13. Shocked

1009 Kata
Akhirnya, Revan memilih pergi ke uks untuk tidur dengan tentram disana, sepertinya jika Revan terus-terusan berada disini, virus waria yang diidap Reza akan menyebar ditubuhnya, dan Revan tidak mau hal itu terjadi. Revan memasuki bilik uks tanpa melepas sepatunya, bukannya Revan tidak menaati peraturan yang ada, tapi sepertinya Revan lupa kalo masuk uks harus lepas sepatu dengan alasan menjaga kebersihan. Dia memilih kasur yang letaknya dipojok ruangan, alasannya klasik karena tempat itu adalah tempat yang cukup gelap dan dekat dengan kipas angin, dia harap tidak ada serangga pengganggu yang akan mengacaukan tidurnya. Disaat Revan membaringkan tubuh dan mulai memejamkan matanya, suara berisik terdengar disebelah bilik yang hanya terhalat oleh gorden. Karena penasaran, Revan memilih untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Seorang gadis berambut pirang dengan kotak p3k yang tergeletak diatas lantai, isinya sudah tercecer kemana-mana, rupanya suara berisik tadi sumbernya dari sini. Gadis itu kemudian berdiri lalu menatap Revan dari ujung mata kaki hingga ujung rambut, "Siapa yang nyuruh lo pake sepatu masuk kesini?" gadis itu menggretak kasar ketika melihat sepatu yang dikenakan Revan. Revan menatap kebawah, "Sorry, gue lupa nyopot," sahut Revan santai. "Lo kena denda lima ribu karena udah melanggar peraturan disini," "Denda? Emang lo siapa berani bilang gitu sama gue?" sahut Revan sambil melirik kearah badge kelas XI di lengan sebelah kanan gadis itu. "Apa karena lo kakak kelas?" tambah Revan lagi. "Gausah bacot, lepas sepatu lo sekarang atau dendanya mau gue tambahin?" rutuk gadis itu sembari meletakkan kotak p3k kedalam sebuah lemari. "Yaudah nih gue lepas," sahut Revan seraya meletakkan sepatunya kedalam rak yang sudah disediakan. Revan mengeja name tag yang terletak dibawah kerah baju sebelah kanan gadis itu "Viola Artesya," "Kenapa?" tanya gadis itu sarkas. "Nama lo bagus," ucap Revan. "Makasih," sahut gadis yang tadinya kasar tiba-tiba berubah jadi lembut. "Kenalin, nama gue Revan Aditya," Revan memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya pada gadis itu. Gadis itu menyambut tangan yang diulurkan Revan, "Gue Vio," sahut gadis itu, lalu melepaskan tangannya dan meninggalkan Revan yang masih menganga seolah ingin berbicara namun tidak jadi. Aneh. gumam Revan. Bukannya tidur tentram yang didapatkannya, Revan malah tidak dapat tidur sama sekali disana, selalu ada saja yang mengacaukan pikirannya. Belum lagi kecemburuannya terhadap Risa yang tadi pergi entah kemana dengan Nathan. Dipikir aneh memang, jika jam kosongnya lama begini kenapa nggak dipulangin aja semua muridnya, batin Revan. Dia pun segera meninggalkan bilik itu dan berniat pergi ke kantin. Ditengah perjalanan ke kantin, Revan melihat dua sejoli yang sepertinya tengah berdebat entah apa itu didekat taman sekolah, Revan mencoba untuk tidak peduli namun ada satu hal yang mengharuskannya tau dengan apa yang mereka bicarakan. Betapa terkejutnya Revan ketika dia mendengar perdebatan antar keduanya, dia menggeram kesal hingga kakinya tak sengaja menendang pot bunga yang ada didekatnya, sontak membuat pasangan yang sedang beradu cek-cok itu menoleh kearah Revan berada, perlahan Revan menjauh dengan berjalan mengendap-endap agar tidak diketahui oleh mereka. Sebuah tangan menepuk keras bahu Revan, "Lo ngapain men?" sapa Adit. "Eh elo, curut." Revan kaget. "Wong ganteng gini kok dibilang curut," sahut Adit. "Ganteng sih ganteng, tapi poni lo itu udah kayak talang aer," ucap Revan sambil melirik ke arah jambul khatulistiwa milik Adit. "Ah bisa aja lo van, btw lo ngapain jalan kayak gitu? lo abis maling ya?" tanya Adit. "Gapapa. gue mau kekantin, lo mau ikut?" sahut Revan sesantai mungkin. "Gue juga tadinya mau kesana, tapi nungguin Reza dalem wc lama banget yaudah gue tinggalin," Revan yang memiliki sifat netral, sehingga jika berbicara dengan Adit Revan juga ikut-ikutan i***t. "Anjirr, ngapain dia dalem wc? udah coba lo intip?" "m********i," sahut Adit. "What?" Revan kaget. "Haha ekspresi lo men tolong dikondisikan! Lagian ngapain gue ngintipin tu mak lambe dalem wc, takutnya gue kebawa nafsu," Tawa Revan pecah ketika mendengar kalimat 'takutnya gue kebawa nafsu'. "Yang bener aja lo, masa nafsu sama yang begituan," sahut Revan. "Najis! kan tadi lo yang mulai becanda, yaudah gue lawan, lagian gue masih normal kok van, masih banyak cewek bohay disekolah ini, yakali gue mau nafsu beneran sama yang jadi-jadian gitu," celetuk Adit. "Serah lo deh, jadi kekantin gak nih?" tanya Revan. "Jadi laaah, udah laper gue." sahut Adit. "Oke, tapi duit gue ketinggalan dikelas, jadi.." belum selesai ngomong, mulut Revan dibekap oleh tangan Adit. "Gausah kode-kodean, gue traktir." ucap Adit "Otewe, peka banget sii jadi gemes gue sama lo," gumam Revan. Adit mengernyitkan dahinya, temannya yang satu ini memang sering ngasih kode buat minta dibayarin, "Hm," Adit berdehem pelan. Baru beberapa langkah mereka menuju kantin, teriakan seseorang dari arah belakang membuat Revan dan Adit sontak menoleh ke arah sumber suara. "Woyy, lo pada jahat banget ninggalin gue, gue terkunci dalem wc gaada yang bantuin, dasar temen laknat ya lo pada," teriak Reza dengan gaya kemayu khas-nya. "Yang bener lo kekonci dalem wc? rasain! lagian suruh siapa lo kelamaan ber-o***i disana," rutuk Revan. "Hah? Maksud lo apa? wah ada yang gak bener nih, pasti ulah Adit," Reza mencoba menebak-nebak. "Hehe pisss," kekeh Adit. Sebenarnya, Reza tidak sekemayu yang kalian kira, dia cowok tulen. Hanya saja terkadang dia bertingkah konyol untuk membuat teman-temannya tertawa, tapi becanda-nya Reza selalu dianggap serius oleh teman-temannya. Nasipmu za. Pembicaraan yang sama sekali tidak penting itu berakhir, mereka bertiga melanjutkan niat mereka untuk pergi ke kantin. ---- Setelah menghabiskan mie instan rebus dan beberapa ciki-cikian serta minuman yang mereka pesan, Adit mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari dompet dan memberikannya pada bi kantin, kali ini bukan hanya Revan yang ditraktir, tetapi juga si kemayu, Reza. Mereka kembali kekelas, "Van, itu bukannya si Risa ya?" gumam Adit sambil menunjuk gadis yang sedang berdiri dengan laki-laki di ambang pintu. "Buset dah, cuaca lagi panas gini masih sempet-sempetnya mereka mesra-mesraan, didepan pintu lagi, kenapa gak sekalian dibelakang sekolah aja biar greget," tambah Reza. Revan mengepalkan kedua tangannya, rahangnya terlihat mengeras, perasaannya yang tidak dapat dibendung lagi selalu dia coba untuk menutupinya, ada satu hal yang berhasil menguatkannya, namun tidak dapat diungkapkannya sekarang karena itu hanya akan menyakiti sahabatnya. "Mas Revan, bengong ae lu," gumam Reza sambil menyentuh pundak Revan. "Lo berisik," sahut Revan datar. "Gue ikutin cara main lo," tambahnya lagi. "Cara main apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN