bc

Milik Mutlak Sang Satria Gelap

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
age gap
badboy
goodgirl
mafia
gangster
drama
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

⚠️ PERINGATAN: Cerita ini mengandung bahasa yang tegas dan adegan dewasa. Tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur. "Layanilah aku dengan benar. Jangan sampai kau membuatku menyesal telah membelimu dari pria tua bangka itu!" Rindu Sekar Wangi terpaksa menerima kenyataan pahit saat ayah angkatnya sendiri menjualnya kepada sosok yang ditakuti seantero kota: Arjun Satria Dewangga. Pria yang dikenal kejam, dingin, dan tak pernah memberi ampun pada siapa pun yang mengecewakannya. Demi melunasi utang dan keserakahan orang yang seharusnya melindunginya, Rindu kini menjadi milik mutlak Arjun. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya—apakah ia hanya akan dianggap barang belian semata, atau ada rahasia dan perasaan tersembunyi di balik sikap kasar sang penguasa gelap itu? Ikuti perjalanan Rindu yang terjebak di antara kewajiban, ketakutan, dan benih cinta yang tumbuh tak terduga di tengah dunia yang penuh bahaya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Dijual, Dibawa, dan Bertemu Sang Penguasa
"Mau uang dan barang-barang itu? Cih, rakus sekali kau!" Pria tampan berrahang tegas dan beralis lebat itu menghisap rokoknya dalam-dalam, mengepulkan asap ke udara sambil menatap meremehkan sosok yang bersimpuh di hadapannya. "Apa yang sanggup kau serahkan sebagai gantinya?" Duduk bersandar di sofa tunggal yang megah, diapit dua penjaga bertubuh kekar di sisi kanan dan kiri, ia menyilangkan kaki dengan wajah penuh keangkuhan. "Saya memiliki sesuatu yang sangat menarik, Tuan. Saya yakin Anda tak akan menyesal menerimanya." Pria paruh baya itu menunduk dalam, sepenuhnya sadar betapa ditakutinya pemuda di hadapannya itu. Pemuda itu menyeringai sinis, menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Memangnya apa yang kau punya selain nyawamu yang tak berharga itu?" Ucapannya tajam dan sarkas. Ia tak peduli apakah orang yang ia hinakan itu terluka atau tidak—begitulah cara ia berbicara, tanpa belas kasih. Sementara pria tua itu tak berdaya menerima setiap hinaan. Baginya, pemuda ini bukan sekadar sumber kekayaan, melainkan sosok yang disegani bahkan ditakuti oleh kalangan penjahat kelas kakap. "Saya punya seorang putri yang bisa saya serahkan pada Tuan. Ia cantik, dan saya jamin ia masih suci. Saya yakin Tuan pasti akan menyukainya." Pemuda itu tampak tak tertarik sedikit pun. Ia memadamkan puntung rokoknya tanpa sepatah kata pun, seolah tawaran itu tak lebih berharga dari debu. "Bukankah kau sudah tahu saya tak tertarik pada wanita? Lalu apa gunanya saya menerima putrimu?" tanyanya datar, tanpa menoleh sedikit pun. "M-maaf, Tuan... tapi kali ini saya jamin Anda akan berubah pikiran. Tuan boleh melihatnya sendiri jika berkenan?" tawar pria tua itu dengan suara gemetar. "Berapa yang kau minta? Setelah saya transfer uangnya, wanita itu harus sudah ada di hadapan saya!" * * "Ayah, Rindu nggak mau ikut, Yah!" "Kamu harus ikut! Ayah sudah dibayar mahal untuk kamu. Mulai sekarang, kamu bukan lagi putri Ayah!" Gadis berhijab berusia dua puluh tahun itu ditarik paksa, diseret menuju mobil mewah yang sudah terparkir menunggu di depan rumah sederhana mereka. Ia adalah Rindu Sekar Wangi. Gadis yang hidup sederhana bersama dua adik angkatnya—Lia yang masih duduk di bangku kelas sebelas, dan Faiz yang baru menginjak usia empat belas tahun—serta ayah angkatnya, Edi. Sejak ibu angkatnya tiada, Rindu lah yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja keras siang dan malam demi menghidupi serta membiayai sekolah kedua adiknya. Sementara Edi, sang ayah, hanyalah seorang pengangguran yang menghabiskan waktunya hanya untuk mabuk-mabukan dan berjudi. Ia tak pernah peduli betapa susahnya ketiga anaknya bertahan hidup karena ulahnya. "Ayah, Rindu mohon! Jangan pisahkan Rindu dengan adik-adik! Nanti mereka sama siapa kalau Rindu nggak ada?" Rindu terus memohon sambil meronta, namun mata hati Edi sudah tertutup rapat oleh keserakahan yang buta. Ia rela melepas putri angkatnya demi memuaskan ambisi duniawinya sendiri. Di sudut lain, Lia dan Faiz menangis tersedu, memohon agar ayah mereka mengurungkan niatnya. Namun usaha mereka sia-sia. Rindu akhirnya berhasil dipaksa masuk ke dalam mobil itu, lalu dibawa pergi oleh sosok yang tak mereka kenal. "Ayah jahat! Ayah tega kasih Kak Rindu ke orang asing begitu saja! Kalau nanti Kak Rindu disakiti, bagaimana?!" tantang Faiz, matanya menatap tajam penuh amarah pada sang ayah. "Terserah saja! Peduli apa aku pada anak pungut itu! Yang penting sekarang kita bisa hidup enak tanpa perlu susah payah bekerja!" Edi terkekeh sinis tanpa rasa bersalah sedikit pun. Setelahnya, ia berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan kedua anaknya yang masih menangis pilu memandang mobil yang membawa kakak mereka menjauh entah ke mana. * * Sepanjang perjalanan, mata Rindu ditutup rapat, tangan dan kakinya terikat erat, membuatnya tak berdaya bergerak sedikit pun. Tak lama kemudian, kendaraan yang membawanya berhenti. Rindu diseret keluar dengan kasar. Ia mencoba meronta, namun usahanya sia-sia—bagaimanapun juga, ia hanyalah seorang wanita yang tak berdaya di hadapan kekuatan orang-orang yang menculiknya. "Lepaskan saya! Ke mana kalian akan membawa saya?!" Tak ada jawaban. Orang-orang itu bergerak serba teratur dan bungkam, persis seperti patung yang digerakkan oleh perintah tanpa suara. Sesaat kemudian, tubuh Rindu dihempaskan ke atas sesuatu yang empuk, namun rasa takut di dadanya justru semakin meluap. Terdengar langkah kaki berat mendekat, lalu sebuah perintah terdengar dingin: "Bersihkan dia sebelum Tuan Arjun datang!" Penutup matanya belum dibuka, sehingga Rindu tak bisa melihat siapa yang berbicara. "Baik, Tuan," sahut beberapa suara wanita serentak. Tak lama, suara langkah kaki itu menjauh dan hilang. "Nona, izinkan kami membantu Nona membersihkan diri," ucap sebuah suara lembut, yang Rindu yakini sebagai pelayan di tempat ini. Rindu tak menolak. Lagipula, tubuhnya sudah terasa sangat kotor dan lelah. "Tapi sebelum itu... bolehkah saya meminta tolong?" tanyanya dengan suara bergetar. "Bukakanlah ikatan dan penutup mata ini." Awalnya tak ada jawaban. Namun tak lama, ia merasakan tangan-tangan halus melepaskan ikatan di tangan, kaki, serta kepalanya. Akhirnya, Rindu bisa kembali melihat dan menggerakkan tubuhnya secara bebas. Hal pertama yang memukau matanya adalah kemewahan yang tak terbayangkan. Ruangan itu begitu luas, dihiasi perabotan dan desain bergaya Italia yang begitu megah. "Mari, Nona." Rindu mengangguk pelan, lalu mengikuti pelayan itu menuju kamar mandi yang tak kalah mewahnya. Namun kekagumannya terhenti saat pelayan itu memintanya segera bersiap. Setelah selesai mandi, Rindu dibawa ke ruangan lain yang penuh dengan pakaian dan perhiasan wanita. Namun hatinya kembali gelisah—tak ada satu pun gamis atau pakaian yang tertutup. Lemari-lemari itu justru penuh dengan gaun tipis yang membuat bulu kuduknya meremang. Melihat Rindu hanya diam terpaku, salah satu pelayan menegurnya tak sabar. "Ayo, Nona, pilihlah yang disukai! Jangan sampai Tuan Arjun menunggu terlalu lama!" Nama itu terdengar asing di telinga Rindu. Ia ingin bertanya siapa Tuan Arjun, namun yang lebih mendesak baginya adalah pakaian itu. Bagaimana mungkin ia memakai pakaian yang terbuka begitu, apalagi akan bertemu pria yang bukan mahram? Sejak kecil, ibu angkatnya yang seorang guru pesantren sudah mengajarkannya untuk menjaga aurat sebaik-baiknya. "Maaf... apakah tidak ada pakaian yang lebih tertutup? Seperti gamis?" tanyanya hati-hati. "Maaf, Nona. Di sini tidak ada pakaian seperti itu. Pakai saja apa yang tersedia!" jawab pelayan itu ketus. "Baiklah, tidak usah. Saya akan memakai pakaian saya yang tadi saja," ucap Rindu malu-malu, lalu meraih kembali pakaian lamanya. Para pelayan hanya bisa saling bertukar pandang sambil menggeleng. Sebenarnya mereka ingin marah, namun takut kehilangan pekerjaan. "Sudah untung Tuan Arjun tak pernah membawa wanita ke sini, eh malah bersikap seolah dia nyonya besar saja," bisik salah satu pelayan dengan nada sinis, namun sayang masih terdengar jelas oleh telinga Rindu. "TUAN ARJUN DATANG!!" Seruan itu menggema ke segenap ruangan. Seketika para pelayan berbaris rapi dan menunduk hormat, seolah sedang menyambut seorang pemimpin besar. Rindu semakin bingung, hanya bisa menengok ke kiri dan kanan dengan cemas. Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berjalan tegap mendekat, memancarkan wibawa yang mendominasi siapa saja yang melihatnya. Rindu terpana—pria itu begitu tampan, nyaris sempurna. Namun sorot matanya yang tajam dan dingin membuat ngeri seketika merambat di sekujur tubuhnya. Astaghfirullahaladzim! Rindu segera melafalkan doa dan buru-buru menundukkan pandangannya, sadar bahwa ia tak boleh memandang pria yang bukan mahram. Pria itu berhenti tepat di hadapannya, menatapnya sekilas dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Dengan satu isyarat tangan ringan, ia memerintahkan semua orang untuk pergi. Tak lama, hanya tersisa Rindu dan pria bernama Arjun itu di ruangan yang kini terasa semakin sempit dan mencekam. Rindu mundur perlahan karena takut saat pintu tertutup kembali. Ia tak berani mengangkat wajahnya lagi, di hadapan sosok yang telah membelinya seperti barang tak bernilai.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook