b******n! Seseorang di sebrang sana sangat tidak terima setelah mengetahui hal itu. Emosinya meluap-luap tanpa sepengetahuan Risa.
"Makasih udah nganterin gue," ucap Risa sembari melepaskan helm yang dipakainya dan memberikannya kembali pada Nathan.
"Iya, masa gue tega nggak nganterin tuan putri sampe istana nya dengan selamat," sahut Nathan sambil melemparkan senyuman penuh arti pada Risa.
"Gombal banget lo ya," celetuk Risa.
"Beneran. Abis ini langsung tidur, ya, terus mimpiin gue," kekeh Nathan.
"Ih apaan sih lo, udah sana pulang! Dan satu lagi, lo jangan kebut-kebutan di jalan," perintah Risa.
"Iyaa iyaa sayang," sahut Nathan.
Risa hanya mengernyitkan dahinya, seolah-olah ingin menutupi pipi nya yang kini semerah tomat karena ulah Nathan.
"Hm, yaudah gue pulang dulu," pamit Nathan sambil menyalakan mesin motornya dan perlahan menjauh dari pekarangan rumah Risa.
"Iya hati-hati," sahut Risa dengan tangan yang melambai kearah Nathan.
Lagi-lagi Nathan membuatnya salting sendiri, Risa tidak menyangka jika Nathan akan mengutarakan perasaannya secepat ini, sungguh ini adalah hal yang tak terduga. Padahal perkenalannya dengan Nathan baru beberapa hari ini, tapi Nathan mampu membuat perasaannya membuncah.
Bimbang, itulah yang dirasakan gadis itu sekarang. Bingung atas jawaban apa yang akan dikatakannya pada Nathan. Secara Nathan adalah kakak kelasnya, dan Risa tau teman-teman perempuan dikelas Nathan terkenal dengan rempongnya, suka bully adek kelas.
Di akui memang benar Nathan adalah kriteria yang pas menurut type Risa. Hal ini cukup membuatnya seolah seperti orang kurang waras, dari tadi dia hanya menggigit bantalnya dan berguling-guling, gemas dengan keadaan.
Akhirnya, Risa memutuskan untuk bercerita dengan teman sebangkunya. Risa segera membuka roomchat-nya dengan Salsa.
Karisathalia
Sa, gw mau curhat.
Salsasafedericha_
Yaudh,curht aja, mmpung gw blm tdr
Karisathalia
Nathan nembk gw, gimana?
Salsasafedericha_
Hah yang bner? Apa ny yg gmna? Kalo lo suka, ya terima aja.
Karisathalia
Mslhnya, dia itu kaka kls
Salsasafedericha_
Yaudah kalo lo gmau terima, buat gw aja.
Karisathalia
Enak aja, susah tau naklukin cogan kyk dia.
Salsasafedericha_
Nah mkanya, udh terima aja, nanggung.
R.
Deg. sebulir keringat dingin menetes dipelipisnya. Risa menghela nafas berat. Bimbang, kata yang pas untuk mewakili perasaannya saat ini, akhirnya Risa memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna putih dan merehatkan dirinya dikasur, tak lama setelah itu bayangan Nathan tak lagi ada dipikirannya, dia tertidur.
***
Hari Minggu menurut Risa adalah hari untuk bermalas-malasan, kemungkinannya keluar kamar hanya 0,3%
Biasanya bocah sableng itu sudah ada didepan kasur Risa dengan stik ps ditangannya. Tapi kali ini tidak ditemui Risa jejak seorang Revan disana.
Syukur deh, hari ini gaada yang bikin rusuh dirumah gue. Batin Risa.
Tidak sampai lima menit Risa bersyukur, bocah sableng itu kini telah membuka pintu kamar Risa seolah kamar miliknya sendiri.
"Baru bangun?" sapa Revan sambil mendelik sebentar kearah Risa.
Risa mengucek matanya malas, "Menurut lo?" sahut Risa.
"Pantesan bau kebo," gumam Revan seraya menyalakan televisi yang letaknya disudut kamar Risa.
"Bangke lo ya, ngatain gue kebo terus lo apanya? dasar kambing." gerutu Risa.
"Bales nih ceritanya?" ucap Revan dengan nada seolah malas beradu cek-cok dengan Risa.
"Au ah," sahut Risa sebal.
Sebenarnya ada satu hal yang ingin disampaikan Revan saat ini namun dia takut jika itu akan menghancurkan persahabatannya dengan Risa. Tidak bisa, Revan kembali fokus menonton kartun Spongebob Squarepants pagi ini.
Dan Risa juga sebenarnya ingin menceritakan apa yang terjadi semalam dengan Nathan, tapi dipikir karena Revan adalah bocah tersableng menurut Risa, dia mengurungkan niatnya untuk bercerita.
Risa berjalan pelan melangkahkan kaki menuju pintu kamarnya, dengan baju tidur berwarna putih yang masih dipakainya.
"Lo mau kemana?" tanya Revan.
"Mau kedapur, kepo banget sih lo." rutuk Risa.
Revan tersenyum miring, "Yakin?" pertanyaan Revan berhasil membuat tatapan horror Risa kini terfokus padanya.
"Maksud lo apaan sih,gaje banget sumpah!" celetuk Risa.
"Kemaren lo mau tidur ngapain dulu?" tanya Revan memperjelas.
"Lo nanya pertanyaan yang sama sekali gaada manfaatnya, udah ah gue mau keluar," rutuk Risa seraya melanjutkan langkah kakinya.
Tawa Revan pecah seketika, "p****t lo ada tomatnya," ucap Revan to the point sambil melirik kearah belakang Risa.
Risa membulatkan matanya seketika, dan menoleh kearah belakang tubuhnya. tidak percaya bahwa Revan baru saja melihat hal memalukan itu untuk kesekian kalinya.
"Anjiirrrr, hari ini tanggal berapaaa?" teriak Risa dengan lari terbirit-b***t menuju kalender yang tertera diatas nakas.
Revan hanya terkekeh geli melihat tingkah laku sahabatnya itu. Selalu saja begini, bukan hanya sekali tapi beberapa kali hal itu terjadi pada Risa dihadapan Revan. Diakui memang salah Revan, terlalu nekat masuk kamar cewek, sehingga hal yang seharusnya tidak dilihatnya menjadi harus dilihatnya saat ini. Bagi Revan, Risa sangat menggemaskan.
Dengan sigap Risa mengambil handuk dari lemari pakaiannya dan mengurungkan niatnya untuk kedapur, karena menurutnya hal yang satu ini lebih penting dari apapun.
Risa berdecak saat memasuki bilik kamar mandi,
"s**l! kenapa gue ceroboh banget sih," gumamnya.
Setelah kurang lebih satu jam, Risa akhirnya keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian sehari-hari yang dikenakannya.
Risa melihat sekelilingnya, sepertinya bocah sableng itu kini telah pergi meninggalkan kamarnya, namun televisi masih menyala menayangkan kartun yang sama.
Kedatangan tamu tak diundang memang masalah bagi setiap perempuan. Jika ia datang, perempuan yang semula lemah lembut bisa saja berubah menjadi singa betina yang sedang kelaparan. Jadi, jangan coba-coba mengusik ketenangan-nya, karena hanya akan menimbulkan suatu kemarahan besar dari empunya.
Krkkk!
Pintu kamar Risa terdorong pelan, Risa membelalakkan matanya, ternyata dia salah mengira bahwa bocah sableng itu telah pulang ke habitatnya, nyatanya dia kembali masuk ke kamar Risa dengan membawa segelas s**u dan roti lengkap dengan selainya. s**t! ternyata Revan keluar hanya untuk mengambil makanan.
Risa mengernyitkan dahinya, "Gue kira lo udah pulang," ucap Risa.
"Ngapain pulang, toh disini lebih nyaman, lebih adem, dan bikin gue kenyang." sahut Revan sesantai mungkin sambil mengunyah roti yang dibawanya.
"Ishh.. emang ngeselin," gumam Risa yang hanya bisa menelan ludah karena ulah Revan. "Van, gue pengen," tambah Risa lagi.
"Ntar aja, belom muhrim." sahut Revan.
Risa berdecak kesal, "Maksud lo apa? Gue pengen dibikinin roti sama s**u kayak lo juga, dasar otak m***m!" gerutunya.
"Eh- kirain lo pengen," kekeh Revan yang akhirnya berhasil membuat Risa marah besar karena ulahnya.
"Revaaaaaaan..!" teriak Risa tidak terima.