Vanila menatap sosok Gara yang berdiri di depan pintu rumah-nya. Menatap dengan datar, tidak seperti Gara yang pernah Vanila kenal sebelumnya. Gara telah banyak berubah. Dan Vanila tahu bahwa itu salahnya sendiri. “Masuk,” gumam Vanila pelan. Ditatapnya dengan lekat sosok tinggi Gara yang duduk di sofa ruang tamu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Vanila mengambil minuman ringan di lemari pendingin, meletakkannya di hadapan Gara dan duduk dengan sangat hati-hati. Akhir-akhir ini, kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Tapi Vanila belum memeriksakan diri, mengingat dia begitu sibuk dengan urusan pribadi yang tak kunjung usai. “Kamu nggak pernah datang lagi ke rumah Mama,” ujar Gara tanpa basa-basi. Tatapan lelaki itu sama sekali tidak tertuju pada Vanila. Seolah menghindarinya. “Iya. A

