"Van, gue pengen," pinta Risa.
"Ntar aja, belom muhrim." sahut Revan.
Risa berdecak kesal, "Maksud lo apa? Gue pengen dibikinin roti sama s**u kayak lo juga, dasar otak m***m!" gerutunya.
"Eh- kirain lo pengen," kekeh Revan yang akhirnya berhasil membuat Risa marah besar karena ulahnya.
"Revaaaaaaan..!" teriak Risa tidak terima.
Revan pun tak kalah nyaring membalas teriakan Risa hingga akhirnya mamanya Risa— Linda memasuki kamar Risa dan memberikan siraman rohani kepada keduanya.
"Kalian ini kenapa sih berantem mulu," tegur Linda.
Risa memutar bola matanya malas, "Ck! Tau tuh ma si Revan," rutuknya.
Sementara Revan hanya diam, malas meladeni tudingan Risa.
"Nyalahin Revan mulu, coba deh sekali-kali kalian itu akur, kalo akur kan kalian bisa ganti status lebih dari sahabatan," gumam Linda.
"Maksud Mama apa?"
"Maksudnya, Tan?"
Saking kagetnya, Risa dan Revan melontarkan pertanyaan yang sama secara bersamaan kepada Linda.
"Pacaran aja," sahut Linda sesantai mungkin dengan diiringi senyuman diakhir kalimatnya.
"NGGAK!" Risa menolak mentah-mentah perkataan mamanya, sedangkan Revan tersenyum lega karena secara tidak sengaja ia mendapat restu dari orang tua Risa.
Linda tersenyum melihat tingkah laku anaknya, "Ah udahlah, mama sama Deby mau pergi ke resepsi pernikahan anaknya temen mama, kalian jaga rumah," titah Linda.
"Siap tan," sahut Revan gesit.
"Mama bicara sama gue, kenapa lo yang nyahut," rutuk Risa tidak terima.
"Lo nggak denger tadi tante Linda ada bilang 'kalian', berarti gue juga termasuk," ucap Revan berbangga diri.
"Serah lo deh," sahut Risa pasrah.
Linda hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat persahabatan antara Revan dan putrinya yang sedari dulu memang seperti Tom and Jerry itu, perdebatan antarkeduanya tak mungkin bisa berakhir, akhirnya Linda memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
Risa dan Revan menghentikan perdebatan tidak penting itu lalu duduk bersama disofa yang ada dikamar Risa.
"Makanya jangan kasar-kasar jadi cewek, ntar gimana nasip cowok lo? kalo gue yang jadi cowok lo sih gapapa, gue udah kebal." celetuk Revan.
"Apaan sih lo! asal lo tau ya, gue gapernah sekasar ini sama orang selain bocah sableng kayak elo," sahut Risa sambil mengibaskan rambutnya angkuh.
"Maka dari itu, gue harap lo kayak gini cuma sama gue, jangan pernah ngasih sikap kasar lo ini ke orang lain, itu khusus buat gue," ucap Revan sambil tersenyum miring.
Risa mengernyitkan dahinya, "Lo aneh banget van," sahutnya dengan kedua alis yang saling bertautan.
Revan ingin mengungkapkan semua unek-uneknya selama ini, "Ris, menurut lo kalo sahabat jadi cinta itu gimana sih?" tanya Revan.
"Gimana apanya? biasa aja menurut gue," sahut Risa singkat.
Revan berdecak kesal, sahabatnya itu memang sama sekali tidak pernah peka. "Ris, kita kan udah lama sahabatan," ucap Revan dengan maksud memancing Risa agar memahami situasi saat ini namun nihil, Risa beku.
"Teruus?" tanya Risa datar sambil menghidupkan layar ponselnya, mencoba memasukkan beberapa digit angka rahasia untuk membuka kunci layar.
Revan ragu-ragu, "Lo nggak mau lebih dari itu?" tanya Revan to the point.
"Lebih maksud lo lebih apanya?" tanya Risa, belum paham.
Ck! Revan menggigit kelu lidahnya, baru dia sadari bagaimana bisa Risa sepolos itu disaat-saat seperti ini, "Pac-" ucapan Revan terhenti karena ponsel Risa berdenting.
Nathan William Calling
Risa tersenyum kecil ketika melihat nama penelpon yang muncul dilayar ponselnya, lalu ia beranjak dari sofa yang mereka duduki itu menuju kasur, "Bentar.. bentar gue mau angkat telpon Nathan dulu," pinta Risa.
"Hm," Revan berdehem, kaku.
Yang ada dipikiran Revan hanya satu, mengapa Risa terlihat sangat bahagia ketika mengetahui yang menelponnya adalah Nathan?
Revan hanya melihat Nathan yang mengantarkan Risa malam tadi, namun sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya antara Nathan dengan Risa. Sesak, perasaan Revan campur aduk, tulang rahangnya terlihat mengeras dengan kedua tangannya yang dikepal, hanya bisa melampiaskan semua emosinya pada stik ps.
Tak lama setelah itu Risa kembali menghampiri Revan yang pura-pura menyibukkan diri dengan stik ps.
"Lo tadi mau ngomong apa van?" tanya Risa.
Rupanya Risa masih ingat akan hal tadi. Namun sayang, Revan tak akan melanjutkan kalimatnya lagi.
"Emangnya tadi gue ada ngomong sama lo ya?" Revan berbalik tanya dengan nada yang angkuh.
"Ihh lo amnesia ya? jelas-jelas tadi lo mau ngomong sesuatu sama gue, lo sendiri kan yang bilang kalo gajadi ngomong itu ntar bakal gajadi nikah? Nah loh, kemakan omongan sendiri kan lo," cerocos Risa.
"Siapa yang mau ngomong sama lo, idiih kepedean banget lo jadi cewek, kalo gue gajadi nikah yaa gue cari calon yang lain, simple." sahut Revan sambil menoyor-noyor kepala Risa.
"Ngeselin banget lo ya, nih rasaiiin!" rutuk Risa seraya menendang tulang kering Revan.
Revan mendesis kesakitan, "Aduuuh... sakit banget yaampun kalo gue mati lo mau tanggung jawab," celetuk Revan.
"Alay, dasar banci baru juga segitu udah kesakitan," rutuk Risa.
Revan terkapar diatas lantai, ambruk hanya karena tendangan maut dari seorang Thalia Karisa. "Gini nih, cowok apaan, ngelindungin diri sendiri aja gak bisa gimana ntar mau ngelindungin ceweknya," gumamnya.
Beberapa menit berlalu, Revan masih tak sadarkan diri. Hal itu sontak membuat Risa panik bukan kepalang. Yang benar saja, masa iya seorang troublemaker sejati seperti Revan Aditya bisa ambruk hanya karena kaki mungil Risa.
"Van, lo beneran pingsan?" tanya Risa namun dia masih malas menghampiri Revan yang terkapar diatas lantai.
"Van, lo nggak denger gue ngomong?" gumam Risa lagi.
"Yaudah deh gue minta maaf, lo nggak capek apa disitu lama banget,"
Risa sudah tidak tahan, kali ini dia memutuskan untuk menghampiri Revan walau sebenarnya dia malas melakukan hal itu.
"Vannn banguuun," pinta Risa sambil menepuk-nepuk pipi sahabatnya itu.
"Are you okay, van?" tanya Risa dramatis sambil menggerak-gerakkan tubuh Revan.
Risa menatap Revan penuh kekhawatiran, "Van, jangan-jangan lo mati beneraan? Revaaaaan gue minta maaf, masa lo mati gitu aja sih? Gak elit banget tau nggak mati gara-gara ditendang cewek, vaaan cepetan bangun vaan, terus siapa lagi yang ngajak gue berantem?! ntar kartun Tom And Jerry gak ada yang mau nonton karena kurang asik gaada Tom-nya," cerocosnya.
Tanpa Risa sadari, Revan kini tengah tersenyum karena tingkah lucu Risa. Sialnya, Risa dijebak!
Risa terisak, "Van, gue mohon lo bangun sekarang," ucap Risa dengan tangisan bombay-nya.
"Kasih nafas buatan dulu, baru gue bangun." sahut Revan dengan gelak tawa kemenangan diakhir kalimatnya.
Risa menyingkir, "k*****t! Gue dijebak!"