Bab 4—Ikatan Merah Bag. 1

983 Kata
*** Malam mulai menjemput, seiring dengan berlalunya senja ketakutan Wang Qi Qi kian melanda. Gadis itu berjalan berputar mengelilingi istana, apa saja akan ia lihat untuk mengendurkan saraf tegangnya. Ia tak memperdulikan betapa padat jadwalnya hari ini. Wang Qi Qi sengaja tidak beristirahat meski semenit saja, waktunya ia isi dengan berbagai kegiatan mulai dari rapat istana, mengecek laporan negara, membaca buku di perpustakaan dan berkeliling hanya untuk sekadar melepas penat. Hanya satu yang ia hindari, ia tidak ingin bertemu Li Tang Shi hari ini. Ketika malam menjelang kegelisahannya tidak dapat disembunyikan. Merasa bimbang yang teramat sangat, Wang Qi Qi membulatkan tekad untuk sejenak menghibur diri di danau. Sebisa mungkin ia akan menghindar dari pria itu mengingat malam ini adalah malam Li Tang Shi menagih upah padanya. "Yang Mulia malam sudah larut apakah anda tidak ingin beristirahat lebih awal? Seharian ini anda begitu sibuk hingga lupa untuk makan dan istirahat." Sang dayang memberikan perhatiannya pada Wang Qi Qi yang masih tertegun di pinggir danau. "Tentu saja Dayang, tolong buatkan aku teh herbal untuk membantuku tidur. Sepertinya aku ingin tidur lebih lama malam ini," ujar Wang Qi Qi pelan tanpa menatap mata sang dayang. "Baik Yang Mulia," jawab sang dayang lalu membungkuk hormat. Wanita paruh baya itu undur diri guna menyediakan apa yang dipinta Wang Qi Qi. "Jangan lupakan malam ini Wang Qi Qi." Suara itu terdengar berbisik di telinga Wang Qi Qi, mendadak ia semakin gelisah. Ia tahu jika Li Tang Shi tengah memanggilnya melalui kontak batin. Mengingat kembali perjanjian itu membuat Wang Qi Qi ingin mati saja. "Yang Mulia ini teh permintaan Anda." Suara pelayan menyadarkan lamunan Wang Qi Qi. Menoleh sejenak, Wang Qi Qi segera menyambut secawan teh herbal dari tangan sang dayang. Tanpa menunggu teh menjadi dingin, Wang Qi Qi segera meneguknya habis. Gadis itu menyodorkan kembali cawannya tanda bahwa ia ingin menikmatinya sekali lagi. Kegelisahan hatinya yang tak kunjung reda membuat gadis itu merogoh kantung bajunya, dari balik kantung ia membawa beberapa butiran pil. Tak menunggu lama ia meneguknya dengan sekali teguk dan meminum teh herbal secara bersamaan. "Yang Mulia akan sangat berbahaya jika anda meminum pil tidur bersamaan dengan teh herbal," peringat dayang dengan berkerut kening. Wang Qi Qi tak berkomentar, ia memang sengaja melakukannya. Jika bisa maka ia akan siap jika harus mati sekarang juga. Gadis itu merasakan jantungnya berdebar keras, reaksi pil tersebut berjalan sangat cepat. Meminum pil tidur bersamaan dengan teh herbal bukanlah cara yang bagus, Wang Qi Qi tahu ia bisa mati jika terus menerus melakukannya namun bukan Wang Qi Qi jika tidak berbuat hal aneh. Tanpa bicara sepatah katapun, Wang Qi Qi kembali meminum teh herbalnya. Ia ingin mati. Mati dan mati. "Yang Mulia...." gumam sang dayang merasa kasihan dengan keadaan Wang Qi Qi yang begitu tertekan. Setelah setengah jam berlalu, kantuk Wang Qi Qi belum juga datang. Hal ini membuat gadis itu semakin cemas, ia tidak ingin menemui Li Tang Shi itulah kenapa ia ingin cepat-cepat tidur malam ini. "Yang Mulia apakah anda lupa hari ini hari apa?" Seseorang menegurnya dengan nada begitu sopan. Deg. Jantung Wang Qi Qi berpacu sangat keras, gadis bersurai legam itu tak berani untuk menoleh. Dari suaranya ia bisa menebak siapa yang tengah menegurnya saat ini. "Malam purnama terakhir adalah malam dimana kita akan membahas tentang masa depan Peng Lan Yang Mulia," imbuhnya dengan tenang. Wang Qi Qi memberanikan diri untuk berbalik, gadis itu menatap Li Tang Shi dengan tatapan begitu takut. Berbeda dengan sang panglima, sang ratu mendadak pucat pasi dan tak bisa berbuat apa-apa. "Yang Mulia Ratu, hamba akan menunggu anda di tempat biasa. Hamba harap anda tidak membuat orang rendah ini menunggu lebih lama," ungkap Panglima Li Tang Shi lalu membungkuk hormat. Pria tampan itu undur diri dari hadapan Wang Qi Qi. Sebelum ia benar-benar pergi, ia menyempatkan diri untuk menoleh sejenak ke arah Wang Qi Qi seolah ingin memastikan. Tatapan misterius itu dapat dibaca sang ratu, dengan sigap Wang Qi Qi menghela napas dan menyorotkan manik indahnya ke arah sang dayang. "Kembalilah ke tempatmu, aku akan pergi seorang diri." Setelah memberi instruksi pada sang dayang, Wang Qi Qi melangkah seorang diri menuju ke gedung Tingsong. Hatinya mengutuk, bahkan dewa saja tidak meluluskan permintaannya untuk tidur lebih lama. Gadis itu berhenti di sebuah pintu, tanpa aba-aba pintu tersebut terbuka sendiri. Seolah sudah terbiasa, Wang Qi Qi segera masuk ke dalam bersamaan dengan pintu yang menutup dengan sendirinya. Pandangan mata Qi Qi beredar, ia menemui sosok itu tengah duduk di sebuah kursi dengan ekspresi sangat tenang. Melihat Wang Qi Qi datang, Li Tang Shi menoleh lalu menyeringai penuh misteri. "Kau sudah datang?" Tak ada jawaban di bibir Wang Qi Qi, gadis berhanfu kuning melangkah mendekati Li Tang Shi dengan wajah teramat dingin. "Kau terlihat sangat muram, ayolah tersenyum sedikit saja. Katakan padaku kenapa kau semuram ini? Apa karena pil yang kau minum tidak bereaksi sama sekali?" ejek Li Tang Shi. Wang Qi Qi membungkam mulutnya, ia terus berdiri mematung di hadapan Li Tang Shi. "Duduklah!" perintah sang panglima. Menurut, Wang Qi Qi hanya bisa menurut tanpa bisa mengelak sedikitpun. Gadis itu duduk di hadapan Li Tang Shi, sesekali tangannya gemetar hebat. Hal itu menarik perhatian Li Tang Shi lebih jauh, guna menenangkan Wang Qi Qi sang panglima meraih tangannya dan menggenggamnya lembut. "Kita selalu berjumpa tiap bulannya tapi kenapa kau masih saja gugup di hadapanku? Kau sungguh terlihat sangat manis ah...."goda Li Tang Shi seraya mengelus pipi Wang Qi Qi. "Tidak bisakah kau membebaskanku dari perjanjian ini Panglima," ujar Wang Qi Qi pelan. Wajah Li Tang Shi sedikit berubah, ia terlihat sangat masam lantas melepaskan genggaman tangannya di tangan Wang Qi Qi. "Melepasmu adalah akhir segalanya dari hidupku, Wang Qi Qi," jawab Li Tang Shi singkat. Pria itu menatap Wang Qi Qi dalam-dalam lantas meraba wajahnya. Tak lama kemudian ia melepas topeng cermin air bulan dari wajahnya. Tanpa cermin air bulan, Li Tang Shi menampakkan wajah aslinya yang sangat rupawan. "Jadi...apakah kau sudah siap, istriku?" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN