RISA tengah berguling-guling dikasurnya dengan seragam sekolah yang masih lengkap setelah mendapatkan pesan singkat dari Nathan sepertinya Risa jadi gemas sendiri seolah-olah ingin jungkir balik.
Mengingat bagaimana tadi cara Nathan meminta id line-nya dengan mendatanginya keruang kelas. Risa terus saja senyam-senyum dari pulang sekolah tadi hingga sekarang.
Drrrt!
Ponselnya bergetar, sebuah pesan LINE dengan nama pengirim nathaaanwlliam_ berhasil membuatnya berteriak keras kegirangan.
nathaaanwlliam_ : dandan yang cantik, sepuluh menit lagi gue nyampe dirumah lo.
"Hah? maksudnya Nathan ngajakin gue satnight nih? Mamaaaaa..!!" teriakan Risa menggelegar hingga membuat Deby dan mamanya mendatangi Risa dikamar itu.
"Kenapa kamu ris?" tanya Linda ketika membuka pintu kamar Risa.
"Hehe gapapa mam, Risa boleh keluar nggak?" sahut Risa.
Linda mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya diinginkan putrinya itu "Keluar kemana? maksud kamu malam mingguan?"
"Iya ma, boleh yaaah.. pliss.." pinta Risa dengan eyes sparkle-nya.
"Kamu mau jalan sama siapa? Kalo sama Revan sih boleh-boleh aja," sahut Linda.
"Nggak mam, aku mau jalan sama kak Nathan, dia yang pernah benerin motor aku waktu motor aku mogok, dia baik kok, izinin yah mam.." pinta Risa.
"Hm,"
"Boleh yaaa.. mama kan cantik, maniss, baikkk.." goda Risa.
Karena Linda tidak ingin mendengar rayuan maut dari putrinya itu akhirnya dia mengizinkan Risa untuk pergi keluar. "Ahh kamu kalo ada maunya aja baru muji-muji mama, yaudah mama izinin tapi pulangnya jangan kemaleman,"
"Hehe, makasiih ma," sahut Risa sambil mencium pipi sebelah kanan mamanya.
"Ma, lanjutin bacain dongeng yang tadi, Deby mau tidur," ucap Deby sambil mengucek matanya.
"Iya sayang," sahut Linda sambil membopong tubuh Deby kembali ke kamarnya, meninggalkan Risa yang sedang berdiri mematung disana.
Risa kini tengah bimbang memilih baju apa yang akan dikenakannya, isi lemarinya sudah terhambur bak kapal pecah. Setelah lama memilih, Risa memutuskan untuk memakai kemeja berwarna merah marun dengan jeans hitam yang senada.
Rambutnya dibiarkan digerai, Risa hanya menggunakan bedak bayi dan sedikit liptint dibibir mungilnya, dia tidak suka dandanan menor, apalagi sampai menggunakan pensil alis, dia sangat anti dengan benda itu.
Tak lama setelah itu bel rumah Risa berbunyi, Risa segera beranjak dari kamarnya menuju ruang tengah, lalu membuka pintu.
"Hai," sapa Nathan yang sudah berdiri tegak didepan pintu rumah Risa.
"Hai," Risa membalas sapaan Nathan dengan gelagapan.
"Yaudah, kita langsung berangkat yuk," ajak Nathan.
"Eh- kemana?" tanya Risa.
"Kemana pun itu, udah lo ikut gue aja," sahut Nathan.
"Hm," Risa mengangguk pelan.
Nathan menarik lengan Risa hingga mereka tepat berdiri didekat motor sport merah miliknya, "Nih pake," ucap Nathan sambil meletakkan sebuah helm dengan kaca cembung ditangan Risa.
"Niat banget kayaknya ngajakin gue satnight sampe bela-belain bawa helm kayak gini, warnanya pink lagi," gumam Risa seraya memakaikan helm itu dikepalanya.
"Pede banget lo," sahut Nathan sarkas.
"Ishh.. emang bener kan,"
"Udah cepetan naik, banyak omong." rutuk Nathan.
"Iyaaa iyaa,"
Nathan menyalakan mesin motornya, lalu mereka berangkat menyusuri jalanan ibukota. Setelah beberapa menit diperjalanan, Nathan menghentikan laju motornya di alun-alun kota, tempat itu memang tempat yang pas untuk menikmati malam minggu.
Mereka menduduki bangku taman yang letaknya tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasangan yang ada disana.
"Lo suka eskrim?" ucap Nathan memecah keheningan.
"Suka, banget malah." jawab Risa antusias.
"Lo tunggu disini, gue kesana bentar." Sahut Nathan sambil menunjuk objek dengan dagunya.
Setelah beberapa menit, Nathan kembali dengan dua buah eskrim yang diletakkan ditangan sebelah kiri dan sebelah kanannya, dia menyerahkan kedua eskrim itu untuk Risa.
"Ini buat gue? makasiiiih," ucap Risa excited.
"Sama-sama," sahut Nathan.
Risa menyeruput eskrim itu, sedangkan Nathan hanya melemparkan senyuman ketika melihat Risa yang memakan es krim tanpa jaga image sekalipun didepannya,
Nathan mendekatkan tubuhnya pada Risa, sontak membuat Risa kaget dan mulai berpikiran aneh.
"Lo mau ngapain?" tanya Risa dengan raut wajah sedikit takut.
Nathan mengusap sudut bibir gadis itu, tanpa memperdulikan ocehan dari empunya.
"Kenapa lo tutup mata? Berharap gue nyium lo?" Nathan terkekeh geli ketika melihat Risa yang menutup kelopak matanya, hal itu membuat Risa cukup malu.
"Siapa yang berharap dicium sama lo? pede bangeeet," rutuk Risa tidak terima.
"Ngaku deh, kalo mau dicium beneran juga gapapa," kekeh Nathan.
"Apaan sih lo, ternyata otak lo m***m juga ya, ga seperti yang gue bayangin," gumam Risa.
"Jadi lo biasanya bayangin gue?" sahut Nathan.
"Nggak, udah ah. Pulang yuk, ntar kemaleman gue dimarahin," pinta Risa.
"Tapi ini kan baru bentar, Ris," sahut Nathan lagi.
"Gapeduli, pulang ae pokoknya." perintah Risa yang akhirnya mendapat anggukan kecil dari Nathan.
Waktu menunjukkan pukul 21.36,
Nathan berjalan menuju parkiran dengan kedua tangan yang dimasukkan disaku celananya, "Bisa pelanin jalan lo nggak sih? Sok-sokan ngajak gue jalan, taunya gue malah ditinggal gini," gerutu Risa yang berjalan dengan jarak kurang lebih dua meter dibelakang Nathan.
"Yaudah sini, mau gue gandeng apa mau gue gendong?" tawar Nathan seraya menghentikkan langkah kakinya.
"Idiiih, sok manis," gumam Risa kesal.
"Gue emang manis dari dulu, dan hidup gue bakal lebih manis lagi kalo lo mau jadi pacar gue," sahut Nathan.
"Hah? Maksud lo apa, Than?" Risa melongo ketika mendengar perkataan Nathan tadi,
"Gue tau ini terlalu cepat, tapi gue harap lo mau nerima gue, niat gue baik kok, gue serius sama lo,"
"Maksud lo apa? Gue nggak paham than,"
"Ck! Gue nembak lo, dan lo mau nggak jadi pacar gue? Kasih jawaban sekarang, karena gue gabisa nunggu,"
"Than, lo serius?"
"Gue serius, kalo nggak serius kenapa gue bela-belain jemput lo kayak tadi, asal lo tau gue sebelumnya gapernah nganter cewek sampe rumahnya apalagi sampe ngejemput," jelas Nathan.
"Gue akui lo tipe gue banget, Than. Tapi gue perlu waktu buat mikir tentang ini, dan lo itu kakak kelas gue, gue takut jika gue terima lo gue bakal jadi bahan bully-an kakak kelas," sahut Risa.
"Iya gue paham, gue ngajakin lo backstreet dulu, ntar dihari kelulusan gue bakal ngumumin kalo lo pacar gue diatas panggung, lo bisa pegang janji gue," ucap Nathan sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Than, gue... gue perlu waktu,"
"Yaudah gue kasih waktu tiga hari buat jawab pertanyaan gue." pinta Nathan. "Dan jangan lupa, Senin ntar lo harus berangkat ke sekolah bareng gue," tambahnya.
"I-iya," sahut Risa.