"Jangan pernah takut untuk sendiri, karena lambat laun kesendirian itu akan membantu lo mengetahui apa isi hati lo sebenarnya."
----
Setelah panas-panasan ketika upacara, kelas mereka langsung disambut dengan pelajaran yang cukup membuat pusing menurut sebagian murid dikelas itu karena banyak terdapat nama-nama ilmiah yang susah untuk dilafalkan, yakni pelajaran biologi.
"Ris, lo bawa jamur apa?" pekik Salsa.
Risa baru saja ingat bahwa minggu kemarin Bu Nuri telah memberikan tugas untuk membawa jamur jenis apapun untuk bahan praktikum.
"Yaampun, gue lupa bawa plus lupa nyari sa, gimana dong," sahut Risa, panik.
"Lo gimana sih, biasanya lo yang paling inget masalah tugas kenapa sekarang lo jadi pelupa gini?" tanya Salsa sarkas.
"Yaelah sa, bantuin kek bukannya malah diomelin, gue minta jamur punya lo aja deh," pinta Risa.
Salsa berdecih, "Cih! gue cuma punya atu, nyari-nya pun gue harus ngorbanin diri kehutan deket rumah gue," sahut Salsa.
Risa menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal, lalu menoleh ke arah belakang, tempat duduk teman-temannya.
"Ada yang bawa jamur lebih gak?" tanya Risa pada mereka.
"Gue cuma punya satu nih ris, emangnya lo nggak bawa?" sahut Nadya diiringi dengan anggukan oleh twins-nya, Arina.
"Gue lupa,"
"Sebenarnya tadi gue bawa dua ris, tapi yang satunya udah gue bagi ke Rara, sorry ya." sahut Diva yang tempat duduknya dibelakang Nadya dan Arina.
"Hm, yaudah gapapa," pasrah Risa.
"Kelas sebelah kemaren ada yang nggak bawa, terus dia dihukum lari keliling lapangan ris," pekik Arina.
Mata Risa membelalak, "Hah? Yang bener lo? gimana doongg bantuin gue ngapah," sahut Risa panik.
Arina mendesis kesakitan, "Aauuuww," kakinya dengan sengaja diinjak oleh kakaknya, Nadya.
"Oon banget sih lo, jangan nakut-nakutin Risa gitu," gumam Nadya dengan suara agak dikecilkan.
"Gue gamau boong sama temen sendiri, mending dia tau sekarang daripada taunya nanti kalo gak bawa tugas itu bakal dihukum," sahut Arina polos.
Nadya berdecak kesal, "Ck! Jujur sih jujur tapi nggak gitu juga," ucap Nadya geram.
Risa hanya menatap heran pada kedua kakak-beradik itu, "Kalian mau bantuin gue gak sih? Kenapa malah bisik-bisik segala," gumam Risa kesal.
"Hehe, sorry ris. Bukannya kita gak mau bantuin lo, tapi mau gimana lagi Bu Nuri udah didepan pintu noh," sahut Nadya sambil melirik sinis kearah pintu kelas.
Benar, wanita paruh baya itu sedang berbincang-bincang didepan ambang pintu dengan Bu Ratna -guru mata pelajaran kimia. entah apa yang sedang mereka bicarakan, Risa tidak peduli itu, dia hanya memikirkan bagaimana nasipnya hari ini.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Bu Nuri setelah mengakhiri pembicaraannya dengan guru killer itu.
"Pagi Buu," sahut semua murid dikelas itu serempak.
"Semua kelihatan sangat bersemangat, berarti kalian sudah siap untuk melakukan praktikum?" tanya Bu Nuri.
"Siaap buuu," sahut mereka lagi, terkecuali Risa.
Njir! Kenapa mereka pake jawab siap segala sih, kenapa nggak jawab gak siap aja, dasar kelas penyamun, gaada toleransinya sama sekali! Risa sibuk mengumpat dalam hatinya.
"Kalian semua sudah ada kan barang yang ibu suruh bawa minggu kemarin?"
Bugh! Akhirnya pertanyaan horror itu keluar dari mulut Bu Nuri, sontak membuat Risa tegang sendiri.
"Ada buuu," sahut mereka semua serempak
"Risa lupa bawa bu," teriak salah satu siswi yang tempat duduknya dibelakang tempat duduk Risa.
Arina somvlakk! Dosa apa gue sampe punya temen yang loading-nya lama banget kayak lo. Batin Risa dengan emosi yang hanya diluapkannya melalui pulpen ditangannya, sepertinya sebentar lagi pulpen itu akan terbelah menjadi dua.
Nadya kembali mengeluarkan sumpah sarapahnya dengan nada suara yang sangat dikecilkan namun penuh penekanan disetiap katanya, "Arinaaa.. oon banget sih lo, temen sendiri kenapa pake lo laporin segalaaa," umpat Nadya.
"Benar begitu, Risa?" tanya Bu Nuri pada Risa yang duduknya di meja paling depan.
"I-iya bu," sahut Risa, gugup.
"Bagaimana bisa kamu melupakan tugas dari saya?" tanya Bu Nuri lagi, refleks membuat Risa bergidik ngeri.
Risa mencoba menjawab pertanyaan dari Bu Nuri sesantai mungkin, "Saya lupa nyari bu," sahut Risa.
"Silahkan keluar dan ukur lapangan futsal sekolah selama 20 putaran," perintah Bu Nuri.
Risa menggigit bibirnya kelu, pasrah dengan hukuman apapun yang telah diberikan oleh guru biologi-nya itu. Salah Risa sendiri, mungkin karena dia terlalu sibuk memikirkan jawaban untuk Nathan semalam sehingga dia melupakan tugas yang telah diberikan oleh Bu Nuri.
Dengan sangat terpaksa Risa keluar dari ruangan itu dan mulai berlari kecil mengelilingi lapangan futsal dsekolah yang memiliki panjang 25-43 meter dan lebarnya 15-25 meter itu.
Sementara dikelas..
Revan menghampiri Bu Nuri yang tengah menjelaskan langkah-langkah melakukan praktikum didepan kelas, "Bu, permisi." ucap Revan.
"Lho kemana?" tanya Bu Nuri.
"Saya juga lupa bawa jamur bu, jadi saya mau nyusul Risa," pinta Revan.
Bu Nuri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kenapa kamu bisa sampai lupa?" tanya Bu Nuri lagi.
Revan berdecak, "Kemaren saya kira jamur ditangan saya masih ada, ehh ternyata udah nggak ada karena kemaren saya gandengan sama cewek cantik bu," sahut Revan sambil tersenyum miring dan akhirnya membuat seisi kelas menertawakannya.
Reza bangkit dari kursinya, "Apaa? Mas Revaan, kamu gandengan sama siapa? Aku talak tiga kamu mas," ucap Reza -teman sebangku Revan.
Revan mengernyit jijik. "Najis tujuh turunan, sepertinya virus waria lo itu udah akut banget za, pindah lo dari situ!" perintah Revan.
"Jahat banget kamu mas, aku nggak rela kalo aku dimadu, pulangin aku kerumah orang tuaku." sahut Reza dramatis.
"Madu madu pala lo peyang, sana lo pulang za gausah balik kekelas ini lagi, asli pengen muntah gue." rutuk Revan sangat kesal.
Revan seperti ingin muntah saat ini juga! Bagaimana bisa si kemayu Reza bercanda seperti itu dihadapan Bu Nuri.
"Yeee sarkas banget sih lo, orang cuma becanda juga." sahut Reza yang kini mulai waras.
"b*****t!" umpat Revan.
Bu Nuri sudah tidak tahan dengan ulah para troublemaker itu. "Sudah, sudah. Kalian ini bikin ribut mulu," ucap Bu Nuri.
"Maka dari itu bu, pisahin tempat duduk saya dari titisan mimi peri itu," pinta Revan sambil menunjuk Reza dengan dagunya.
Bu Nuri kembali menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, "Kamu ini van, sudah sana kamu pergi kelapangan, hukuman kamu sama seperti Risa, lari dua puluh putaran." perintah Bu Nuri.
"Makasih banget bu, yaampun saya sangat bahagia karena diberi hukuman semudah itu, dahh bu," sahut Revan sambil memberikan kecupan di udara pada Bu Nuri.
Bu Nuri dan semua murid dikelas itu terkekeh geli melihat ulah seorang Revan Aditya si perusuh.