"Eighteen for all: Something good will happen in our lives and we will enjoy every single step to that moment, for sure"
***
Tertanda hari ini, tanggal 5 April tahun dua ribu lima belas atau hari di mana aku akan... berubah pikiran? Tidak jadi suka sama kamu dan malah jadi naksir pada temanmu yang namanya Karla itu? Bagaimana, Kamelia? Takut atau tidak?
Haha, aku hanya bercanda. Tidak mungkin lah aku setelah perjuangan serta perjalanan panjang sampai ke halaman ini dalam menulis kisah cintaku padamu bisa semudah itu berubah haluan. Tidak akan, kok. Tenang saja.
Jadi, mari kita mulai cerita malam ini.
...
Selama ini hari Senin memang selalu jadi simbolisasi hari untuk memulai sesuatu (biasanya penderitaan karena di hari Senin kita harus kembali masuk kerja aku sekolah, haha). Banyak orang di dunia dari seluruh lapisan masyarakat mau yang paling tinggi sampai yang tidak begitu tinggi sangat benci pada hari Senin. Karena masuk kerja. Harus sekolah lagi. Beraktifitas lagi dan tidak bisa rebahan sepanjang hari. Untuk aku sendiri, Senin ini akan menjadi hari yang baik.
Aku pikir selama kenal ini Karla sungguh gadis yang sangat baik hati. Sikap jujur dan rasa setia kawan senantiasa selalu terpancar nyaris dari semua hal yang ia lakukan. Saat aku minta bantuan untuk menyusun rencana untuk pernyataan cinta pertamaku yang agung. Ia bersikukuh yakin menolak karena sudah berjanji padamu untuk tidak ikut campur lagi masalah yang berhubungan dengan aku, haha.
Gadis yang keren, ya?
Woles, tenang saja, selow, begini begini juga aku masih punya bala lain untuk membantu. Dengan bantuan semua temanku, akan aku taklukkan hatimu, yeaah!!!
"Nineteen for all: I don't know why, but I love you, Kamelia. I hope you love me too"
***
Tertanda hari ini, tanggal 7 April tahun dua ribu lima belas atau hari di mana hal buruk yang tidak aku sangka akan terjadi (lagi) dalam hidupku malah terjadi tanpa bisa diprediksi. Tidak seperti aku mengerti atau sudah membuat perencanaan untuk itu. Aku hanya talut pada hasil akhir dari sesuatu yang saat ini terjadi. Apa masih ada masa depan cinta dan kasih sayang untuk manusia cacat seperti aku?
...
Terjadi hal yang sama sekali tak aku inginkan. Dalam rencananya sendiri aku punya niat untuk menemuimu bersama dengan Bima, seorang teman dari fakultas lain jurusan arsitektur lanskap. Namun, tanpa diduga apa yang jadi penyebabnya, tepat saat kamu berada di lapangan parkir. Dadaku sudah dag dig dug BLEDARR sejak tadi.
Rencana kami mulai saat Bima meminta kamu berpisah dari teman-temanmu untuk bicara. Saat kamu sudah terbingung-bingung karena tak mengenal Bima. Aku akan muncul berbekal bunga kepercayaan diri dan cinta. Saat itu semua temanku akan keluar dari persembunyian dan memberikan sorakan. Untung Gana anak gaul yang mengenal beberapa anak yang berasal dari kampus sama dengan kamu. Semakin ramai (rencananya, harusnya, inginnya, harapnya), deh!
Masalah dimulai saat itu. Padahal cuaca tidak begitu panas. Tak ada darah yang keluar dari hidungku sampai bisa buat semua orang ribut. Tiba-tiba tubuhku terjatuh karena sakit yang tidak terkira di d**a. Dan dalam sekejap seluruh acara penembakan yang telah kami semua susun serta rencanakan pun gagal total. Karena semua temanku tak ingin keadaan jadi makin buruk baik untukku, untukmu, maupun untuk mereka. Secepat kilat aku pun langsung dibawa ke IGD untuk penanganan darurat.
Sungguh parah abis!
Apa yang terjadi setelah itu tidak terlalu penting dan ingin aku ceritakan sebenarnya. Habis memang hanya buat kepala pusing saja. yang jelas pada saat malam harinya Gana mengatakan sesuatu padaku. Ia bilang aku tidak boleh sampai membuat jantungku terlalu berdebar. Apa pun alasannya. Dan itulah yang halangi aku untuk lanjutkan perasaan cinta ini. Padahal hanya serangan jantung ringan yang sederhana.
Sepertinya siapa pun juga bisa alami hal semacam itu, bukan?
Aku tidak mau kau tahu atau sampai berpikir kalau cowok yang menaruh hati padamu adalah laki-laki lemah yang mudah tumbang hanya karena perkara penyakit tidak penting seperti… serangan jantung. (NB: eh, ya bukannya tidak penting juga, bestie. Sakit jantung bisa jadi cukup berbahaya dan mengancam jiwa apabila itu terjadi padamu. Karena itu jangan sampai siapa saja yang membaca catatan ini sampai berpikir untuk mengabaikan kondisi tersebut atau sampai punya pikiran ndablek seperti aku. Tidak, sebagai calon dokter aku tidak akan membenarkan apa pun Tindakan yang aku lakukan terkait dengan kondisi kesehatanku yang tidak begitu sama dengan orang lain ini).
Bukan hanya kredibilitas sebagai calon dokter yang aku khawatirkan di sini saat ini, Kamelia. Tapi, aku juga tidak habis pikir dan terus merasa bingung saat memikirkan apa yang akan terjadi kalau sampai nanti orang tuaku yang saat ini tinggal dan menetap di negara Jerman tahu. Konsekuensi paling buruk yang mungkin terjadi (dan aku amini tidak akan terjadi adalah) bisa-bisa aku malah disuruh ke sana lagi. Entah untuk mengobati rasa cemas berlebihan mereka saja. Atau yang paling buruk memaksa aku juga ikut menetap di negara dengan empat musim itu. Tapi, bukan hanya mereka yang apabila mengetahui soal kondisiku sekarang ini aku khawatirkan reaksinya. Tapi, juga seorang dosen yang selama ini sangat peduli dan perhatia padaku, Profesor Mainanak nama beliau.
Fiuuhh… jadi, apa yang harus aku perbuat? Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk buat situasi jadi semakin buruk?
Sekarang aku hanya bisa meminta semua temanku yang terlibat dalam kejadian itu untuk menutup rapat semua hal yang berkaitan dengan masalah ini. Tentu saja itu juga termasuk dari Karen (Kakak keren – Sasha). Semoga besok kondisiku sudah jauh lebih baik dari hari ini dan tak ada hal dramatis lagi yang akan terjadi. Karena kalau boleh jujur… ini adalah pertama kali terjadi. Yah, paling tidak pertama kali terjadi (lagi) setelah sekitar 7 tahun lamanya aku hidup dalam kedamaian.
Kedamaian yang semu. Karena prinsip dasar alam semesta yang kita tinggali ini rasanya memang ketidakpastian. Seperti penelitian Bapak Schrodinger dalam Schrodinger Cat-nya. Yah, tak aka nada yang bis akita duga bahkan apabila menggunakan peralatan paling mutakhir sekalipun. Di bawah kehendak Tuhan, semua hal bisa saja terjadi di luar ekspektasi. Begitu juga dalam ilmu kedokteran yang aku geluti. Semua ini sangat normal. Dan aku tak boleh memasang reaksi berlebihan yang akut akutkan malah akan jadi s*****a makan tuan di masa depan.
Hehehe, Kamelia, jangan bilang aku jadi mengalami hal seperti ini karena terlalu serius memikirkan kamu. Sama seperti semua manusia lain di atas dunia, aku kan hanya ingin jatuh cinta juga.
Boleh, ya?