Arina sambil mengambil secarik kertas dan pulpen dari kantong sakunya, sepertinya dia sudah tau bahwa pesanan teman-teman tidak sedikit, sehingga harus ditulis agar mudah diingat. "Gue mie ayam sama teh es," sahut Nadya "Gue samain sama Nadya aja," tambah Salsa. "Gue juga," sahut Rara. Arina mempercepat kerja sama menulis, teman-teman sangat sangat senang jika mendengar kata traktiran. "Gue nasi goreng sama teh es, inget! teh es nya jangan kemanisan," suruh Diva. "Kalo gue baso dua mangkok sama teh es nya dua gelas," ucap Risa yang akhirnya mendapat tatapan sinis dari kelima temannya itu. Diva memasang wajah cengo, "Lo yakin mau pesen baso dua mangkok?" tanya Diva meyakinkan. "Dua mangkok? Banyak bener ris," tambah Salsa. "Seharian ini gue bakal butuh banyak tenaga, lagian kan kali ini di traktir, terserah gue dong mau pesen berapa porsi," sahut Risa sambil tersenyum miring. Nadya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Udah cepet pesan gih, masih berdiri disitu aja lo," suruh Nadya pada Arina yang hanya diam mematung setelah mendengar apa yang diucapkan Risa tadi Sepertinya tangisannya sehabis lari tadi membuat nafsu makan Risa meningkat, dia perlu tenaga ekstra untuk menghadapi kenyataan yang telah diucapkan Aldi pagi tadi. ---- Sementara itu, Revan dan antek-anteknya tidak pergi kekantin melainkan memilih untuk pergi ke atas gedung sekolah. Seperti biasa, Reza membawa ukulele kesayangannya, Adit membawa galon tak ber-ibu, sedangkan Revan? Jangan ditanya, diantara mereka hanya Revan yang malas membawa alat apapun jika mereka ingin konser dadakan diluar kelas. "Kalian berdua cepet banget jalannya, eh tungguin Rezya dong, main tinggal gitu aja, gak kasian apah sama kaki mungil Rezya ini," gerutu Reza yang berjalan dibelakang Revan dan Adit. Adit bergidik ngeri, "Van, lo denger sesuatu gak? serem banget, sepertinya disini dulunya pernah terjadi pembunuhan berantai pada banci," ucap Adit sambil menyeimbangkan langkah kakinya dengan Revan. Revan sama sekali tidak menanggapi celotehan dari Adit. Dia sedang tidak memiliki mood untuk bercanda saat ini. "Mas Revan.. bang Adit, tungguin Rezya ngapa sih, cepat bener jalannya," celetuk Reza. Adit segera menoleh ke arah sumber suara, "Pantesan dari tadi bulu kuduk gue berdiri, ternyata ada jelmaan banci kuda poni dibelakang gue," rutuk Adit. "Ahh kamu bang, jahat bener nyamain Rezya sama banci kuda poni," kekeh Reza. Adit semakin tidak tahan dengan tingkah laku salah satu temannya itu, pantas saja biasanya Revan mengeluarkan kata-k********r pada Reza. "Kelakuan lo itu udah sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen kayak cewek, mending lo operasi kelamin aja sekalian! atau mau yang lebih instant? Kalo mau, gue potong batang lo sekarang!" celetuk Adit sambil memberikan tatapan mengerikan seolah ingin membunuh pada Rezya, ehh ralat *Reza. "Jahat banget kamu bang, kalo dipotong ntar tambah pendek." sahut Reza sambil menampakkan ekspresi super dramatisnya. "Bodo amat! Biar didunia ini gaada lagi penerus untuk species macem lo itu!" ketus Reza. Kepala Revan tambah pusing mendengar kedua temannya yang sedari tadi berbicara dengan topik yang sama sekali gaada faedahnya. Revan tampak depresi, beruntunglah Revan yang terlihat lebih waras diantara mereka, meskipun kadang-kadang juga ikut gesrek "Kresek mana kresek, gue pengen muntah!" ucap Revan sarkas. Reza hanya terkekeh melihat tanggapan teman-temannya karena ulahnya itu, menggoda Revan dan Adit adalah salah satu dari hobinya. Mereka telah sampai diatas gedung sekolah, yang konser hanyalah Adit dan Reza, sedangkan Revan hanya duduk diatas pembatas, sekekali dia menengok kearah bawah. "Gue bingung sama lo van, akhir-akhir ini lo sering murung gitu." gumam Adit. Revan membuang nafas kasar, "Biasa aja," jawabnya singkat. "Sebenernya dari kemaren gue punya feeling kalo lo suka sama sahabat lo sendiri, si Risa." ucap Adit. Revan melirik kearah Adit, "Lo ngaco," sungutnya. Adit tersenyum miring, "Gue gak ngaco, cuma mau ingetin aja, kalo lo beneran suka yaa gapapa, perjuangin sampe lo dapet, sahabat jadi cinta itu wajar, secara lo kan sahabatan sama dia udah dari kecil, sudah pasti salah satunya punya rasa," gumam Adit. "Hm," "Ahh Rezya terharu denger bang Adit ngomongnya puitis banget, titisan om Mario Teguh ya?" celoteh Reza. Adit kembali bergidik ngeri, setelah mendengar kata-kata Reza, selalu saja membuat Adit ingin mengeluarkan sesuatu, entah itu kentut atau muntah. ---- "Aiigooo!! liat deh ganteng banget pan? gak salah emang gue milih tae-tae jadi biasnya gue," ucap Rara antusias sambil memperlihatkan mv sebuah boyband asal korea yang biasanya disebut BTS. "Yaampun, mata lo rendam ra, yang cantik gitu lo bilang ganteng," umpat Arina sambil menunggu sebiji baso yang tadi dipesannya. Rara berdecak kesal, "Gausah ngehina pacar gue, gue sumpahin beberapa hari lagi lo juga bakal jadi kpopers!" rutuk Rara tak rela. "Najong!" Tiba-tiba saja ada seseorang yang menghentakkan diatas meja tempat Risa dan teman-teman berkumpul dikantin itu. "ADUUHH! Sampah masyarakat! Iiewwhh, kelas rendahan, berisik banget lo pada!" Sebelum melihat siapa yang Berbicara, mereka sudah jelas mengenal siapa yang memiliki suara nyaring mengalahkan toa mesjid itu, dia adalah Faye Anastasya, mantan sekretaris osis yang telah menghukum Risa pada masa orientasi dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN