"Malam ke dua puluh delapan untuk kita semua: Apa sih arti kelahiran untuk dirimu? Apa itu sesuatu yang bahkan benar-benar punya makna khusus untuk semua manusia?"
***
Tertanda hari ini, tanggal dua puluh dua April tahun dua ribu lima belas atau malam di mana aku ingin membahas tentang sesuatu yang harusnya... terjadi? Atau malah tidak terjadi? Kemarin hari.
...
Kamelia, kemarin hari itu kan sebenarnya aku habis ulang tahun, ya. Mungkin kamu bingung karena apa yang aku tulis kemarin malah sama sekali tak membahas hal itu. Tapi, aku benar-benar serius. Ulang tahun sendiri bukanlah hal yang begitu spesial untuk seorang lelaki. Apalagi untuk cowok jomblo ngenes seperti aku ini. Hehehe (aslinya dalam hati menangis, huu).
Andai saja ada kamu yang bersedia menyemarakkan hari kelahiranku ini.
Menurutku pribadi, kenapa ulang tahun harus buat seseorang jadi merasa senang? Mungkin ada orang lain yang punya pikiran serupa. Mungkin kamu juga. Semua orang tahu, kalau ulang tahun itu kan dimana-mana tambah tua. Keriput, kulit kendur, rambut beruban, penyakit ini dan itu, produktifitas menurun… tentu bukan suatu hal yang akan banyak manusia sukai.
Benar apa nggak?! Lalu apa yang membuat ulang tahun jadi menyenangkan. Sehingga patut dirayakan. Oleh seseorang. Apa?
Demi jawaban akan pertanyaan ini, Tuhan menuntun aku sampai bertemu dengan seorang mahasiwi yang berasal dari fakultas pertambangan. Ia sendiri merupakan seseorang yang aku nilai punya sikap cukup bijaksanas. Kisah ini akan memiliki latar di kantin siang tadi. Kami terjebak dalam waktu yang sama oleh obrolan tentang topik kelahiran.
“Kenapa sih seorang manusia harus ’merasa’ bahagia saat hari kelahiran mereka terulang kembali? Padahal kan itu hanya angka. Hanya hari yang sebenarnya tidak punya makna kecuali sama saja dengan semua hari yang telah ia lewati sebelumnya,” ucapku membuka obrolan kami.
“Tentu saja itu semua karena manusia harus senantiasa merasa bersyukur karena sudah diberi nikmat hidup sampai titik usia tersebut, ’kan? Berawal dari sesuatu yang sangat kecil bahkan nyaris tidak bisa dilihat. Hingga sampai jadi ’sesuatu’ yang demikian besar dan mampu melakukan banyak hal seorang diri seperti hari ini. Tidakkah itu suatu hal yang sangat luar biasa? Sekaligus untuk memanjatkan doa juga. Agar perayaan dan kegembiraan itu dapat terulang di tahun berikutnya. Tidak berhenti hanya jadi seremonial yang kamu bilang tadi… tidak punya arti.”
“Jika memang yang jadi alasannya hanya itu. Aku rasa tidak perlu sampai mengadakan suatu pesta yang berlebihan juga, ’kan? Cukup dirayakan dengan orang paling dekat yang sungguhan spesial saja.”
“Selama ini merayakan atau melakukan hal apa pun sampai tahap yang berlebihan itu memang tidak pernah dianjurkan oleh siapa pun, kok. Baik oleh kemanusiaan maupun kepercayaan mana pun. Alangkah baik jika kita memilih untuk membagi berkat usia tersebut saja, ‘kan? Dengan banyak orang yang jauh membutuhkan mungkin.”
Tanpa sadar wajahku tersenyum dan merespon, “Kamu benar juga.”
Dan itulah hal sederhana yang aku dapat dari perkenalan singkatku dengan seorang gadis bernama Shaniar, mahasiswi dari fakultas yang (lagi-lagi) aku anggap punya aura terlalu macho untukku.
Merayakan hari ulang tahun atau hari di mana kita lahir ke dunia, atau milad, kadang bisa jadi mungkin memang cukup penting. Tapi, level kepentingan itu bisa diartikan lebih ke hubungan antara kita dengan Yang Maha Kuasa kali, ya? Tidak selalu sibuk dengan urusan duniawi dan ketamakan yang tak akan ada akhirnya. Mungkin ini juga wujud dari jawaban saat kamu ceritakan hobimu yang gemar berfoya-foya menghabiskan uang orang tua hanya untuk rayakan seremoni ulang tahun.
Merayakan kelahiran itu memang penting sebagai suatu wujud dari rasa syukur akan waktu yang telah diberi oleh Sang Empunya kehidupan kita. Yaitu Tuhan. Namun, tentu akan jadi lebih berharga lagi jika kita bisa jauh lebih memaknai kehidupan itu sendiri di setiap hari dan prosesnya. Tanpa perlu menunggu suatu seremoni pertambahan usia. Dengan selalu mensyukuri semua.
Bukankah begitu? Bagaimana menurutmu, sahabatku?
"Malam ke dua puluh sembilan untuk kita semua: Malam di mana aku harap bintang yang berkilauan di angkasa turut wakili seberapa banyak kebahagiaan serta berkah yang naungi seluruh hidup kita, aamiin"
***
Tertanda hari ini, tanggal dua puluh lima April tahun dua ribu lima belas atau waktu di mana mungkin lagi-lagi ada banyak hal yang kita pertanyakan, kita sangsikan, tak kita yakini kebenarannya, tapi sebenarnya pasti akan terjadi. Apakah itu? Tentu saja kebaikan, harapan, dan cinta yang tidak mengenal putus.
...
“Kenalilah musuhmu, kenalilah diri sendiri. Maka kamu akan mampu berjuang dalam seratus pertempuran tanpa resiko kalah. Kenali bumi, kenali langit, dan kemenangan yang kamu dapatkan akan menjadi lengkap.”
Kamelia, sebenarnya aku sangat bahagia sekali karena kamu mau sering membagi cerita dengan aku. Tentang berbagai macam masalah yang tengah kamu hadapi. Perasaan bahagia yang sedang kamu nikmati. Bahkan perasaan gundah gulana yang mengganggu ketentraman hari-harimu. Akan tetapi, dari banyak hal yang telah kamu ceritakan padaku, apakah kamu sadar jika semua itu sebenarnya memiliki satu buah inti yang sama. Masalahnya ya sama saja. hanya kamu yang berusaha merubah versi jadi seolah cerita lain saat berkali-kali kamu curahkan padaku. Semua itu tak lain dan tak bukan karena kepenatan akibat salah jurusan atau salju-mu itu, ’kan? Cuma ya dalam esensi serta versi yang tidak sama. Sebenarnya kamu hanya merasa lelah dengan semua kehidupan itu dan ingin lahirkan berbagai macam versi yang mungkin bisa… sedikit lebih menghibur hati? Atau yang lain. Walau dari semua hal yang kamu ceritakan aku tak melihat keberadaan pangeran tampan atau ibu peri yang terbang untuk membawa angan. Aku masih bisa melihat dengan jelas bagaimana sebenarnya kamu harapkan hal itu akan muncul, ’kan? Walau aku tidak tau juga sih pangeran dan ibu peri pembawa angan macam apa yang kamu harap datang dalam hidupmu di dunia nyata yang tidak ramah bintang satu ini.
Aku jadi berpikir, apa nasihat yang selama ini nyaris selalu aku beri padamu segitu tak ada gunanya, ya? Sikapmu sama sekali tak menunjukkan perubahan sedikitpun, lho. Apa yang aku ucapkan bagai masuk telinga keluar kiri keluar lubang hidung bagian kanan saja. Apa jangan-jangan kamu pikir aku hanya semacam radio yang akan tetap berkoar meski tak ada yang mendengarkan?
Saat aku bilang kan kalau kamu itu cukup kekanakan dan tukang ngambek. Katanya aku egois. Saat kunasihati agar lebih dewasa kau menangis. Katamu aku tak pengertian. Plis deh, terus aku harus apa?!!
Kamelia, janganlah kamu sampai punya ekspektasi berlebihan soal kami para bangsa laki-laki. Kami sama saja seperti para perempuan, kok. Sama-sama butuh dan ingin dipahami. Hanya saja cara penyampaian yang memang berbeda sesuai dengan bagaimana otak kami disusun oleh Yang Kuasa.
Mungkin kamu sudah pernah baca buku atau sekadar mengetahui saja suatu buku dengan judul, Apa yang Laki-laki Ketahui Soal Perempuan. Dan diceriitakan bahwa itu tak memiliki isi sama sekali alias malah kosong melompong. Sebenarnya mah ya memang begitu saja. Laki-laki itu biru dan perempuan itu merah muda. Kami jauh lebih sederhana dalam artian yang kompleks sementara kalian jauh lebih rumit dalam artian yang sebenarnya ”sederhana”.
Ya, Kamelia, aku memang akan jauh lebih sulit memahami kalau kamu punya sikap yang sulit dipahami dan terlalu rumit. Sementara kami para cowok itu jauh lebih… simpel?
Kembali ke topik. Seperti seni perang Sun Tzu yang sudah aku tulis di atas. Kau harus menguasai (mengenali) musuhmu untuk menang. Yang perlu ditanyakan, apakah kau tahu siapa yang tengah kau lawan?
Saat masih duduk di bangku sekolah teknik mesin dulu, aku sempat alami hal yang sama denganmu. Menjalani pendidikan di sekolah teknik mesin salah jurusan memang sukses buat aku nyaris selalu malas dalam lakukan aktifitas apa pun. Ngomong-ngomong, salah jurusan yang kita bahas sejak tadi itu kalau aku sebut salju saja untuk menghemat tenaga sepertinya tidak masalah, ya. Makanya aku berani bilang mengerti sekali perasaanmu (meski habis itu kau pasti bilang, nggak usah sok ngerti, deh!). Dan musuhmu sekarang. Tak lain tak bukan. Adalah dirimu sendiri. Saranku, kuasailah egomu.
Salah satu cara untuk mengalahkan musuh adalah dengan; ambillah sesuatu yang dicintainya. Apakah kau memiliki sesuatu yang kau cintai? Mengapa tak ambil dulu hal itu. Dan kembalikan saat kegundahanmu sudah usai.
Biar aku ceritakan suatu kisah. Saat aku lulus sekolah menengah pertama aku didera oleh perasaan gundah. Rasanya ingin sekali masuk ke SMKK atau Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan. Tapi, biaya yang harus orang tuaku keluarkan cukup mahal. Maka dengan itulah penuh keterpaksaan harus aku jalani kehidupan di STM yang berat dan tanpa sedikit pun niat tertambat dalam hasrat.
Mancrat!
Karena aku tetap butuh ijazah untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Akhirnya aku putuskan untuk bulatkan tekad saja. Aku gunakan hal yang paling aku cintai untuk menyelesaikan pendidikan setara menengah ke atas yang salju itu.
“Sampai tidak lulus dari tempat ini mimpiku untuk jadi dokter yang ada malah tidak akan bisa terwujud sama sekali.”
Walau dengan cara yang cukup ironis, tapi aku berhasil melalui semua, lho. Aku ketatkan tekad. Niat agar melesat. Seperti rudal squad mimpiku kan aku dapat… (lhaa, kenapa malah jadi nyanyi, haha).
Kamleia, sampai salah tulis, maksudku Kamelia sayang dan cintaku. Janganlah kamu satu kali pun merasa takut pada bayangan. Karena tak akan ada bayangan tanpa cahaya. Meski tengah berada di dalam suatu bayangan akan kegelapan. Aku akan selalu ada untuk dukung dirimu. Walaupun kaulah yang jadi sisi cahayanya.
Dakara, oleh karena itu, NOTHING TO LOOSE!!! Jangan pernah mau kalah pada hidupmu. Karena pada akhirnya… semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku!