Lana memperhatikan wanita bergaun merah muda pucat di hadapannya. Wanita berambut hitam lurus sepunggung, dengan kulit putih cerah, dan senyuman menawan. Sungguh, dia selalu bagaikan bidadari. Cantik, anggun, feminin, dan elegan. Lana yang seorang perempuan pun sering kali terpesona dengan wanita tersebut, bagaimana dengan laki-laki? “Kak Yuna?” gumam Lana, bertanya. Wanita itu melebarkan senyum. Berjalan ke hadapan Lana sambil merentangkan tangan, dan menarik tubuh Lana ke dekapan, seperti seorang ibu—atau seorang kakak, yang sangat penyayang. “Apa kabar?” tanyanya setelah melerai pelukan. “Maaf karena baru bisa datang hari ini dan nggak bisa menghadiri pernikahan kalian.” “Ah, nggak apa-apa. Ayo, masuk!” ujar Lana, memiringkan tubuh untuk memberikan akses agar Yuna bisa masuk ke dala

