"Malam ke dua puluh tujuh untuk kita semua: It's been a while since I first started this diary and I'm still very curious about how it will end. Will it end with happiness as I hoped or will it end with sadness and disappointment that I never imagined? Sometimes the reality is really scary, right? Just imagining it can make you hurt yourself if it doesn't match your expectations. That's why God always asks us to be sincere and accept whatever He has set because it must all be the best"
***
Tertanda hari ini, tanggal dua puluh satu April tahun dua ribu lima belas atau malam di mana akan aku ceritakan lagi apa yang aku pikirkan dan ingin aku ucapkan pada dirimu di masa depan nanti. Suatu saat di mana kita telah bertemu dan menjalin hubungan yang selalu aku impikan. Aamiin.
...
Hidup yang kita miliki ini akan jadi terlalu berharga dan luar biasa untuk sekadar dipertanyakan atau “diikutcampuri” bagaimana ia harus berjalan. Namun, di saat sama rasanya juga akan jadi terlalu singkat apabila harus kita abaikan begitu saja. Bukankan seperti itu? Bagaimana menurutmu sendiri, sahabatku?
Seorang manusia harus jalani hidup mereka dengan dan atau karena mencari sebuah tujuan. Namun, apa yang akan terjadi suatu waktu apabila ternyata tujuannya sudah berhasil dicapai? Aku pikir baik untuk seseorang tersebut memutuskan untuk menutup lembar lama dan bergegas dapat hidup dengan tujuan baru yang menggambarkan visi misi segar untuk masa depannya. Semua itu hal yang sangat lumrah serta biasa.
Setelah berhasil jadi salah satu mahasiswa kedokteran di universitas negeri yang selama ini selalu aku impikan. Sepertinya aku mengalami ckup banyak kebimbangan hidup. Tujuan yang aku punya hanya lulus pendidikan melelahkan ini dalam waktu sesingkat mungkin dengan prestasi baik yang bisa aku pertanggung jawabkan. Mengikuti seluruh pelajaran serta segala ujian. Terlebih saat kami (para mahasiswa kedokteran) diminta makan nasi padang di depan mayat! Juga diminta berjaga seorang diri satu malam penuh di kamar mayat. Atau bahkan memotong-motong kadaver (mayat manusia yang dijadikan objek praktik belajar mahasiswa fakultas kedokteran, biasanya berasal dari mereka orang kurang beruntung yang terpaksa meninggal tanpa memiliki identitas dan tidak ada yang mengakui sebagai keluarga, how sad). Semua itu.
Tak ayal yang namanya mayat seketika jadi bagian yang cukup penting serta krusial dalam hidup sekaligus hari-hariku yang terus terulang. Untung saja aku tak punya niatan untuk menjadi spesialis forensik. Malas saja kalau sudah susah payah jadi dokter malah hanya disuruh mengurusi mayat. Eeeuuh, aku sih ogah sekali.
Eh, ya walau begitu aku juga diajari praktik forensik dasar, kok. Jadi, bukan sepenuhnya tidak berhubungan dengan kaum ”mereka” lagi. Jujur saja aku ini tidak begitu suka pada makhluk yang hidup, tapi sudah tidak punya nyawa. Tapi, karea jadi dokter adalah mimpiku maka aku harus melewati seluruh tahapan yang memang harus aku jalani apabila ingin mencapainya.
Mimpi yang aku punya sendiri adalah menjadi seorang dokter spesialis di praktik bedah jantung. Sedikit banyak bisa jadi karena termotivasi oleh penyakit yang aku derita sendiri ini (itu dulu, sekarang sudah tidak, kok). Itulah kenapa aku berharap di masa depan dapat lakukan berbagai macam penelitian yang memiliki tujuan untuk mencaritahu cara dan mencoba banyak cara tersebut untuk bisa meminimalkan resiko janin yang berpotensi lahir dengan jantung koroner.
Kalau boleh jujur aku sedikit seram saja dan juga kasihan pada anak-anak yang harus punya nasib sama seperti aku. Terlebih apabila mereka berasal dari golongan keluarga atau latar belakang yang kurang beruntung dari segi finansial.
Kamelia, meski untuk saat ini aku sedang sangat suka padamu, cinta dengan sifat romantis bukanlah pokok kehidupan untukku sebagai seorang dokter. Dokter ada untuk membantu orang lain mewujudkan kehidupan dan cinta sejatinya. Maka kalau kita menikah nanti mungkin aku akan jadi seorang suami yang jarang pulang atau berada di rumah. Tapi, kau tak usah takut kalau aku akan jadi sosok pasangan yang tak setia. Aku sangat takut mati susah jika mengecewakan banyak orang dan meninggalkan mereka dalam keadaan sakit hati.
Untuk kamu sendiri barangkali aku ini orang yang cukup beruntung, ya. Setidaknya aku bisa dan diberi pilihan (jalan) oleh Tuhan untuk berjuang di jalur yang aku pilih, aku inginkan. Tidak sama dengan kamu.
Maaf juga sebelumnya karena saat kamu menumpahkan unek=unek perasaanmu lewat curhat di telpon tadi sepertinya aku tak bisa beri banyak jawaban optimal yang sepenuh hati. Kamu bicara dengan terlalu cepat. Maaf ya, tapi jujur saja itu buat aku jadi sedikit pusing saat mendengarny.
Biar aku beri kamu sedikit saran, Kamelia. Ada baiknya kalau kamu mau menceritakan suatu masalah yang sedang kamu hadapi pada cowok dan mendapat respon yang jauh lebih memuaskan maka lakukanlah dengan santai saja. aku tidak akan ke mana pun juga, kok. Ini tidak seperti aku seorang cowok yang akan kabur entah ke mana saat orang di hadapannya sedang bicara. Tidak, aku tidak akan bersikap tidak gentleman seperti itu.
Oh, whatever.
Kak Sasha pernah menunjukkan padaku sebuah cerita menarik. Dan karena aku sayang padamu maka akan aku ceritakan ulang alam catatan malam ini.
Alkisah ada seorang pemuda di suatu kafe. Ia melakukan stand up comedy di hadapan para pengunjung. Para pengunjung tertawa mendengar jokes dari pemuda tersebut. Tak lama kemudian pemuda tersebut mengulangi jokes-nya. Hanya beberapa yang masih tertawa. Kemudian pemuda tersebut kembali mengulang jokes-nya. Tak ada satu pun pengunjung yang tertawa lagi. Lantas, pemuda tersebut berkata pada seisi kafe,
“Jika kamu tidak bisa tertawa berulang kali karena lelucon yang sama. Kenapa kamu bisa terus menangis berulang kali karena perasaan sedih yang sama?”
Seringkali rasanya kita memang tidak (bisa atau mau) menyadari hal itu. Tapi, sebenarnya terus saja mengalami dan diulang karena keputusan sendiri. Kita terus terpuruk akan beragam kenangan tidak enak di masa lalu. Merasa sangat sulit untuk melupakan sebuah kesedihan. Kita berakhir terus terpuruk dan jalan di tempat.
Untuk perasaan bahagia kita akan jadi seseorang yang seolah tak bisa melihat. Namun, jika hal yang menyenangkan tersebut usai, ya berarti selesai sudah. Banyak dari kita golongan manusia tamak dan serakah ini hanya terlalu fokus pada derita yang menimpa sepanjang hidup mereka. Ketimbang bahagia dengan beragam kebahagiaan kecil yang sebenarnya jauh lebih sering terjadi dan miliki motivasi untuk kembali lanjutkan hari. Apa yang jadi alasannya? Berdasar obrolan ringan yang aku lakukan dengan Giofani yang merupakan seorang mahasiswa fakultas psikologi, ia berkata semua itu bisa sampai terjadi karena yang namanya manusia memang tak akan pernah merasa puas dan terus mengharapkan jauh lebih banyak lagi. Jauh lebih tamak lagi. Jauh lebih serakah dan egois lagi.
Dan, yah, itulah manusia. Itulah kita. Sudah, jujur saja, tidak usah berkelit karena tak ada gunanya. Aku juga mengakui hal yang sama, kok. Memang karena tidak akan yang bisa dibantah dari pernyataan tersebut.
Mari kita berpikir sejenak soal itu! Semua perasaan derita itu terus datang memang karena ia terjadi atau justru karena kita sendiri yang berussha memanggil? Kita selalu memikirkan rasa bahagia berulang kali dengan harapan kebahagiaan itu akan terjadi lagi. Akan terulang lag. Tapi, bagaimana jika yang terjadi malah semesta berakhir salah paham dan terus beri kita kesusahan karena kita di saat sama juga memikirkan hal itu terus?!!