"Banyak yang bilang persahabatan itu kayak awan mendung, kalo udah selesai yaudah tinggalin. Tapi bagi gue, persahabatan itu saling membahagiakan, termasuk mengikhlaskan DIA dengan orang lain."
----
Pagi ini cuaca sedang cerah, secerah hati Risa yang kini tak henti-hentinya berdegup kencang. Bagaimana tidak, hari ini Nathan akan menjemputnya untuk berangkat ke sekolah bersama.
Risa memandangi pantulan dirinya disebuah cermin dengan ukuran cukup besar yang terletak diatas meja riasnya, dia sangat tampil beda hari ini hanya untuk Nathan. Rambut panjang yang biasanya dibiarkan digerai namun hari ini dikuncir satu, Risa juga mengganti sepatu kets yang sering dipakainya dengan sepatu pantofel agar lebih terkesan girly. Sesuai dengan temanya hari ini, tampil beda.
Ia menuruni anak tangga dari kamarnya menuju ruang tengah, tapi sebelum itu dia memutuskan pergi kedapur untuk sarapan bersama Deby dan mamanya.
Setelah beberapa menit akhirnya ia berhasil menghabiskan menu sarapannya, Risa berpamitan pada Linda, lalu segera bergegas menuju pintu utama.
Jam sudah menunjukkan pukul 6.15 a.m, Risa yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya kini tengah duduk dikursi yang terletak diteras rumahnya itu sambil membuka buku pelajaran.
Sebuah motor sport berhenti didepan pagar hitam kediaman Risa. Bukannya Nathan, malah bocah sableng itu yang datang lebih awal. Seperti biasa, tanpa dibukakan kunci Revan langsung memanjat pagar itu.
"Ris, tumben banget rambut lo dikuncir gitu," Revan menyapa Risa yang tengah sibuk membolak-balikkan lembaran kertas dari satu halaman ke halaman lainnya.
Risa melirik kearah Revan sebentar, "Kenapa? Cantik kan?" ucap Risa.
"Banget," gumam Revan
"Hah? Yang bener van?" sahut Risa antusias sambil memasukkan kembali bukunya kedalam tas.
"Hm," pertanyaan Risa hanya dijawab dengan anggukan oleh Revan.
Sebuah mobil Lamborghini Avendator berwarna putih berhenti tepat didepan pagar rumah Risa. Siapa yang datang? Yang jelas bukan Nathan, karena Nathan biasanya menggunakan motor sport berwarna merah miliknya.
"Lo janjian sama Aldi?" tanya Revan pada Risa yang tengah melongo memperhatikan mobil mewah itu.
Risa menoleh ke arah Revan, "Jadi itu mobil kak Aldi?" Risa malah berbalik tanya pada Revan.
Revan mengernyitkan dahinya heran, "Iya, ngapain dia kesini? Lo janjian?" tanya Revan lagi memperjelas.
"Mana gue tau, orang gue janjiannya sama Nathan, kenapa malah kak Aldi yang dateng," ketus Risa.
"Jadi lo beneran janjian?" sahut Revan, ada sedikit raut kekecewaan diwajahnya
"Iya, tapi sama Nathan bukan sama kak Aldi,"
Benar saja, ketika pintu mobil itu terbuka yang keluar adalah cowok berkacamata yang sangat dikenali Risa, dia Aldi.
"Woy, bengong aja lo pada, gue gak dibukain nih?!" teriak Aldi dari luar pagar.
Risa baru menyadari bahwa Aldi tak senekat Revan yang berani manjat-manjat pagar rumah orang seenaknya.
"Eh- iya kak tunggu bentar," sahut Risa seraya mengambil kunci yang tergantung disamping bel dekat pintu utama, lalu berjalan dan membuka pagar rumahnya, diikuti Revan yang berjalan dibelakang Risa.
"Ada apa kak? tumben kesini," tegur Risa, penuh tanya.
"Nathan gak bisa jemput lo, terus dia nyuruh gue," ucap Aldi.
"Lho kenapa kak? kenapa dia nggak nelpon gue, padahal kan tau kalo dia gabisa jemput, gue bisa berangkat sama Revan," sahut Risa sambil melirik sebentar kearah Revan.
"Ntar gue ceritain, sekarang lo cepet masuk," perintah Aldi seraya membukakan pintu mobil yang letaknya disamping pengemudi.
"Iya deh iya," Risa menuruti perintah Aldi,
"Van, lo berangkat sendiri aja ya," ucap Risa pada Revan yang sedari tadi hanya diam.
Lagi-lagi ucapan Risa hanya ditanggapi dengan anggukan dari Revan, "Hm,"
"Gue duluan,men." sapa Aldi sambil menepuk bahu sebelah kiri Revan.
Revan hanya mengangguk, menatap mobil Lambhorgini berwarna putih itu perlahan mulai menjauh dari pekarangan rumah Risa. Cowok itu tersenyum kecut, mencoba merelakan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.
Inilah resikonya jika bersahabat dengan lawan jenis terlalu lama, pasti salah satu diantara keduanya ada yang jatuh hati, hal itu hanya akan membuat persahabatan menjadi tidak nyaman.
Nyatanya, Risa terlihat lebih bahagia ketika berdekatan dengan Nathan ataupun Aldi. Sedangkan pada Revan? Mereka selalu saja tidak sependapat, hal kecil pun dapat menjadi masalah besar.
Banyak yang bilang persahabatan itu kayak awan mendung, kalo udah selesai yaudah tinggalin. Tapi bagi gue, persahabatan itu saling membahagiakan, termasuk mengikhlaskan lo dengan orang lain. Gumam Revan.
Revan segera menyalakan mesin motornya dan menyusul Risa yang sudah lebih dulu berangkat dengan Aldi.
----
"Lo sama Nathan udah pacaran? udah berapa lama? dan kapan lo jadian?" tanya Aldi sambil melirik sebentar kearah Risa, kemudian kembali fokus mengemudi.
"Kalo nanya satu-satu kak, pertanyaan lo panjang banget, ngalahin panjangnya rel kereta api,"
"Gue serius,"
"Belom pacaran kak, dia baru nembak gue pas satnight kemarin..upss,"
Astaga! Risa baru ingat akan ucapan Nathan malam itu, Nathan mengajak Risa backstreet, artinya Risa tidak boleh bilang apa-apa kepada siapapun perihal itu, tapi Risa baru saja mengucapkan yang sebenarnya pada Aldi, bahkan malam itu juga Risa telah menceritakannya pada Salsa.
Aldi berdecak. "Terus mau lo terima?" tanya Aldi dengan nada tidak suka.
Gue udah basah gini, mending nyebur aja sekalian. Batin Risa.
"Tadi kan udah gue bilang, belom. Lagian kenapa sih lo? keliatan nggak suka gitu gue deket sama Nathan," rutuk Risa.
"Gue nggak mau lo kena masalah."
"Masalah apa? Perasaan gue gaada bikin masalah sama siapapun," bantah Risa.
"Gapapa," sahut Aldi singkat.
"Kalo lo tau sesuatu tentang Nathan yang belum gue ketahui, plis ceritain sebelum semuanya terlalu jauh,"
Aldi memejamkan matanya sebentar, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada Risa saat ini. "Lo yakin mau denger cerita gue?" tanya Aldi meyakinkan.
"Gue yakin selama itu ada hubungannya antara gue sama Nathan."
Aldi menghela nafas berat, mengedarkan pandangannya kearah jalanan yang dilaluinya, dan mulai menceritakan semuanya.
----
Risa dan Aldi sampai didepan gerbang sekolah pada pukul 7.09 a.m.
Beruntung, gerbang sekolah belum ditutup sempurna oleh pak Rojali.
Aldi memarkirkan mobilnya pada parkiran khusus anak kelas dua belas yang cukup jauh dengan ruang kelas Risa. Setelah keluar dari mobil mewah dan mengucapkan terimakasih pada Aldi, Risa segera menuju ruang kelasnya.
Waktu menunjukkan pukul 7.12 a.m, upacara bendera akan dimulai beberapa menit lagi, sontak membuat Risa panik dan berlari sekencang-kencangnya di koridor sekolah. Hampir saja Risa tumbang karena sepatu pantofel yang dipakainya.
Sial! Kayaknya gue emang gak cocok pake sepatu beginian. gerutu Risa dengan nafas yang tak beraturan.
Setelah berlari cukup kencang dan melempar tas-nya dari jendela kelas, Risa segera menuju lapangan sekolah dan ikut barisan paling belakang.