Lana berdiri di depan pintu kamar inap rumah sakit tempatnya berada. Tapi sama sekali, Lana tidak berani membukanya. Lana tidak siap untuk menyaksikan betapa menyedihkannya sosok ayah yang selama ini tak jarang Lana bangkang perintahnya. Lana tidak sanggup. Begitu banyak hal yang dia sesali selama ini terhadap ayahnya. Dan Lana tidak menyangka, bahwa keadaan ayahnya seperti ini. Jika saja Lana tahu... “Papa kamu mungkin akan terkejut. Tapi dia juga akan merasa lega, sama seperti Mama.” Lana menekan bibirnya menjadi satu garis tipis. Mengangkat wajahnya agar air mata yang sejak tadi menetes berhenti tumpah. Perlahan, Lana meraih knop pintu. Terdiam selama beberapa detik untuk menyingkirkan keraguan dan memantapkan hati. Lalu, ceklek. Pintu terbuka. Dan Lana, nyaris kehilangan kekuatan yan

