"Malam ke dua puluh tiga untuk kita semua: Malam di mana ada banyak tanya bermunculan secara tidak terduga!"
***
Tertanda hari ini, tanggal 11 April tahun dua ribu lima belas, malam yang walau sedikit dingin, tapi sama sekali tak surutkan niatku untuk kembali melanjutkan isi dari catatan perjalanan cinta pertamaku padamu ini, Sayang. Selamat membaca.
...
Kau pasti sudah tau dan membaca bagian yang aku tulis soal kakakku, bukan? Namanya Sasha. Mungkin sedikit terdengan feminism untuk nama orang negara ini. Nama lengkapnya sendiri adalah Sasha Saputra Wijaya Izhevsk. Ayah kami memang sengaja menetapkan bahwa nama belakang dari para anaknya harus diambil dari nama tempat kelahiran mereka. Kak Sasha sendiri memang kebetulan lahir saat kedua orang tua kami sedang ada di tanah Kremlin yang dipimpin Pak Vladimir Putin itu, sih.
Kak Sasha adalah tipe laki-laki yang akan buat orang menengok dua kali saat melihatnya. Aku sendiri kalau boleh dibilang… sangat heran. Kenapa dia bisa begitu ganteng? Sudah begitu dia juga sangat pintar lagi. Kak Sasha mendapat beasiswa penuh dari dua orang tua kami. Itu karena ia bersedia kuliah di jurusan yang satu kehendak dengan sang pemberi beasiswa utama yaitu ayah kami. Padahal sepanjang yang aku tau sendiri, Kak Sasha sendiri pernah bercerita padaku bahwa ia ingin sekali jadi geolog, lho.
Barangkali di mata semua orang Kak Sasha merupakan seorang pemenang sejati dalam artian harfiah: seseorang yang menduduki posisi atas. Karena ia bisa memenangkan hati kedua orang tua kami yang cukup keras. Berhasil membahagiakan dan beri kebanggaan pada mereka. Namun, jika untuk aku sendiri, Kak Sasha malah jauh lebih terkesan kalah. Ia seperti tak bersedia atau tak punya motivasi untuk bertarung dengan dir sendiri. Demi apa yang ia kehendaki dalam hati.
Selama ini kita semua selalu tau bahwa yang namanya hidup itu memang sebuah pilihan antara dua atau lebih kemungkinan. Mungkin daripada aku sebut sebagai seorang pecundang, Kak Sasha akan jauh tepat jika aku sebut sebagai… apa ya yang konotasinya terdengar jauh lebih baik dan sopan? Aku tidak begitu kaya kosakata bahasa Indonesia, sih. Mungkin pengalah? Nah, iya, benar, mengalah pada keputusan orang lain. Mungkin Kak Sasha terlalu takut untuk mengecewakan kedua orang tua kami. Tapi, bukankah jadi pertanyaan lagi soal kenapa harus takut jika memang punya kepercayaan? Mengerti maksudku, kan?
Kondisi kesehatan tubuhku memang kurang baik sejak lahir. Tapi, daripada jadi seorang dokter, bukankah akan jauh lebih baik jika mengambil pendidikan untuk kuliah jurusan desain atau memasak saja? Yang lain saja, lah. Yang tidak ada hubungannya dengan rumah sakit kalau bisa. Ayah kami sendiri berani jamin jika aku akan menyesali keputusan yang aku buat suatu saat nanti. Namun entah bagaimana dunia luar berusaha untuk runtuhkan niatku demi mendapat gelar ini, hati tetap kembali berkata seolah berusaha keras menunjukkan intuisi pasti, lebih baik menyesali keputusan yang kita buat sendiri, ’kan? Dan ayah pun, melihat sikap dan keyakinanku yang cukup ngotot, untungnya pada akhirnya mereka berhasil luluh juga.
Sahabatku, jika ada orang lain yang sampai berani larang kamu untuk lakukan sesuatu yang tidak seutuhnya hal buruk. Bisa jadi mereka merasa bahwa mungkin memiliki ketakutan apabila sampai terjadi hal kurang baik padamu. Sebenarnya mereka yang beri wanti-wanti seperti itu pasti cukup perhatian dan menyayangimu, bukan? Keputusan untuk beri rasa khawatir pada dirimu sendiri yang mungkin bisa berakhir menahan. Tapi, sekali lagi, semua keputusan untuk woles atau show must go on semua itu tetap hanya ada di tanganmu seorang.
Aku sendiri tidak pernah berharap atau punya keinginan muluk bahwa gangguan kesehatan yang aku derita sejak dulu ini akan macam-macam lagi suatu saat nanti. Apalagi setelah aku bertemu dengan kamu, seorang gadis manis yang aku jadi tujuan yang harus aku capai setelah ini. Aku ingin sekali kamu tahu bahwa seorang cowok yang sedang jatuh cinta padamu saat ini adalah seseorang yang memiliki nilai perjuangan juga pekerja keras. Bukan pecundang yang hanya suka meratap lagi berputus asa. Oke?
Nah, apa kamu sudah mulai punya perasaan suka sama aku sekarang?
"Malam ke dua puluh empat untuk kita semua: Malam yang aku ingin jadi suatu waktu yang indah untuk kita semua, entah aku, kamu maupun siapa saja yang tengah menikmati catatan tidak jelas ini"
***
Tertanda hari ini, tanggal tiga belas April tahun dua ribu lima belas atau malam saat aku ingin sekali jadi orang yang jauh lebih percaya diri baik untuk dunia, semesta alam, maupun kematian yang bisa menerjang kapan saja. Aamiin.
...
Dunia yang sedang kita tempati ini tak ubahnya seperti sebuah bayangan. Ya, titik kegelapan yang muncul saat kita membelakangi cahaya. Setiap kita coba mendekat sejauh satu meter, maka ia akan menjauh sebanyak satu meter juga. Begitu pula apa yang terjadi saat kita mulai semakin mendekatkan diri, makai a pun akan makin menjauh. Seperti itulah dunia. Seperti itulah tempat kita hidup selama ini. Sebuah tolak ukur yang kadang sulit dipahami oleh akal sehat, namun selalu nyata dan bahkan coba diukur menggunakan ilmu pengetahuan.
Bisa jadi semua yang coba aku lakukan pada orang lain dapat dengan mudah mereka asumsikan sebagai suatu tindakan yang kurang tepat. Itulah kenapa sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dulu, aku memilih untuk jauh lebih banyak diam dan tak begitu ambil peran dalam putaran rotasi masyarakat dunia. Biar saja mereka anggap aku ini tidak pernah ada. Bukti akan eksistensi juga bukan sesuatu yang sangat aku kejar sampai dengan sebegitunya. Tidak seperti anak seumuranku lain yang sangat mengendepankan eksistensi di hadapan orang lain agar hidup mereka bisa terasa jauh lebih baik. Kalau aku, sm asekali tidak seperti itu. Aku hanya ingin eksis dan ada untuk diriku sendiri seolah tak ada hal lain yang aku butuhkan selain itu. Aku tidak butuh pengakuan atau respon dari pihak ketiga bahwa aku ada.
Yah, tapi namanya juga hanya ”ingin”. Apa yang kita inginkan mah kalau bisa langsung terjadi dengan mulus lancar tanpa hambatan atau haling rintang seperti wajahnya Mbak Ariel Tatum mah tentu akan sangat mudah. Hidup jadi serba sederhana dan tak ada lagi yang perlu kita, sebagai manusia, pusingkan. Namun, pada kenyataannya kan tidak seperti itu. Tak akan ada hal baik yang bisa terjadi begitu saja dalam hidup seorang manusia tanpa perjuangan atau kerja keras sama sekali.
Kembali ke topik awal yang ingin aku bicarakan barusan. Kenapa aku memilih untuk jadi seseorang yang tidak terlihat? Seorang manusia yang keberadaannya nyaru tak ubahnya selembar daun yang terjatuh dari sebuah dahan yang terletak dalam hutan rimba? Kenapa? Habisnya jika aku sampai banyak bicara atau terlalu ekspresif dalam mengutarakan isi hatiku, entah kenapa tapi aku ko merasa selalu ada saja protes yang berakhir aku dapat. Bahkan jika di saat seperti di mana aku memutuskan bahwa diam itu emas dan jauh lebih baik untuk semua orang, mereka para anggota kehidupan sosial yang normal itu akan berpikir bahwa aku merupakan seseorang yang sombong lah, angkuh lah, tinggi hati lah, sok keren lah, dan sebagainya. Namun, apa yang akan terjadi jika aku sampai bicara adalah aku akan dianggap sebagai seseorang berisik dan terlalu banyak bicara.
Sungguh membingungkan sekali, bukan? Apa yang selama ini selalu kalian sebut sebagai ”kemanusiaan”. Aku tidak bisa semudah itu paham. Karenanya tak ada jalan keluar lain aku pikirkan kecuali… ya menarik diri saja. Jauh lebih rela untuk dianggap sebagai seorang pengecut atau kata dengan konotasi buruk lain. Yang paling penting untuk diriku adalah diriku sendiri. Bisa mati muda akau jika selalu memikirkan apa yang akan orang lain pikirkan atau apa yang saat ini tengah mereka bayangkan soal aku.
Sahabatku, jenis orang seperti yang telah aku temui adalah tipe yang sebaiknya kita hindari untuk mencapai sebuah kesuksesan serta keberhasilan. Mereka semua tak ada bedanya dengan para pecundang yang ingin mencari teman. Jangan pernah kamu dengarkan ucapan mereka!
Aku bicara seperti ini sendiri karena tadi kamu baru saja membagi cerita tentang hal itu di pesan yang kamu kirim. Tapi, karena tadi aku sedang kontrol ke rumah sakit. Aku tak bisa membalasnya secara langsung. Sampai rumah, ternyata malah pulsaku yang habis, hehehe.
Mendengar orang yang bicara sinis tentang kita memang buat mual. Jika terus saja didengarkan bisa buat kita akan muntah.
Aku pindah ke Indonesia saat berusia sekitar sebelas tahun. Aku dimasukkan ke sekolah negeri biasa. Bisa bayangkan bagaimana aku yang (seumur hidup) tinggal di rumah sakit tiba-tiba harus membaur dalam kehidupan sekolah yang penuh dengan berbagai orang dengan beragam karakteristiknya. Mana aku juga sama sekali belum lancar bisa bicara dalam bahasa Indonesia. Ledekan maupun olokan sudah jadi asupan harian yang sangat biasa.
Walau situasi kondisi tak begitu baik, untung saja aku bertemu dengan Gana. Aku rasa dia punya sikap dan perilaku yang baik sekali dibanding dengan orang lain yang ada di sekitarku saat itu. Dan aku tersadar oleh sesuatu bahwa hanya orang seperti ialah yang akan aku butuhkan untuk tetap bertahan hidup dan berjalan di rel yang benar dalam tolak ukur ”kemanusiaan” yang selalu banyak orang maksudkan.
Mungkin kamu memang ingin memiliki jauh banyak teman lagi. Tapi, kalau saja sulit atau terasa tidak akan bisa, maka berusahalah untuk mencari satu saja yang benar-benar spesial dan menempati posisi khusus dalam hati. Satu orang yang akan bersedia untuk luangkan waktu selalu ada untukmu setiap saat.
Jika pun hal itu ternyata tidak bisa juga, maka cobalah untuk berkawan dengan dirimu sendiri. Iya, benar, dirimu sendiri. Cobalah untuk merundingkan segala sesuatu yang paling baik dan cobalah terima bagaimana lingkungan di sekitar harus berjalan. Maka kau saat itu juga niscaya kamu akan mampu berteman dengan seluruh dunia. Bukan hanya para manusianya saja bahkan, tapi dengan seluruh ekosistem yang ada dan menjalani hidup mereka di dalamnya.
Aku bisa bicara seperti ini sendiri bukan karena hidupku seratus perse selalu enak juga. Kamu ingat pada salah satu karalkter antagonis dalam buku catatan ini yang pernah aku ceritakan beberapa malam lalu atau tidak? Namanya. Ibnu. Di mata para temanku sendiri dia anak yang lumayan baik. Tak tahu mengapa orang-orang seperti itu hanya menunjukkan sisi buruknya padaku. Saat masih di Jepang juga aku pernah kenal dengan orang macam itu. Namanya Mizuki Awa. Orang seperti mereka rasanya memang akan selalu ada di mana saja tidak peduli apa tempat maupun kultur budaya di sekitarnya.
Kamelia, mungkin aku tak sebanding dengan para teman yang kamu punya selama ini. Tapi, walau seperti itu, aku ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu ada untuk kamu sebagaimana teman yang selama ini kamu percaya juga senantiasa menempati posisi itu. Oke, selain aku, jangan lupa juga jika masih ada Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan kita apa pun yang terjadi.
Tetaplah percaya dan jangan pernah putus asa!