8 & 9

1052 Kata
"Dua puluh untuk semua: Aku harap masa depan yang aku harapkan akan datang seperti apa yang selalu aku bayangkan saat memikirkan soal hidup kita, bersama, entah kapan itu, nanti" *** Tertanda hari ini, tanggal 8 April tahun dua ribu lima belas yang... yah, begitu begitu saja. ... “Apabila terlalu menyiapkan yang ada di bagian paling depan, maka yang bagian paling belakang bisa jadi akan jauh lebih lemah. Apabila terlalu menyiapkan yang ada di bagian paling kiri, maka yang bagian paling kanan lemah bisa jadi akan jauh lebih rapuh. Dan apabila sampai kita buat di segala tempat siap, yang ada bisa jadi juga di segala tempat lah jadi titik kelemahan.” Petuah yang aku tulis di barisan atas itu sendiri merupakan salah satu prinsip dari art of war, seni dalam peperangan ala Tsun Zu. Baru-baru ini aku sendiri baru saja selesai membaca buku “Seni Perang ala Sun Tzu”. Itu sendiri merupakan karya militer klasik paling tua (dan berpengaruh, aku rasa) dalam literatur Cina. Pada catatan yang aku torehkan malam ini aku akan membahas sedikit soal hal itu yang tampaknya akan cukup menarik untuk kita bicarakan, Kamelia. Juga menilik apakah ada hubungannya dengan masalah yang sedang aku hadapi sendiri saat ini. Tidakkah kamu pikir kalau manusia adalah makhluk yang kadang akan jadi sangat berlebihan? Mereka akan getol mempersiapkan sesuatu dengan matang. Tapi, malah berakhir dengan melupakan apa sisi paling penting dari hal yang sedang mereka kejar sepenuh hati. Nah, bukannkah pada akhirnya hal itu bisa mengakibatkan terjadinya kebocoran atau situasi tak jelas di segala tempat? Kalau aku merasa seperti itu dan jadi sangat tidak nyaman pada diri sendiri. Seperti apa pun yang aku pikirkan serta persiapkan bisa berakibat buruk atau malah sebabkan aku masuk dalam masalah yang jauh lebih besar. Padahal niat awal yang aku punya kan untuk menyelesaikan masalah itu, eh yang ada malah semua boncos, bocor dan berkembang jadi sesuatu yang tak bisa aku kendalikan seorang diri. Semua jadi sangat parah seolah tak punya tepi. Tapi, kenapa juga harus jadi seperti ini? Aku tidak mengerti dan bukan berarti akan diberi kesempatan untuk hal itu suatu saat nanti. Jadi, intinya di sini adalah aku sedang sedikit bingung. Sedikit tersesat dan merasa tak punya arah jalan pulang. Penuh rasa bingung. Putus asa mendalam dan merasa akan hilang kendali karena banyak hal yang untuk selamanya bahkan tak akan pernah bisa aku kendalikan. Semua seperti omong kosong yang tak bisa atau ingin aku pahami. Rasanya ingin menyerah dan berhenti tepat di tempat ini. Rasanya kalau suatu waktu aku sungguhan jadi seperti itu juga tidak akan mengapa, bukan? Jika dilihat dari luar mungkin aku memang terlihat jadi anak remaja yang makin popular dan punya banyak kawan. Tipikal anak remaja yang sangat normal. Punya banyak relasi serta hubungan yang bisa diandalkan dan saling mengandalkan. Tapi, aku mohon coba percayalah padaku juga kalau di saat sama semua itu jadi terasa begitu ganjil dan buat aku merasa jadi sedikit kurang nyaman. Apakah mereka semua itu benar-benar temanku? Bahkan jika memang benar mereka itu temanku, lantas mengapa mereka tak pernah bela aku? Hubungan yang aku jalani dengan anak s**l bernama Muh Ibnu jadi sesuatu yang benar-benar terkutuk. Aku jadi berharap bahwa mungkin bisa jadi akan jauh lebih baik kalau tak punya teman saja sekalian. Daripada harus mengenal orang itu. Di suatu siang dalam suatu acara debat ilmiah kampungan antara para calon dokter. Ia kembali permalukan aku dengan apa yang keluar dari rongga mulutnya. Tapi, bodohnya aku, tidak tau kenapa, aku malah jadi tak bisa membalas semua ucapannya dan berakhir hanya terdiam sudah seperti orang bodoh. Anak-anak lain yang harusnya tau jika itu hal salah dan aku harap bisa beri paling tidak sedikit respon pembelaan juga entah kenapa malah membiarkan saja. diam saja tanpa kata. Tak ada yang berusaha menghentikan orang itu. Maupun mengomentari kata-katanya yang sangat kasar. Hatiku seketika kembali jadi dipenuhi oleh pertanyaan, apakah memang benar mereka semua itu sungguh temanku? Sama seperti pertanyaan yang aku utarakan padamu, Kamelia. Apakah kau sungguh cinta yang pantas aku pertaruhkan? Aku perjuangan bahkan dengan detak jantung yang tidak menentu ini. Apakah kau seseorang yang pantas aku cintai dengan menukar resiko akan masa depan yang bisa kudapatkan? Apakah semua itu mungkin? Apa cerita dalam catatan ini akan ajdi sesuatu yang aku harapkan? Atau malah tidak dan malah sebaliknya? Aku tidak mau tau. Aku tidak peduli. aku sangat benci pada diriku sendiri yang lemah dan selalu bersikap seolah jadi orang yang tidak berdaya. Tidak punya kekuatan sama sekali. Apakah itu semua memang hal yang adil? Eh, aku lupa. Di atas dunia ini kan tidak ada yang namanya keadilan untuk manusia. "Dua puluh satu untuk semua: Aku tidak tau apa yang akan terjadi, tapi aku akan berusaha gunakan low of atraction dengan membuat catatan ini untuk memancing kejadian masa depan yang aku harapkan" *** Tertanda hari ini, tanggal 9 April tahun dua ribu lima belas. Eh, apa? Begitu saja? Iya, aku sedang bingung ingin menulis apa untuk ucapan pembuka yang seperti biasa karena apa yang ingin aku tulis ya hanya apa yang ingin aku tuangkan malam ini. Tidak lebih tidak kurang. Padahal ini juga sejak tadi aku sudah menulis. Haha. ... Aku lahir pada tanggal dua puluh satu April sembilan belas tahun lalu. Kalau di Indonesia sendiri itu akan bertepatan dengan hari Kartini. Apabila jika di Jepang saat itu akan bertepatan dengan musim bunga sakura alias musim semi. Di awal sebenanrya Ayah ingin beri aku nama Sakura. Tapi, untungnya hal itu segera ditentang oleh Ibu. Ia bilang sendiri Sakura akan jadi nama yang terlalu feminim dan umum hanya digunakan oleh anak perempuan. Usul selanjutnya datang dari teman ayah yaitu Mizushima sensei. Bagaimana jika Natsu (musim panas) saja? Atau Yuki (musim dingin)? Atau Sakurazaki atau Sakurai mungkin agar lebih macho, tambah Ayah. Semua menuai gelengan Ibu. Akhirnya aku diberi nama Haruka. Yang punya makna musim semi. Suatu musim di mana semua hal hidup. Dimana langit dipenuhi kebahagiaan. Dan tanah dihinggapi oleh senyum paripurna. Sebenarnya ada kejadian memalukan yang ingin aku ceritakan sekarang. Itu berhubungan dengan aku yang selama tinggal di Jepang harus tinggal di rumah sakit karena kondisi tubuh kurang sehat yang aku miliki. Itu jugalah yang sampai buat aku akrab dengan Mizushima sensei. Dan tidak lupa dunia kedokteran. Tapi, aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk ceritakan hal itu. Tidak tau kenapa. Mungkin kapan-kapan saja jika ada kesempatan. Ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN