"Sakit, b**o! Main cubit-cubit aja, nyesel gue nyamperin lo ke sini," rutuk Risa tidak terima.
"Double chin, dagu lo nambah kalo lagi marah," sahut Revan diiringi dengan gelak tawanya, pecah.
Gadis itu tidak terima dengan perkataan Revan. "Maksud lo apa ngatain dagu gue ganda? hah?" rutuknya.
"Gapapa, udah sana lo kembali ke habitat lo gih," usir Revan.
Risa mendengus kesal. "Gue emang mau pergi. Udah disamperin juga, dasar sableng bisanya cuma bikin gue kesel!" gerutunya seraya berjalan menuju kursinya dengan kaki yang hentakannya mengalahkan hentakan kaki raksasa.
"Astaga. Lo kenapa, Ris?" pekik Diva.
"Gapapa, kesel gue nyamperin makhluk kayak dia, bukan cuma sableng ternyata dia juga astral." Risa menggerutu kesal.
"Emangnya dia bilang apa sama lo?"
"Masa dagu gue dikatain ganda," gumam Risa tidak terima.
"Emang bener kok, Ris. Pipi lo kan tembem gitu ya jelas lah dagu lo jadi dua, apalagi kalo ekspresi lo lagi kayak gini nih," sahut Diva sambil menunjukkan ekspresi muka membekam layaknya angry birds.
"a***y, muka lo serem banget, Div." Risa tidak dapat lagi menahan gelak tawanya karena ulah Diva. Kekesalannya pada Revan seketika hilang dari ingatannya.
"Ishh.. sereman mana sama ditinggal pas lagi sayang-sayangnya," ucap Salsa sok dramatis dengan buku tebal yang sedari tadi dibacanya.
"Baperan amat neng," kekeh Risa.
"Gimana gamau baper, Ris. Gombalannya s***s bener, siapa coba yang gak kepancing," sahut Nadya.
"Emangnya yang kalian maksud siapa?" tanya Risa heran.
"Kepo kayak spongebob lo, Ris," gumam Arina yang juga tidak kalah bicara namun akhirnya ditertawakan oleh teman-temannya. "Kenapa ketawa?" tanya Arina tanpa menyadari bahwa dia telah salah mengucapan nama kartun yang dimaksudnya.
"Ampun, Rin. Yang kepo itu Dora! Plis jangan bawa-bawa Mr. Squarepants gak ada sangkut pautnya woy!" sahut Salsa diiringi tawanya yang pecah.
"Lo pada dari tadi gak ada yang ngajak gue ngomong, ga dianggep nih gue ceritanya?" rutuk Rara seketika menghampiri teman-temannya yang sedang duduk dikursi yang susunannya sudah acak-acakan itu.
"Sorry, Ra. Lagian bukannya lo lagi sibuk mantengin cowok cantik idaman lo yang lagi live itu, Ra? Jadinya kita gak mau ganggu lo," kekeh Diva.
"Kuota gue abis, yaudah sekarang gue mau gabung," sahut Rara.
Risa tersenyum penuh arti. "Cieee, akhirnya hari ini kita bisa ngumpul kayak gini, biasanya yang sering nyambung kan cuma ber-empat,"
"Bersyukurlah karena ada hikmah dibalik kuota Rara yang abis dan ponsel Diva yang lagi di-charger," gumam Salsa dengan cengiran khas-nya.
"Ahh gue kangen banget ngobrol kayak gini sama kalian, berasa lengkap aja. Lo berdua kan biasanya cuma sibuk sama gadget masing-masing," sahut Nadya dengan maksud kata 'lo berdua' ditujukan untuk Rara dan Diva.
"Iya gue juga kangen sama lo pada," tambah Rara lagi.
Risa dan teman-temannya terlihat sangat senang hari ini, pertemanan mereka terasa lebih berarti. Namun tanpa sepengetahuan Risa, ada sosok yang sedari tadi memperhatikannya dengan senyuman yang penuh arti, Revan.
Gue bahagia liat lo bisa ketawa lepas, meski penyebabnya bukan gue. Batin Revan
***
Surga kecil untuk para murid dikelas X IPA-1 sederhana, cukup jam kosong selama lima jam pelajaran sudah membuat mereka bahagia karena terbebas dari rumus-rumus yang sudah menjadi makanan mereka sehari-harinya.
Kebetulan, guru-guru sedang sibuk rapat mempersiapkan tanggal dan waktu untuk melaksanakan simulasi bagi siswa dan siswi kelas dua belas. Dampaknya bagi kelas sepuluh dan sebelas adalah jam kosong, tercinta.
Ada sebagian yang memanfaatkan waktu berharga itu untuk tidur, mojok dikantin, ngerumpi, nga-fangirl, dengerin lagu, cetok rambut, dan nyanyi-nyanyi gajelas tanpa memperdulikan suara bagus atau tidaknya seperti yang sedang dilakukan Revan, Reza dan Adit.
Kali ini bukan Revan yang menjadi vokalis, tapi Reza. Lagu yang dinyanyikannya pun bukan lagu yang sama seperti kemarin, kali ini penampilan mereka lebih beda.
Pak ketipak ketipung, suara galon tanpa pemilik itu bergema di seisi ruang kelas, membuat seluruh anggota kelas melirik ke arah tiga troublemaker itu.
"Berisik woyy," rutuk salah satu siswi yang merasa terganggu karena bunyi suara galon itu lebih besar daripada volume musik yang sedang didengarkannya.
Aku bukan pengemis cintaaaa... uuuhhh
Yang slalu harus mengalah... eeaaa
Bila diputuskan cinta.. aaa..
Dari sang kekasih...
Reza dengan tampang kemayu nya nampak sangat menikmati lagu dari Jhonny Iskandar - Bukan Pengemis Cinta, itu.
Revan memainkan ukulele walaupun tidak seirama dengan lagu yang dinyanyikan oleh Reza.
Dan Adit yang sangat lihai memainkan galon tak ber-ibu itu seolah-olah gendang.
Tiga troublemaker, mungkin itulah julukan yang pantas diberikan kepada mereka bertiga, selalu ada saja ulah tidak terduga yang terjadi dalam kelas.
Salsa mengernyit jijik. "Kayaknya Adit dan Revan sudah terkontaminasi virus Reza deh," ucap Salsa.
"Bener tuh, baru gue temui ketua kelas yang kelakuannya kayak gitu, untung ganteng," tambah Nadya.
Sementara Risa, ia hanya diam dan malas berkomentar. Risa masih kesal dengan perkataan Revan tadi, ia paling tidak terima jika ada yang menyebut-nyebut masalah dagunya.
"Sawerannya neng, eeaa." Reza berputar-putar menirukan gaya penari ballet mengelilingi barisan Risa dan teman-temannya.
"Saweran saweran pala lo peyang, udah jauh-jauh sana! Lo mau gue suntik rabies?" rutuk Salsa sangat kesal.
Berani-beraninya Reza mengusik ketenangan singa betina yang sedang lapar, jelas saja membuat Salsa marah besar.
Melihat Salsa yang mulai mengamuk. "Gila, serem banget," gumam Reza dengan nada suara yang dikecilkan agar tidak terdengar oleh empunya.
Reza memilih untuk kembali ke posisi awal di mana tadi dia berada, dan melanjutkan nyanyiannya tanpa memerdulikan tatapan horor dari Salsa yang masih saja terbayang dimatanya.
Wanita bukan engkau saja... yeaah..
Yang ada dalam dunia...
Cantik bukanlah utama.. huuuh..
Menghiasi jiwaa..aaa..
Revan berdecak sambil meletakkan ukulele yang dimainkannya ke atas meja. "Udah ah gue capek," menghentikan Reza yang saat itu tengah asik bernyanyi.
"Eh, gak asik lo, Van. Masa gitu aja capek," sahut Reza kesal. "Biasanya pas malam lo lebih semangat dari ini," tambahnya.
"Emang pas malam ngapain?" tanya Adit, belum paham.
Reza terkekeh geli memikirkan kata yang akan dia ucapkan "Nganu,"
"Etdah, yang bener lo? sama siapa?" tanya Adit penasaran.
"Ya sama ekke lah, sama siapa lagi, kalo bang Revan berani nyelingkuhin ekke bakalan ekke talak tiga," canda Reza yang akhirnya ditertawakan oleh Adit.
Revan berdecak kesal. "Najis!"
Akhirnya, Revan memilih pergi ke uks untuk tidur dengan tentram disana, sepertinya jika Revan terus-terusan berada disini, virus waria yang diidap Reza akan menyebar di tubuhnya, dan Revan tidak mau hal itu terjadi.