10

1100 Kata
"Malam ke dua puluh dua untuk catatan tidak jelas ini dan kita semua: malam di mana aku ingin sekali jadi Albert Einstein atau Stephen Hawking yang bisa memikirkan dan mencetuskan banyak hal dalam hidup mereka. Tau, ah!" *** Tertanda hari ini, tanggal 10 April tahun dua ribu lima belas, hari yang cukup membingungkan. Walau aku rasa semua hari dalam hidupku sebagai manusia akan selalu dipenuhi dengan kebingungan, sih. Banyak sekali hal tidak jelas terjadi belakangan ini. Hmm, kecuali perasaan yang aku punya padamu, Kamelia. ... Bahkan ketika seorang manusia telah berusaha dengan keras untuk menutupi segala macam kekurangan yang ada dalam dirinya. Sesungguhnya aku yakin bahwa tak seorang pun serius dengan itu semua. Tak akan ada orang yang benar-benar serius memikirkan orang lain. Terlebih di jaman yang sudah semakin sulit dinalar oleh logika seperti hari ini. Aku baru menyadari sesuatu. Mungkin itu alasan yang buat aku sampai begitu menutup diri dari segala hal di dunia. Segala hal dalam hidup. Harus aku akui, lho. Sebenarnya aku ini anak yang cukup asyik. Menyenangkan. Yah, paling tidak itu yang Gana katakan saat aku bertanya kesan pesannya selama menjalin hubungan persahabatan denganku. Harus aku akui juga kalau aku ini adalah orang yang cukup menyedihkan. Tidak punya harapan untuk jadi lebih baik. Dan suka sekali memikirkan hal buruk. Terkadang. Tatoeba, contohnya, walau aku seorang calon dokter, aku sama seklai tak pernah memikirkan orang lain dengan serius atau sepenuh hati. Aku selalu berpikir kalau semua orang lain itu pasti sudah memiliki banyak orang lain yang setia berdiri di sisinya. Tidak seperti aku yang tiap hari hanya ditemani oleh sepi dan ras aputus asa. Mudahnya saja keberadaanku dan eksistensiku ini sebenarnya tak begitu diperlukan dan ada pengaruhnya untuk lingkup hubungan sosial yang aku masuki. Sedikit apatis dan jadi ironis memang. Bukankah hakikat manusia adalah saling membantu? Saling membutuhkan antara satu dengan yang lain? Entah apa dan di mana yang tidak teppat. Begitu sulit buat keberadaanku yang terlampau biasa dan tipis ini bisa diakui. Baru sebentar juga jadi orang yang “normal” pun masalah itu ada saja yang datang. Bahkan yang paling parah, aku malas menghadapi semua masalah tidak penting itu. Kamelia, aku sangat cinta sama kamu. Dari obrolan kita selama ini, sepertinya kamu juga suka padaku. Merujuk dari banyak buku motivasi yang aku baca selama hidup. Mungkin aku harus memutuskan untuk membuat cincin setelah ini. “…Jika menginginkan sesuatu, maka percayalah. Bersikaplah seolah kau telah menggenggam kepercayaan itu,” by Hal Nara. Mudahnya jika kau percaya hari akan hujan maka bawalah paying atau jenis pelindung lain yang bisa menghindarkan tubuhmu dari basah air kucuran langit itu. Jika kau percaya suatu saat nanti akan mati, maka rajinlah menabung untuk bekal kehidupan selanjutnya. Jika kau percaya bahwa seorang gadis akan jadi pelabuhan perasaan terakhirmu. Jangan buang waktu, kau tahu apa yang harus ka lakukan. Banyak hal yang sebenarnya sudah sangat jelas di dunia. Yang membuatku bingung, kenapa masih banyak yang menunda-nunda, ya? Sebagai contoh, biar aku ceritakan suatu kisah. Kamelia, sepanjang isi buku ini, kau pasti beberapa kali membaca nama Afham. Percaya tidak? Usia anak itu masih tujuh belas tahun, lho. Mimpinya saja mendapat gelar dokter spesialis sebelum berumur dua puluh tahun. Bwih, rasaya dia punya pikiran dan visi misi yang sepuluh tahun tahun jauh lebih maju ketimbang aku. Tengsin, sih. Tapi, woles. Aku yakin kalau tiap manusia memiliki jalan mereka masing-masing. Maka tidak baik kalau banyak mengeluh. Meski terkadang aku juga melakukannya sih, hehehe. Nah, yang jadi topik pembicaraan kita mala mini di buku ini sekarang adalah apa yang sebenarnya sudah buat Afham mampu dapatkan itu semua di usia yang begitu muda? Yup, yup, benar sekali. Karena dia sudah paham ke mana ia harus melangkah. Untuk apa ia melangkah. Dan apa yang ia miliki untuk melangkah. Untukku ke-3 hal itu adalah kunci untuk menuai keberhasilan dalam semua hal dalam hidup. Bukan hanya tentang pendidikan, pekerjaan, atau masa depan percintaan (seperti yang sedang aku usahakan sekarang). Lho, Hal, katamu kamu sudah menentukan tujuanmu sejak kecil? Kenapa bisa sampai kalah sama Afham? Ah, souka, kamu pasti bertanya begitu. Memang. Tapi, Tuhan juga kan pasti beri kapasitas berbeda untuk setiap manusia. Mungkin Afham dilahirkan dari yang jauh lebih keluarga mapan dan beruntung dalam segala aspek. Memiliki otak yang jauh lebih cerdas. Ditambah semua orang mendukung cita-citanya. Nah, memang kamu pikir hidup sema orang bisa semudah dan seenak dia? Big no, tidak, nein, arimaseenn…!!! Saat itu Ayah tengah berjuang mendirikan usaha kontraktor-nya di Jerman. Mana bisa aku merengek untuk minta uang kuliah kedokteran yang bejibun. Tapi, tidak apa-apa, lho, walau berjuang sendiri. Selama masih percaya, kau tidak pernah sendiri. Karenanya, berbekal ijazah sekolah teknik mesin salah jurusan-ku, mati-matian aku berjuang keras demi sebuah beasiswa yang kini berhasil aku dapatkan dan antar aku semakin pasti menduduki posisi sebagai seorang caloj dokter. “Selama masih hidup. Kau punya harapan untuk menjadi apa pun yang kau kehendaki,” by Hal Nara. Hai, ceker (cewek keren), tidak percaya aku bisa dapat beasiswa? Harus diakui aku tak punya otak yang pintar pintar amat. Pokoknya pasti jauh lebih pintar kamu, deh. Kelihatan banget, kok. Yang buat aku bisa mewujudkan mimpi untuk kuliah kedokteran hanya, TK-D! Alias tekad, kemauan dan disiplin. Aku hanya menginginkan dan melakukan hal paling baik yang aku bisa. Untuk mewujudkan itu semua. Sahabatku, biar aku ceritakan suatu kisah yang begitu menggugah. Tentang perjuangan yang tak mengenal akhir. Juga maksud yang ada di baliknya. Kamu tentu tahu tentang kisah Bunda Hajar, bukan? Ia berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak 7 kali demi mencari setetesair. Untuk putera terkasihnya yang hingga saat ini kita imani sebagai Nabi Ismail. Jemaah haji jaman sekarang saja mengeluh capai banget. Gimana sama Bunda Hajar yang waktu itu kepanasan, kecapaian, dehidrasi, 5L (), seorang perempuan yang lemah lagi renta pula? Saat itu, aku sih yakin kalau Bunda Hajar sudah tahu pakai sop, eh, pakai banget. Sekeras apa pun ia terus berusaha untul mencari, tak mungkin di gurun pasir yang panas tandas itu akan ada air. Terus kenapa Bunda Hajar masih berkeras? Semua untuk menunjukkan pada Tuhan. Seberapa besar perjuangan yang buat ia pantas untuk sebuah hasil. Walhasil, bukan dari Shafa. Bukan dari Marwah. Air malah keluar dari hentakan kaki Nabi Ismail! Super ajib… Eh, subhanallah… Keren sekali ya, kisah perjuangan Bunda Hajar. Dari sana juga aku paham. Betapa besar cinta kasih dan pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Perempuan memang istimewa. Karena itu, Kamelia, kalau kita ta’aruf saja bagaimana? Hehe. Memang banyak sekali yang bisa kita pelajari dari dunia. Sayang, kadang waktu hidup yang kita punya tak cukup panjang untuk pelajari itu semua dengan baik dan benar. Sesuai dengan apa yang pemilik dari alam semesta ini inginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN