****
Menjelang pagi di Negeri Peng Lan terasa sangat dingin, hawa dinginnya mampu membekukan tubuh dalam waktu singkat. Bulan Desember, puncak musim dingin di Negeri Peng Lan. Salju berjatuhan dimana-mana tak peduli entah itu siang ataupun malam, Negeri Peng Lan mirip negeri awan yang penuh dengan kapas putih.
Ketika semua orang sibuk melawan rasa dingin di kediamannya masing-masing, Wang Qi Qi justru terlihat sangat gelisah. Memikirkan tiga hari yang akan datang cukup membuat otaknya depresi setiap waktu. Setiap bulan peristiwa 'itu' selalu terjadi dan menghantuinya hingga bulan berikutnya. Bagaimana ia bisa meneruskan hidupnya jika secara terus menerus hidup dalam bayangan?!
Bangkit dari ranjang, Wang Qi Qi menyibak tirai jendela dan membukanya. Sepasang kaki jenjang nan putih terulur keluar, ia melarikan diri melalui jendela kamar.
Tentu saja, memikirkannya membuatnya merasa sangat tertekan. Ia tidak ingin peristiwa 'itu' terjadi lagi dan lagi. Wang Qi Qi akhirnya sampai pada keputusan itu, ia ingin mengakhiri hidupnya sesegera mungkin. Jika ia mati maka ia tidak perlu menanggung semuanya toh selama ini ia hidup hanya untuk menjadi boneka Lie Tang Shi.
Malam menjelang pagi hawa dingin kian menusuk, niat Wang Qi Qi tidak pernah surut. Menghindari penjagaan istana yang begitu ketat, Wang Qi Qi menyelinap melewati lorong dan menuju ke danau istana. Di pikirannya hanya ada satu niat, ia ingin mati dan tidak bertemu lagi dengan Li Tang Shi.
Aura buruk mempengaruhi otak Wang Qi Qi, dengan menceburkan diri ke danau maka ia akan segera mati. Hawa dingin Peng Lan tidak bisa dilawan, jika ia mati beku maka setidaknya ia tidak perlu merasakan sakit dan mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya.
Menghela napas panjang, Wang Qi Qi berjalan seorang diri di jembatan. Hidupnya sudah cukup menderita dan ia sudah tidak sanggup lagi menahan beban.
"Dewa, maafkan perbuatanku ini," desis Wang Qi Qi sebelum ia menyentuh pembatas jembatan yang terbuat dari kayu.
Gadis bersurai legam itu menatap ke bawah, airnya terlihat sangat biru dan terasa sangat dingin. Mengumpulkan niat sejenak Wang Qi Qi naik ke pembatas dan mulai melompat,
Byuur.
Kulit putihnya langsung tersakiti oleh dinginnya air es. Wang Qi Qi menenggelamkan tubuhnya semakin dalam, ia sengaja meminum air danau sebanyak mungkin dan menyakiti hidungnya dengan menghirup air sedingin es.
Tak ada guna ia hidup, ia hanyalah generasi terakhir keluarga Wang. Generasi yang lemah dan tak sanggup menyelamatkan kerajaan dengan tangannya sendiri. Dirinya sudah terlalu kotor karena perjanjian itu.
Sebelum otaknya mati, samar-samar ia mendengar seseorang turut menceburkan diri ke dalam danau. Tak tahu siapa, Wang Qi Qi sudah terlanjur tak sadarkan diri.
Pria itu, pria yang dianggap penyebab segala sumber masalah datang menolong Wang Qi Qi. Sudah bisa diduga jika pria setengah siluman itu tidak akan membiarkan Qi Qi mati ataupun mencoba bunuh diri.
Dengan susah payah, Lie Tang Shi bergerak meraih tubuh Wang Qi Qi yang mulai tenggelam jauh. Dalam suasana yang tidak mengenakkan ini, Lie Tang Shi menahan amarahnya. Gadis ini selalu saja merepotkan dirinya bahkan sepagi ini sudah mencoba bunuh diri.
Merangkak keluar dari dinginnya air, Lie Tang Shi menepis dinginnya air danau. Melihat Wang Qi Qi semakin memucat, perasaan pria itu sedikit kacau. Bagaimana jika gadis ini mati? Jika ia mati maka Lie Tang Shi kehilangan inangnya yang berharga.
Sekarang di otaknya hanya terpikir bagaimana caranya ia mengembalikan suhu tubuh gadis itu. Bermodal nalurinya, Lie Tang Shi menggendong tubuh mungil Wang Qi Qi di depan dadanya. Secepat kilat ia berlari menuju ke Gedung Tingsong, gedung megah sebagai kediamannya saat ini.
"Qi Qi....jangan mati atau aku akan mengejarmu sampai ke neraka!" umpat Lie Tang Shi lirih sambil terus berlari.
Gadis dalam dekapannya hanya diam, tubuhnya dengan cepat membiru. Keadaan yang terjadi begitu cepat membuat Lie Tang Shi tak bisa berpikir jernih.
"Qi Qi....jika kau hidup kembali, aku yakin aku pasti akan menghukummu!!"
***
"Aku akan mengejarmu sampai ke neraka."
Suara Lie Tang Shi terus menghantui, Wang Qi Qi tak tahu harus berbuat apa selain mencoba berlari dan terus melarikan diri. Napasnya putus-putus, kakinya mulai melemas dan linu. Wang Qi Qi tak bisa melanjutkan pelariannya, peluh deras mengalir dari dahinya yang putih. Rasa ketakutan benar-benar ia bawa sampai mati.
Gubrakk.
Wang Qi Qi tiba-tiba terbangun dengan mata terbuka lebar, tangannya meronta hingga tanpa sadar ia menyenggol guci di samping tempat tidur.
Prangg.
Suara gaduh tidak membangunkan Lie Tang Shi yang menungguinya. Pria itu duduk bersedekap di sisi ranjang dengan mata terpejam. Sejenak Wang Qi Qi menahan napas, ia takut kalau pria itu terbangun dan marah padanya.
Merasa aman, Qi Qi beringsut pelan. Ia tidak ingin membangunkan sang siluman, dengan hati-hati ia menurunkan kakinya namun....
"Kau ingin bunuh diri lagi?" singgung Lie Tang Shi membekukan tubuh Wang Qi Qi.
Tak ada suara hingga akhirnya Lie Tang Shi membuka kedua bola matanya yang bersinar indah. Pria bersurai panjang menoleh ke arah Qi Qi yang sama sekali tidak beranjak dari atas ranjang.
"Sudah ku bilang aku tidak akan membiarkanmu mati, apa kau lupa Wang Qi Qi?" Lie Tang Shi kembali mengingatkan.
Pria berhanfu ungu beranjak berdiri, ia melangkah pelan ke hadapan Wang Qi Qi. Dengan kasar ia meraih dagu gadis itu dan memaksanya mendongak, "Hitung! Sudah berapa kali kau mencoba bunuh diri tahun ini?"
Bibir Wang Qi Qi kelu, ia terlalu takut untuk melawan. Pria ini sudah memaksanya jatuh ke dalam perjanjian, dia juga yang menjadikannya ratu dan terus mendukungnya. Kendati begitu perasaan benci masih membumbung tinggi di langit-langit hati Wang Qi Qi. Kenapa ia memiliki perasaan aneh pada pria ini?
"Katakan kau ingin hukuman apa?" tanya Lie Tang Shi dengan nada melunak.
Hukuman....sampai di sini Wang Qi Qi mengedipkan mata berkali-kali. Tangan mungilnya segera menepis tangan Lie Tang Shi yang sedari tadi menyakiti dagunya. Sama seperti sebelumnya, gadis itu hanya bergeming lalu perlahan beringsut naik kembali ke atas ranjang.Mendengar kata hukuman, ia merasa mual. Hari-harinya kelabu karena hukuman dan Wang Qi Qi tidak ingin hukuman lagi.
Berbeda dengan Wang Qi Qi, Lie Tang Shi membuka sabuk pinggangnya dengan kasar. Pria setengah siluman itu membuka setengah dari hanfunya dan memperlihatkan kulit dadanya yang mulus. Perlahan ia merangkak naik ke atas ranjang, " Kau ingin hukuman apa?"

Wang Qi Qi beringsut mundur,tubuhnya panas dingin. Dengan menggigit bibir bawahnya, Wang Qi Qi melawan ketakutannya. " Berhenti menakutiku!"
Lie Tang Shi berhenti mendekatinya, ia menatap gadis itu dari pupil matanya yang indah. Ketakutan yang sangat besar terlihat jelas di wajah Wang Qi Qi, tubuhnya gemetar hebat dengan peluh yang menetes.
"Jangan menakutiku lagi....aku mohon. Hentikan perjanjian ini! Aku ingin hidup tenang." ungkap Wang Qi Qi sambil meneteskan airmata keputus asaan.
Lie Tang Shi tersenyum miring, dengan kasar ia mencengkeram leher gadis itu hingga nyaris tak bisa bernapas lagi. "Jangan coba mengakhiri perjanjian kita, Qi Qi. Sampai matipun aku dan kamu berada dalam wadah yang sama."
Marah karena permohonan Wang Qi Qi, pria tampan itu menghempaskan tubuh Wang Qi Qi secara kasar. Gadis tak berdaya itu terbatuk-batuk dan mencoba menghirup udara segar.
"Di masa depan aku akan meminta upah lebih banyak lagi padamu. Semakin banyak kau bertingkah, keuntungan semakin berpihak padaku. Jadi jika kau ingin hidup tenang sebaiknya jaga sikapmu."
Lie Tang Shi beranjak bangun dan merapikan hanfunya. Pria itu segera menghilang, meninggalkan sang ratu di kediamannya seorang diri. Sungguh pria egois, ia bahkan tidak menjaga wajah nonanya dengan baik. Apa yang akan dikatakan seluruh penghuni istana jika melihat ratu keluar dari Gedung Tingsong? Seluruh istana sudah pasti akan bergunjing mengenai dirinya.
Semua itu sudah pasti.
***
"Apa kau tahu semenjak Yang Mulia Ratu mencoba bunuh diri dan beberapa kali keluar dari Gedung Tingsong, aku rasa antara ratu dan panglima ada hubungan." gunjing salah satu putri menteri di taman istana.
Saat itu Wang Qi Qi sedang berjalan menuju pavilliun Chongsam, pavilliun yang selama ini menjadi pelariannya saat sedih. Mendengarkan ocehan mereka, Wang Qi Qi menghentikan langkahnya yang pelan.
"Panglima Lie Tang Shi sangat tampan sudah pasti Yang Mulia Ratu juga tertarik padanya. Mungkin panglima menolak cintanya sehingga ia mencoba bunuh diri." tebak putri yang lainnya.
"Atau karena saking cintanya beliau menjual diri pada sang panglima? Ah...itu terlalu hina." pekik yang lain menimpali.
Gurat wajah Wang Qi Qi berubah, rupanya banyak orang yang sok tahu tentang kehidupannya dan mencoba mentertawakan kisahnya di muka umum. Merasa Wang Qi Qi sedih mendengarnya, Lie Tang Shi sebagai pelayan yang baik maju dan berdiri di depan nonanya. Tanpa segan pria itu menangkup kedua telinga Wang Qi Qi dengan kedua belah tangannya dan mulai tersenyum manis.
"Yang Mulia Ratu tidak boleh mendengarkan kata-kata sampah. Panglima ini akan sedih jika melihat raut wajah Yang Mulia berubah,"hiburnya dengan tulus.
Wang Qi Qi tertegun, bahkan pria yang sering kasar padanya bisa berkata semanis dan se-menyejukkan itu di hadapannya. Siapa lagi dia? Terkadang ia bingung tentang Lie Tang Shi, benarkah ia panglimanya? Panglima yang selalu melindunginya atau panglima yang selalu ingin meraut keuntungan dari dirinya?
"Jangan menatap hamba seperti itu Yang Mulia, hamba takut jika hamba salah berucap karena lalai akibat melihat kecantikan Yang Mulia Ratu."
Dasar genit! Wang Qi Qi segera mengalihkan tatapannya dan melepas tangan Lie Tang Shi.
Sang ratu tak banyak bicara, ia kembali melangkah melewati lorong istana dengan segala kesepiannya. Merasa godaannya tidak membuat suasana hati Qi Qi baik, Lie Tang Shi melirik awas pada gadis-gadis anak menteri yang sudah membiarkan hati nonanya terluka.
"Tidak menunggu esok, kalian pasti mati."
****
Kabar kematian tiga orang putri dari para menteri tersebar dengan begitu cepat. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya karena kejadian terjadi begitu cepat. Berbeda dengan orang-orang yang terus membicarakannya, Wang Qi Qi lebih memilih bungkam dan tenang di kediamannya, Lily Naga.
"Yang Mulia Ratu, Menteri Soh hari ini datang kembali ke pengadilan negara. Sepertinya ia tidak terima dengan kematian putrinya," lapor sang dayang di samping Wang Qi Qi.
Gadis itu masih saja terdiam, ia tengah memainkan mahyong-nya seorang diri. Belum sempat ia menjawab, kedatangan Lie Tang Shi membuat sang dayang membungkuk lantas undur diri dengan sendirinya.
"Kau kan pelakunya?" tebak Wang Qi Qi pelan tanpa berhenti mengamati mahyong di depannya.
Lie Tang Shi membungkuk hormat lantas duduk di hadapan Wang Qi Qi dengan tenang. "Ini kewajiban seorang pelayan, nona Qi Qi. Aku tidak ingin kau membayarku tanpa aku bekerja padamu."
"Kau terlalu berlebihan," dengkus Qi Qi menghindari tatapan mata sang panglima.
"Tidak berlebihan, aku melihat segala kekecewaan di wajahmu," jawab Panglima Lie Tang Shi seraya terus mengamati wajah ayu di depannya.
"Jika sampai ada yang tahu bahwa semua ini adalah ulahmu maka tamatlah riwayatmu, Panglima," peringat Wang Qi Qi tanpa berekspresi.
"Tak masalah dengan segalanya, bagiku selama kau masih hidup aku masih bisa selamat. Jadi berumurlah panjang, setidaknya kau juga menyelamatkan hidupku."
Kata-kata Lie Tang Shi sudah sering Qi Qi dengar, ia hanya memutar bola matanya dan pura-pura tak mendengar. Dengan bersama Lie Tang Shi, ia hanya akan mendapatkan rasa kesal yang luar biasa.
Lie Tang Shi terus menatap nonanya, tak peduli bagaimana tanggapan sang nona pada dirinya. Wang Qi Qi jarang bicara tapi Lie Tang Shi selalu memperhatikan mimik wajahnya, jika Qi Qi tak bicara maka wajahnyalah yang akan menunjukkannya.
Pria tampan itu sejenak mencondongkan tubuhnya ke depan, Lie Tang Shi mencoba memperpendek jarak diantara mereka. Dengan senyum melengkung di wajahnya, ia kembali bergumam dan berbisik, "Jangan lupa besok malam, aku ingin upah yang lebih banyak. Aku harap kau mempersiapkannya dengan baik."
****
Jangan lupa untuk tinggalkan tap love kalian ya. Terima kasih.