19. Perhatian​ Terselubung

996 Kata
"Jangan nangis, ada gue yang siap ngelindungin lo kapanpun dan dimanapun." - - Risa sudah melakukan lari lapangan futsal pada putaran ke sebelas. Ia menghembuskan nafas berat, keningnya telah dipenuhi dengan keringat. Pada putaran ke dua belas, nafasnya tak lagi beraturan, pergerakan kaki Risa mulai tidak seimbang, langkahnya semakin melambat, seketika Risa hampir saja jatuh karena hilang keseimbangannya, namun ada sesuatu yang menahannya. Risa menyipitkan matanya, mencoba mengumpulkan semua kesadarannya, penglihatannya nampak membiru, meskipun saat ini masih pagi, tapi hari ini sinar matahari terlihat begitu terlihat menerobos pupil matanya. Saat kesadarannya sudah terkumpul, Risa menatap seseorang yang menahannya itu. Lebih dari tiga detik mereka saling menatap dengan posisi Risa yang masih begitu saja pada seseorang itu. "Revan," pekik Risa. Kalo lo capek gausah dipaksain lari, mending lo istirahat, kumpulin semua tenaga lo, biar bisa berantem sama gue lagi, "sahut Revan. Risa melepaskan dirinya dari tangan Revan yang sedari tadi menahannya, "Siapa bilang gue capek? Gue masih banyak tenaga buat berantem sama lo," celetuk Risa. "Btw van, lo ngapain kesini?" tanya Risa. Revan tersenyum miring, "Gue juga berharap, sama kayak lo." sahut revan santai. "Haha yang bener lo? Emangnya lo gak bawa jamur juga?" tanya Risa lagi. "Gue bawa kok," sahut Revan. Risa mengernyitkan dahinya, "Terus kenapa lo dicari juga?" "Ya gapapa lah, gue cuma pengen olahraga aja," udah dicantumkan, karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya diwaktu yang tidak tepat seperti ini. "Ooh, gue kira lo mau nemenin gue lari disini." sahut Risa sambil melanjutkan melanjutkan langkah kakinya berlari kecil. Namun saat itu juga tangan Risa berhasil dicekal oleh Revan, "Tungguin gue, kita lari bareng-bareng." Revan ucap yang akhirnya mendapatkan anggukan dari Risa. Gadis itu tersenyum kecil, kemudian mereka lari bersama lapangan futsal itu dengan cara sejajar. - - Risa telah membatalkan hukumannya dan duduk dibangku yang sudah dipinggir lapangan. Sedangkan Revan baru saja meĺakukan lari pada putaran ke lima belas, sepertinya Revan mulai korban, tapi Risa tidak khawatir akan hal itu karena mereka berdua sudah terlatih kejar-kejaran sejak kecil. "Nih air buat lo," Seseorang menyodorkan sebotol air mineral dari arah belakang Risa, berhasil membuat empunya menoleh kearah seseorang itu. Risa mendengus kuat, tampak ada kekesalan dengan kekecewaan diwajah Risa, namun dia teringat akan janjinya pada Aldi pagi tadi. Risa menyambut air mineral itu karena memang tenggorokannya sudah kering dan terapis senyuman paksa pada Nathan, "Makasih." balas Risa singkat. "Kok lo cuek gitu?" tanya Nathan. Risa berdecak kesal, "Ngapain lo nyamperin gue kesini? Nggak takut tuh princess lo marah?" ketus Risa. "Maksud lo apa?" sahut Nathan dengan muka watados-nya. "Alaaah, gak usah munafik deh lo." celetuk Risa. Maaf kak, gue gabisa nepatin janji gue sama lo, gue nggak tahan sama keadaan yang ada, semoga lo ngerti. Batin Risa. "Lo kenapa sih? Perasaan gue gaada salah apa-apa sama lo," bantah Nathan. "Maksud lo apa beberapa hari lalu pake sabotase temen lo yang punya tapi temen lo suka cewek lain dengan alasan pacar temen lo itu selalu ngekang blablabla, Heh? Kenapa nggak bilang aja kalo itu elo, bukan temen lo! Baru diawal aja lo udah boongin gue mentah-mentah, gimana kalo pacaran ?! Munafik, “rutuk Risa to the point. Nathan menatap Risa dengan tampang cengo, "Lo tau darimana? Gue bisa jelasin ris," lirih Nathan. Tanpa sadar air mata mulai membasahi kedua pipi Risa, "Gue gak perlu penjelasan dari lo, semuanya udah jelas menurut gue," sahut Risa dengan isakan tangisnya. "Lo kenapa nangis ris?" tegur Revan, rupanya dia telah menyelesaikan larinya. Risa langsung menghampiri Revan dan refleks mengatur Revan dihadapan Nathan, sontak membuat Revan kaget dan melirik kearah Nathan. "Lo apain sahabat gue sampe dia nangis kayak gini, b******n!" kesal Revan pada Nathan yang sama sekali tidak menampakkan muka rasa nya. Nathan tidak sedikitpun merespon u*****n Revan, dia malah berjalan Risa yang masih menjalankan Revan. "Ris, gue bisa jelasin." ucap Nathan. Risa masih saja terisak karena tangisannya, "Lo udah bikin dia nangis, masih aja berani ngedeketin dia," ketus Revan tidak terima. Nathan menggeram, "Gue gak ada urusan sama lo," sahutnya datar. "Tapi sekarang lo punya urusan sama gue karena bikin Risa nangis!" bentak Revan. Pantas saja Revan marah, meski dia dan Risa bersahabat sejak kecil, Revan tidak pernah sama sekali membuat Risa meneteskan udara walaupun hanya setitik, sedangkan Nathan? Entahlah, sepertinya hal itu cukup membuat emosi semakin meningkat. "Gak usah nangisin orang kayak dia ris, mending sekarang kita kekelas," ucap Revan sambil menuntun pergerakan langkah kaki Risa menuju kelas mereka, Risa hanya mengangguk pelan. Saat mereka berdua melangkahkan kaki memasuki ruang kelas, Bu Nuri sudah tidak ada diruangan itu, sepertinya mereka terlalu lama berada dilapangan hingga tidak menyadari jam pelajaran biologi telah usai. Semua murid dikelas itu menatap heran akan kedatangan Risa karena wajahnya yang memerah itu. "Ris, lo kenapa?" tanya Salsa. "Iya ris, lo habis nangis?" tambah Nadya cinta tatapan heran penuh tanya oleh beberapa gambar. “Gapapa,” sahut Risa lirih. "Tenangin diri lo dulu, nanti ceritain ke gue apa yang sebenarnya terjadi." ucap Revan sambil mendudukkan Risa dikursinya, lalu dijawab dengan anggukan paham empunya, kemudian Revan berjalan ke tempat duduk asalnya. Seketika Nadya, Arina, Diva serta Rara menghampiri Risa ditempat duduknya. "Lo kenapa ris?" tanya Rara. “Gue gapapa ra, ada masalah dikit aja,” sahut Risa sambil tersenyum kecut mengusap air matanya. “Ah yang bener? Cerita aja ris sama kita, gabakal ember kok,” tambah Diva. "Udah ah, gue yang duduk disamping Risa aja belom diceritain," ucap Salsa. “Hm, gue gapapa kok, lo pada tumben banget perhatian sama gue,” gumam Risa. "Baru nyadar lo ris? Kitd kan emang perhatian sama lo," sahut Nadya diringi anggukan oleh keempat nomor. “Iya deh iyaa, lo pada emang temen yang paling debess deh,” kekeh Risa. "Nah gitu dong, gausah sedih-sedihan lagi. Kalo ada masalah mah, senyumin aja." ucap Diva. "Udah ya drama-nya, mending sekarang kita ke kantin, gue traktir deh." tambah Arina. Salsa mengernyitkan dahinya, tidak yakin dengan ucapan Arina, "Yakin lo mau bayarin kita semua?" tanya Salsa. "Siapa yang mau bayarin kalian? Orang gue cuma ngajakin Risa," celetuk Arina. Mereka menatap horor kearah Arina, "Pilih kasih lo," ucap Salsa. Risa yang merasa namanya tadi disebut pun segera menatap sinis Arina, "Yang bener lo mau bayarin gue?" tanya Risa meyakinkan. "Bener ris, lo mau gue traktir choki-choki apa permen kaki?" "Bangke, gaada pilihan lain apa?" "Gaada, anggaran terbatas!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN