27

1005 Kata
"Malam ke tiga puluh satu untuk kita semua: Dan yak, sudah tepat 'satu bulan' aku bolak balik menulis di dalam buku catatan ini untuk merekam perasaan aneh yang pertama kali kurasa. Walau aslinya tentu bukan satu bulan dalam artian harfiah, aku telah meluangkan waktu setiap malam selama sekitar satu bulan untuk ungkapkan apa yang saat ini sedang aku rasakan padamu, sahabatku. Menurutku ini sebuah prestasi, ah, tidak, tepatnya sebuah pencapaian. Ya, pencapaian akan betapa konsisten aku dalam menjaga rasa ini untuk dirimu. Bahkan di saat kamu belum jadi siapa pun untukku. Itu kenapa di masa depan nanti saat kamu membaca catatan harian ini, aku ingin kamu beri aku satu belaian sebagai hadiah karena sudah jadi laki-laki yang bisa memegang konsistensi" *** Tertanda hari ini, tanggal dua puluh tujuh April tahun dua ribu lima belas atau malam di mana mana hatiku senang sekaligus tercampur aduk karena hal yang tak bisa dijelaskan. ... Semua hal, apa pun itu, yang terjadi dalam hidup seorang manusia pasti ada berkahnya. Tuhan sendiri berkata dalam kitabnya bahwa Ia tak akan menimpakan kesulitan dalam hidup manusia melebihi batas kemampuan yang sanggup ia tanggung. Apabila itu suatu hal baik maka pasti Tuhan berharap manusia bisa jadi jauh lebih baik dengan cobaan tersebut. Begitu juga dengan cobaan yang berupa kejadian buruk. Memang aku rasa menurut akal sehat juga tak akan ada manusia yang punya harapan hidupnya akan terus dirundung oleh masalah. Hmm, mungkin ada, tapi hanya para orang suci atau nabi yang fokus pikirannya murni hanya hubungan mereka dengan Tuhan dan tak peduli pada yang lain lagi. Namun, manusia juga haru ingat bahwa apa yang kelak akan kita dapat dari masalah tersebut, semua dampaknya, tergantung pada bagaimana cara yang kita gunakan untuk menyikapi ujian tersebut. Sama seperti hukum fisika terkenal, aksi x reaksi, tak akan ada asap tanpa api. Tak akan ada masalah lahir ke dunia tanpa ada yang memantik atau memancingnya. Tak akan ada perasaan sedih atau bahagia tanpa ada hal yang menyebabkannya. Dan semua itu, semua sama saja. Tidak peduli apa pun itu. Baik calon dokter kah, calon arsitek kah, calon teknik sipil kah, calon perancang busana kah, calon desainer grafis, atau calon insinyur maupun siapa pun mereka. Semua niscaya pernah alami masalah dalam hidup mereka. Bahkan bukan ”mereka” saja yang masih calon. Rintangan dan beragam ujian demi sebuah mimpi yang ingin diwujudkan. Barangkali kita pernah kesal dan berkata, “Apa Tuhan tidak mau aku bahagia, ya?” Dan berkhir jadi kufur nikmat, deh. Aku juga pernah seperti itu, kok. Terutama saat masih sekolah salah jurusan atau salju dulu. Tiap bangun pagi bukannya cahaya matahari yang terlihat hanya awan mendung walau langit sedang cerah. Walau ada banyak bunga bermekaran dan keindahan terhampar, tapi yang terlihatnya kegelapan dan buruknya saja. setiap hari tidak pagi, siang, atau malam yang ditanyakan hanya hal sama, kenapa semua harus jadi seberat ini? Kenapa semua hal menyebalkan rasanya harus terjadi dalam hidupku? Namun, ketika aku jadi semakin besar, aku coba memikirkan semua itu ulang. Mungkinkah apa yang aku pertanyakan sendiri merupakan wujud pertanyaan Tuhan; apakah kita akan cukup siap apabila mimpi itu suatu ketika di-eksekusi? Diwujudkan? Dikabulkan? Souka, jadi begitu. Dakedo, atau mungkin begitu? Tak ada yang tahu kecuali diri sendiri dan angin yang berhembus temani hari-hari. Keberhasilan kita menunaikan suatu tujuan merupakan arti bahwa kita sudah naik level, bukan? Semakin tinggi bendera maka akan semakin kencang anginnya. Jika tidak melalui ujian yang berat dulu bisa-bisa kita akan jadi jauh lebih cepat jatuh, dong. Jauh lebih cepat kehilangan pijakan dan berakhir kembali jadi orang yang tak punya tujuan. Orang-orang, lingkungan yang kita hadapi. Semua akan bertambah berat di level selanjutnya. Boleh dibilang, ujian sama dengan latihan yang harus dilalui sebelum dapatkan kesuksesan. So? Selowww… Semakin sulit ujian yang kita hadapi itu sama arti dengan akin besar keberhasilan yang ‘kan kita dapat usai melewati semua itu, bukan? Ciyusan. Biar aku ceritakan kamu suatu kisah. Alkisah terdapat seorang anak yang terkenal memiliki otak encer. Bukan hanya itu, tapi ia juga memiliki sangat banyak teman dan hidup yang ia jalani terlihat selalu hanya dirundung oleh kemudahan. Di sisi lain ada juga seorang anak yang dari sisi mana pun ya terlihat biasa saja. tidak ada yang istimewa dari dirinya jika dibandingkan dengan anak pertama dalam cerita ini tentu saja. anak yang kedua ini sudah tidak begitu kaya, tidak begitu good looking, temannya tidak begitu banyak malah cenderung sedikit dan hanya itu itu saja. Apalagi otak yang pintar, ia sama sekali tak memiliki itu semua. Suatu hari kedua anak tersebut berhadapan di sebuah lomba bergengsi. Si anak yang memang sudah pintar dan nyaris selalu beruntung sepanjang ia hidup tentu tak perlu terlalu belajar hanya untuk melewati lomba yang sudah nyaris pasti akan berhasil ia lewati dengan mudah seperti biasa. Berbeda cerita dengan si anak biasa yang belajar dengan gila bahkan sampai rela mengorbankan banyak hal dari kehidupan masa remajanya yang singkat dan hanya sementara. Bertemulah mereka berdua di hari h. lomba tersebut diadakan dan masing-masing pihak berjuang serta berdoa dengan gaya mereka masing-masing. Entah si anak pertama yang cenderung santai dan biasa saja maupun anak kedua yang berusaha keras nyaris dengan seluruh jiwa raga yang ia punya. Satu minggu kemudian hasil lomba akan diumumkan. Saat si anak biasa berdoa dengan keras si anak pintar sempurna yang nyaris selalu beruntung sepanjang hidupnya ini ya selow saja. Wong seumur hidup tidak perlu mengusahakan apa pun juga beragam kejadian baik sudah selalu terjadi dalam hidupnya. Jadi, sama sekali tak ada kepentingan untuk anak itu yang buat ia sampai merasa perlu panjatkan doa atau bergantung pada hal lain selain dirinya. Dan yang jadi pertanyaan sekarang, jika salah satu dari mereka menang. Siapa yang akan merasa jauh lebih bahagia? Bukankah ini sebuah pertanyaan yang sederhana? Namun, apakah kita semua bisa mengambil intisari serta pelajaran sesungguhnya? Apa benar-benar bisa menarik semua kesimpulan dan inti yang ingin diberikan? Atau malah akan berakhir dengan kembali melupakan atau mengabaikan? Seperti yang sudah aku dan bisa jadi banyak dari kita selama ini lakukan. Bersikap seolah tidak ada hal buruk terjadi hanya karena fakta itu terlalu menyakitkan untuk dihadapi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN