“Jadi maksudnya, yang saya lihat tadi itu cuma ilusi?” Lana mengangguk, mengamini apa yang Jeffrey tanyakan, seraya mengupas buah jeruk di tangannya. “Makanya saya kaget tiba-tiba ditarik sampai ngegedebruk di aspal. Orang-orang juga,” balas Lana. “Insomnia parah kamu yang udah bikin kamu kayak gitu. Sampai mimisan. Kamu, tuh, sebenarnya—“ “Iya, saya salah karena saya nggak bisa tidur tiap malam mikirin kamu. Saya salah karena saya rindu kamu sampai saya nemuin banyak bayangan kamu di setiap sudut kamar mana pun. Saya salah,” gerutu Jeffrey. Lana menghela napas panjang. Menyumpal mulut Jeffrey dengan buah jeruk yang sudah dia kupas, sampai lelaki itu terdiam merengut. “Saya cuman mau ngehukum kamu, dan mastiin gimana perasaan kita sebenarnya. Saya nggak tahu kalau keadaan kamu bisa sek

