Jeffrey bangun dan disambut oleh pemandangan indah di depannya. Bukan menara Eiffel yang nampak dekat, tetapi wajah Lana yang bersandar di d**a telanjangnya. Jeffrey mengecup singkat kening wanita itu, entah untuk alasan apa. Dia sendiri tidak tahu. Hanya saja, selalu ada dorongan-dorongan dalam dirinya untuk melakukan itu. Menggenggam tangan Lana, memeluknya, mengecup dan menciumnya. Semua itu seolah menjadi hal yang akan membuatnya mati jika saja tidak dilakukan. Jeffrey bangkit dari tempat tidur. Menyelimuti kembali tubuh Lana yang sepertinya sangat kelelahan. Lalu meraih telepon di nakas, memesan sarapan dari hotel. "Suami yang cakap." Jeffrey menoleh saat mendengar suara serak Lana. Menyaksikan perempuan itu sudah membuka mata. Berbaring miring sambil menatapnya dengan senyuman seh

