"Malam ke tiga puluh untuk kita semua: Malam yang sangat gelap dan tanpa sedikit pun percik cahaya bintang walau langit sangat terang sampai para burung surga pun bagai tengah bernyanyi, iya, nyanyian kematian"
***
Tertanda hari ini, tanggal dua puluh enam April tahun dua ribu lima belas atau malam di mana untuk pertama kalinya aku rasa aku ingin sekali jadi dokter seperti Jack the Ripper.
...
Terdapat seorang pembunuh di dekatku. Aku tak ingin mengatakan siapa Namanya, tapi mari kita sebut saja dia sebagai A.
Apa di dunia ini yang jauh lebih tajam timbang pedang? Tepat sekali. Hal itu adalah mulut. Lisan. Verbal. Mungkin sebilah pedang nan tajam memang mampu torehkan luka di atas tubuh. Namun, mulut miliki kemampuan untuk torehkan luka jauh di dalam perasaan. Kira-kira akan jauh lebih sakit yang mana? Tentu saja semua akan terasa sakit. Namun, yang jadi pertimbangan kita sekarang… luka yang bersarang di tubuh miliki kesempatan sembuh jauh lebih besar, tentu apabila kita abaikan keterkaitan hal lain.
Seorang dokter punya tugas dan pern penting dalam proses penyembuhan luka yang mampu teraba oleh indera. Bahkan meski itu luka yang cukup dalam sekalipun. Paling tidak peralatan yang diciptakan manusia sepanjang perkembangan peradaban mereka pasri masih mampu untuk deteksinya. Namun, apa kabar dengan luka yang bersarang jauh dalam perasaan? Dalam hati yang jarang diperhatikan? Terus dipaksa bergerak cepat seolah tak punya batasan. Luka yang ada dalam perasaan? Luka yang bersarang dalam jiwa?
Sebuah hati yang terlanjur hancur akan sukar kembali seperti sedia kala. Bahkan jika ditangani oleh seorang psikiater paling wahid di dunia sekalipun dalam hidupnya.
Aku pikir A sendiri ini adalah seorang anak yang memiliki sikap cukup pendiam. Dia memang terlihat tak begitu suka bicara atau cerewet. Sekilas pandang aku yakin tak akan mampu buat sembarang orang sadar siapa dia itu sebenarnya. Di balik sikap manipulatif yang selama ini selalu ia tunjukkan, sebenarnya A cukup manipulatif dengan memanfaatkan keengganan orang lain untuk memikirkan banyak hal dengan memasang sikap seolah tak ada yang boleh saingi dirinya. Bersikap sok paling superior dengan merendahkan mimpi dan pencapaian yang berhasil orang lain dapat dalam hidup mereka. Semua pencapaian yang ia anggap pantas dipandang sebelah mata.
Untuk aku sendiri, karena tumbuh besar dengan dan dalam banyak ragam budaya di seluruh dunia. Aku senantiasa akan selalu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dan memiliki pikiran yang luas sejak kecil. Akan tetapi saat ini mengenal sosok A makin buat aku sadar bahwa manusia yang sungguh primitif itu masih ada, eksis, dan sialnya menyandang gelar spesies yang sama dengan kita yang pasti merasa… kita ini orang baik, ’kan?
Manusia. Kenapa manusia harus begitu beragam? Kenapa keberadaan mereka harus lahirkan begitu banyak pertanyaan dan persimpangan dalam kehidupan? Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus seperti itu?
Kenapa dunia harus kapital?
Maaf, lupakan saja.
Sejak kecil aku dan Kak Sasha selalu dididik oleh kedua orang tua kami untuk jadi manusia yang hidup dengan baik, memiliki etika, serta menjunjung tinggi adab serta menghargai semua makhluk Tuhan dengan tidak punya pikiran untuk mengganggu siapa pun tidak peduli ada gejolak keinginan apa dalam diri sendiri. Sopan santun serta budi yang luhur yang dijunjung tinggi dalam keluarga kecil sederhana dan biasa kami. Seperti contoh yang sangat sederhana adalah dengan tidak menyela apa yang diucapkan oleh orang lain ketika mereka belum menyelesaikannya. Tidak membicarakan keadaan maupun kondisi orang lain bagaimanapun situasinya. Termasuk juga untuk tidak memaksakan diri bicara apabila memang tidak sedang diajak bicara.
Namun, semua keyakinan dan pembelajaran yang telah dengan susah payah kedua orang tuaku sematkan dalam pola didik mereka agar aku dan Kak Sasha jadi manusia yang baik untuk masyarakat banyak itu auto terusik oleh perkenalan yang aku lakukan dengan A ini. A, sosok yang sangat menyebalkan. A, sosok yang ingin sekali aku lenyapkan dari muka bumi. Seseorang yang bisa jadi merupakan personifikasi sisi buruk dan pikiranku yang paling gelap.
Menyela apa yang sedang diucapkan oleh orang lain dengan enteng ia lakukan. Membicarakan bagaimana keburukan dan kekurangan orang lain dengan hati riang ia lakukan, terus ia pertahankan, dan entah bagaimana selalu saja ia ulang. Ia bahkan dengan tidak tau malunya juga selalu nicara bahkan jika tidak ada yang mengajak ia bicara. Semua noda dan kekotoran yang sudah seperti jadi rutinitas harian. Rasanya tak akan pernah bisa ia tinggalkan sampai berusia di atas empat puluh tahun nanti.
Dan yang jauh lebih parah lagi… kenapa ”seperti” tak ada satu orang pun yang menganggap itu sebagai suatu kesalahan, sih? Apakah manusia mayoritas memang sengaja bersikap seperti itu agar tak perlu ambil pusing karena suatu masalah? Apa mereka hanya tak ingin serta merta menggunakan akal pikiran untuk mencegah suatu hal yang jauh lebih buruk terjadi di masa depan karena pembiaran pada kesalahan yang tak pernah diperhatikan? Termasuk untuk A sendiri. Apa memang hanya aku manusia yang dibesarkan dengan cara sebagaimana kedua orang tuaku membesarkan aku? Apakah hanya aku satu-satunya manusia yang peduli pada semua hal semacam itu? Apakah tidak ada satu orang pun lagi di tempat lain di sudut dunia ini yang memikirkan hal serupa?
Apa memang hanya sedikit sekali orang yang ingin dunia ini jadi tempat lebih baik untuk menjalani hidup? Dengan udara yang bersih. Angin yang bertiup sepoi nyaman. Kehidupan sosial dan pola interaksi yang baik untuk semua orang. Apa memang tak ada banyak orang yang berharap dan ingin perjuangkan semua kebaikan itu?
Untuk aku sendiri aku akan sangat enggan untuk dekat apalagi jalin hubungan dengan manusia seperti model A. Jengah saja mendengar bagaimana ia akan selalu dan always mengolok-olok kepercayaan yang aku punya.
Namun, meski aku sudah berharap seperti itu, ia terus saja kembali muncul. Lagi dan lagi. Terus saja terulang. Seolah alam semesta tak miliki hal lain yang bisa dilakukan.
Segala jenis penghinaan yang A lakukan begitu dalam. Hanya terhadapku. Mungkin karena aku mulai merebut perhatian anak lain. Mungkin juga karena dia tahu kalau aku punya otak yang lumayan pintar. Maka dia berusaha menjatuhkan mentalku dengan ucapannya. Yang sialnya bagi orang lain terdengar biasa.
Orang yang merasa bahwa dirinya paling pintar dan superior tentu tak pernah ingin dikalahkan. Mereka ingin tetap terlihat jauh, lebih, dan paling luar biasa. Untuk hal tersebut mereka akan mengambil berbagai macam jalan. Termasuk merendahkan orang lain. Sialnya, mereka tidak akan pernah sadar. Entah memang tidak sadar secara alamiah atau sebenarnya sadar hanya saja pura-pura tidak punya otal. Karena itu umumnya manusia macam ini akan terlihat kebal. Tak bisa disakiti. Tak punya hati dan memandang rendah manusia lain yang ada di sekitar mereka.
Kepercayaan yang kamu miliki . perasaa ragu yang kamu miliki. Semua yang saat ini sedang kamu ketahui. Yang saat ini juga tidak kamu ketahui. Perasaan banggaan yang kamu miliki. Perasaan rendah diri yang buat tersakiti. Harga diri yang kamu miliki. Harga matimu. Semua dihancurkan oleh sebilah kata yang lebih tajam timbang sebilah pedang.
Aku tak akan semudah itu hancur oleh dirinya. Apa balasan yang pantas untuk sebuah harga diri yang telah diinjak? Namun, di saat sama juga tak akan aku biarkan sensitifitasku terhadap kemanusiaan jadi hancur atau berkurang. Aku punya niat untuk membalas semua tindakan itu dengan manis serta elegan.
Tidak, aku bukan seorang manusia yang punya hati sebaik itu juga.
Aku benar-benar ingin melenyapkan hidup anak itu detik ini juga. Akan aku balas tiga puluh ribu kali lipat.
Haruskah aku ubah gaya berceritaku agar jadi lebih merasangsang? Agar paling tidak ada kenangan jauh lebih gelap yang bisa diingat saat kembali membuka buku ini.