17 & 19

1485 Kata
"Malam ke dua puluh lima untuk kita semua: Malam di mana hujan rintik turun di luar jendela, namun sama sekali tak menurunkan suhu yang ada di dalam ruangan. Seperti bagaimana perasaan indah yang berasal hanya dari luar pun tak akan beri pengaruh pada diri bagian dalam apabila tak diresapi dengan cahaya cinta sejati" *** Tertanda hari ini, tanggal tujuh belas April tahun dua ribu lima belas atau malam di mana harus aku katakan bahwa masih ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu walau di aliran waktu kita yang belum bisa bertemu. ... Kamelia, biar aku beritahu kamu sesuatu, ya. Aku ini merupakan tipikal orang yang sangat jarang jalan-jalan atau bahkan hanya pergi tidak peduli ke mana saja itu. Yang selalu berisik mengajak aku pergi ke segala tempat baru sendiri selama ini ya hanya Gana seorang. My first and only best friend. Eh, tapi beberapa waktu belakangan ini sebenarnya para anak lain sering mengajak aku hang out, sih. Hal yang sedikit pun tidak pernah aku bayangkan bisa terjadi dalam hidupku yang kelabu ini. Apakah semua jadi berubah semakin baik karena perasaan suka yang aku punya pada kamu, Kamelia? Atau memang jalan yang sudah Tuhan tetapkan saja mengharuskan aku berakhir lewati hidup yang turun naik begini? Jika dulu kan hidupku perasaan turun terus, yah. Hahaha, bercanda. Benar, sih. Mari kita singkirkan sejenak bahasan soal betapa suramnya kehidupan yang aku jalani selama ini sebagai anak muda masa kini. Mari kita beralih ke suatu hal yang sebenarnya sedang aku pikirkan. Memang ada beberapa hal yang buat aku bingung sekarang. Seperti, andai saja, aamiin ya rabbal alammin, suatu saat nanti entah kapan atau bagaimana caranya kita bisa berakhir jadian dan menjadi sepasang kekasih seperti banyak orang. Seperti… kira-kira kita akan pergi ke mana saja? Pergi kencan ke mana saja, ya? Naik kendaraan apa, ya? Pacaran itu kegiatan yang ngapain saja sih sebenarnya? Secara nih ya… semenjak Kak Sasha tahu aku habis masuk rumah sakit gara-gara hal menyebalkan yang aku sendiri tidak bisa memahami bagaimana itu bisa terjadi. Kunci mobilku dia sita… Topik tulisanku malam ini memang tentang jalan-jalan dan semua hal yang menyertai itu. Tapi, tentu saja bukan hal freak seperti di atas yang seutuhnya ingin aku katakan. Tadi siang aku ikut Nakula untuk membeli perkakas bengkel ke salah satu mal. Di sana kita bertemu, bukan? Selama ini kita hanya berhubungan lewat email, chat, atau pesan singkat telpon genggam, lho. Itu buat aku jadi merasa sangat senang saat tanpa sengaja bisa bertemu muka. Saat tadi kita bertemu kamu sedang bersama dengan beberapa orang temanmu. Saat itulah aku langsung menghampirimu. Yang terjadi biar aku ceritakan dalam dialog yang sangat sederhana ini saja. “Nggak nyangka bisa ketemu di sini. Hai, para temannya Kamelia. Namaku Hal Nara, salam kenal, ya.” “Kamu siapa?” tanyamu tiba-tiba, dengan raut sangsi yang cukup menggugah hati. Bukan dalam artian tergugah yang baik, tentu saja. Nakula menghampiriku dan kita pun berpisah. Sangat kaget bin terkejut aku kala dengar kamu mengatakan hal seperti demikian. Apa mungkin kamu memang lupa pada wajahku? Walaupun sampai sekarang SMS-ku belum kamu balas. SMS yang aku kirim untuk mengonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi. Entah pada kamu, sama aku, ataukah tanpa aku ketahui ternyata ada masalah yang berhubungan dengan ”kita”? Walau selama ini baru aku simpan masalah perasaan ini sendiri. Sama sekali tidak aku bayang kalau kamu bisa sampai tidak mengenal aku, haha. Sepulang dari pusat perbelanjaan itulah Nakula beri aku nasihat agar tak perlu terlalu dekat lagi dengan kamu. Ia menilai dirimu sebagai hanya seorang gadis dengan paras baik yang tinggi hati, sombong, dan tidak lupa suka mempermainkan hati laki-laki saja. Buat aku jadi tak habis pikir, mikir apa sih dia sebenarnya? Kamelia, kamu itu Kamelia, lho. Tokoh utama dalam cerita ini yang aku puja dan suka sejak kata pertama yang aku tulis di sini. Kenapa bisa jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kamelia, aku pikir, apa mungkin kalau semua yang pernah kamu ceritakan soal dirimu padaku itu sama sekali tak cerminkan dirimu yang seutuhnya, ya? Dalam sekejap saja itu buat aku jadi mempertanyakan lagi hal syang sebelumnya sempat terdetik dalam pikiranku saja tidak, lho. Apa memang benar jika selama ini aku jatuh cinta padamu? Atau jangan-jangan semua (omong kosong) yang telah aku tulis dalam buku catatan tidak jelas ini beberapa malam terakhir… hanya sebuah khayalan hampa belaka? Yang tidak akan ada gunanya di masa depan nanti. Cerita dalam buku catatan ini mungkin memang belum begitu panjang. Baru sebentar, sangat sebentar. Hanya saja tidakkah kamu bisa merasakan betapa dalam perasaan yang aku tuang serta curahkan di dalamnya? Kamu adalah perempuan pertama yang bisa sampai buat aku jadi menggalau siang dan malam seperti ini lho, Kamelia. Tolong jangan tinggalkan aku dan buat semua yang udah panjang lebar aku jelaskan di beberapa lembar sebelumnya menguap begitu saja. Aku sangat tidak menghendaki hal tersebut sampai terjadi. Karena itu Kamelia, bolehkah aku, Hal Nara, yang dari tempat jauh ini, seseorang yang juga bukan siapa pun untukmu, mengharapkan yang terbaik untuk dirimu. Untuk diriku. Untuk masa depan yang aku harapkan bisa kita lewati bersama suatu saat nanti tanpa kesedihan atau perasaan cidera. Aku harap bisa seperti itu. Walau secara akal sehat juga aku tak punya hak untuk berharap dirimu memenuhi keinginanku atau yang lain. "Malam ke dua puluh enam untuk kita semua: Malam yang cukup wadidaw, yaw" *** Tertanda hari ini, tanggal sembilan belas April tahun dua ribu lima belas atau malam di mana ada banyak kegalauan sedang merayapi nyaris seluruh isi hati. Tapi, akal sehat berkata bahwa bagaimanapun juga aku harus tetap bertahan sekuat hati untuk hadapi ini semua. ... Kali ini mungkin aku tidak akan menceritakan sesuatu yang terlalu bagus atau nyaman untuk dinikmati, Kamelia. Lusa malam lalu usai menulis di buku catatan harian ini, tiba-tiba aku jadi keringat dingin dan sekujur tubuh yang terasa sangat tidak enak. Aku jadi semakin yakin kalau cinta memang tak bisa memilih atau dipaksakan pada seseorang baik tumbuh, kembang, maupun bagaimana ia bisa sampai pupus. Habis tidak peduli bagaimana dan sekeras apa pun aku coba untuk tak menyukai dirimu. Yang ada aku hanya malah makin merasakan debaran tidak sehat di dalam relung d**a. Kapan hal itu terjadi? Tentu saja saat aku dengan mengingat atau membayangkan senyum dan namamu. Kamelia, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan diriku. Dan walau aku merupakan seorang calon dokter, aku belum punya kemampuan mumpuni untuk mengetahui apa yang jadi penyebabnya. Karena itu aku ingin sekali meminta dirimu untuk bertemu esok hari selepas dari kelas perkuliahan kita masing-masing. Aku sangat berharap kamu bisa memenuhi undanganku dan hal yang lebih buruk dari ini tak harus terjadi. Bagaimanapun situasinya. Tenang, bukan hanya itu saja kok yang ingin aku ceritakan malam ini. Kemarin hari aku ada menyaksikan bagaimana Gana tengah berbincang dengan Nakula. Dan entah karena alasan apa Nakula menceritakan (maksudnya bermulut ember) tentang semua yang terjadi antara kita saat bertemu di pusat perbelanjaan waktu itu. Wajah Adhi auto terlihat lebih sepat seolah dia baru saja menelan pasta satu sendok sayur langusng pasta wasabi yang ia benci. Dan entah kenapa perasaanku jadi makin tidak enak menyangkut ini semua. Entah dirinya, diriku, maupun kelanjutan cerita di buku catatan tidak jelas ini. Jujur saja aku kok jadi makin merasa kalau Adhi terus saja berusaha dan punya niat kuat untuk lunturkan perasaan yang aku punya padamu ya, Kamelia? Hubungan rasa cinta atau persahabatan yang sudah bertahan cukup lama? Adhi sendiri merupakan sahabat sangat yang berharga untukku. Namunwalau , begitu, seenaknya saja melupakanmu tentu juga bukan suatu hal yang bisa dengan mudah aku lakukan, bukan? Sudah malam keberapa ini sejak pertama kali aku menulis catatan you are my everything? Kamu pikir aku yang tidak punya jiwa sastra atau penuh romansa seperti para penulis novel cinta itu bisa menulis “omong kosong” sepanjang ini jika memang apa yang sedang aku rasakan tidak sungguh nyata? Apa bisa? Kalau untukku pribadi, tidak, Kamelia. Catatan ini adalah sesuatu yang aku siapkan dan lahir dari lubuk hati paling dalam. Tentu tak bisa seenaknya ditutup begitu saja saat bahkan belum sampai ke titik pernyataan. Aku tidak mau catatan tidak jelas ini memiliki akhir yang jauh lebih tidak jelas lagi. Pokoknya aku ingin mendapatkanmu, memilikimu, bahkan apabila hal itu akan memakan waktu yang sangat Panjang serta jalan berliku. Tidak masalah sama sekali. Organ yang ada di sebelah kiri dadaku ini sendiri akan selalu berdebar dengan tak karuan saat aku sedang memikirkan dirimu, Kamelia. Namun, walau seperti itu juga aku tetap punya harapan bahwa tak akan ada yang salah atau hal berlebihan sampai terjadi pada jantungku karena hal manis yang sedang aku rasakan. Aku benar-benar tidak menginginkannya, Kamelia. Kadang perasaan takut, khawatir, dan kecemasan malah lahirkan beragam simtom baru soal rasa putus asa yang tak aku kehendaki. Lantas apa yang akan terjadi setelah ini? Semua itu adalah misteri ilahi. Baiklah kalau begitu, karena waktu sudah sangat malam ditambah mataku yang sudah tidak kuat lagi dipakai menulis jauh lebih banyak ungkapan isi hati. Maka akan aku ucapkan, selamat bermalam Senin, sahabatku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN