Hari ini meja makan penuh karena bertambahnya dua personil keluarga.
Dua setengahlah sama bayi di dalam perut Sania yang kini tengah di manja dengan s**u ibu hamil dan buah-buahan
"Dinar, kamu sama Yuda makanya nasi sama tahu tempe aja ya? Ayam goreng buat Danu sama Sania. Mereka harus kerja. Juga, anak Sania perlu nutrisi," ujar ibunya sambil menyerahkan sepiring tempe dan tahu serta nasi yang sudah di bagi-bagi.
Mulai terasa kesenjangan sosial di rumah ini.
Dinar hendak proses lagi-lagi karena tidak terima dengan ketidak adilan ini. Tapi Yuda, lelaki itu dengan cepat menahannya.
"Baik, Bu. Makasih sudah di buatkan sarapan," ujarnya dengan sopan.
Dinar melirik sinis Yuda yang hanya membalas dengan senyuman simpul.
Sementara Sania tersenyum penuh kemenangan.
Datanglah Danu yang pakaiannya sama-sama coklat seperti Sania. Mereka sepertinya mulai bekerja hari ini. Seragam yang sangat di agung-agungkan keluarga besarnya.
"Ini, Bu. Karena tinggal di sini, Danu akan usahakan kasih uang buat dapur tiap bulan." Lelaki itu memberikan sebuah amplop putih pada ibu mertuanya.
"Gak perlu, Danu. Kamu tabung buat lahiran Sania aja," tolak beliau.
Ibu Tiara mengembalikan amplop itu. Tapi kemudian memandang Dinar dan Yuda bergantian.
"Tapi, Yuda. Kamu sama Dinar maukan bantu buat memenuhi kebutuhan dapur?" tanya Bu Tiara.
"Mau, Bu. Nanti Yuda akan usahakan supaya bisa membantu," ujarnya lagi-lagi tanpa masalah sedikitpun.
Tapi lain dengan Dinar yang sudah tidak tahan. "Kalau gitu Mas Danu juga harus kasih! Gak adil kalau cuma Mas Yuda!" ucap Dinar.
"Mas Danu mau kasih kok! Tapi ibu melarang karena kami harus fokus sama anak kami," balas Sania.
"Anak haram kalian itu?!"
"Dinar!"
"Mbak!"
"Dinar!"
Ibunya, Sania dan Yuda menegur bersamaan.
Kalau ibunya dan Sania, ia paham kalau di tegur. Tapi ini si Yuda entah kenapa malah ikut-ikutan.
"Minta maaf," desis Yuda menatapnya dingin.
Dinar membalas dengan tatapan sengit.
"Minta maaf, Dinar," titah Yuda lagi.
"Ck! Maaf!"
Selera makannya serasa memudar. Apalagi mengingat yang di makan cuma nasi dan tempe tahu.
Dinar beranjak pergi membawa rasa kesalnya.
Harusnya Yuda membela dirinya. Tapi pria itu malah sama saja. Menyesal rasanya menerima tawaran menikah dengan pria itu.
Yuda ingkar janji padanya!
"Tidak baik mengatakan janin yang suci sebagai anak haram, Dinar."
Suara Yuda terdengar dari ambang pintu.
Pria itu masuk mendekati Dinar.
"Jangan begitu lagi. Kalau kamu benci orang tuanya, maka benci saja. Jangan bawa anaknya," ujar Yuda memberi pengertian.
Dinar menatap pria itu dengan wajah menekuk. Ia masih kesal walau apa yang dikatakan Yuda tiba-tiba membuka kesadaran Dinar datang. Ia juga jadi menyesal telah berkata begitu.
Anak itu mungkin kalau lahir nanti di tanya, dia juga tidak mau lahir dengan kondisi seperti itu.
Yuda menghela nafas. "Kita sarapan di luar saja ya?" ajaknya.
Dinar menggeleng.
"Kamu marah?"
Ia kembali menggeleng.
"Saya minta maaf deh kalau begitu."
Kali ini Dinar terdiam.
"Kita sarapan nasi kuning di depan pertigaan sana mau?" Yuda lagi. "Pakai ayam balado enak loh. Boleh doble deh lauknya. Biar puas," bujuknya bertubi-tubi.
Nasi kuning pakai lauk ayam. Lama juga tidak makan itu.
Karena berhemat untuk acara pernikahan sialan ini, membuat Dinar berfikir ulang untuk membeli makanan sesederhana nasi kuning.
"Mas ada uang?" tanya Dinar takut dirinya malah harus membayar.
Bukan apa-apa. Uang tabungannya menipis sekali setelah acara pernikahan sialan itu. Dan bahkan tidak di kembalikan sedikitpun.
Tabungannya ikut terkuras karena uang mahar Danu tidak mencukupi. Padahal keinginan keluarganya sangat tinggi untuk membuat pernikahan sempurna.
"Iya. Mas bayar. Tenang," balas Yuda ringan.
Akhirnya ia mengangguk.
****
"Oh jadi bener kamu nikah sama kakaknya Danu?"
Niatnya mau sarapan tenang, hitung-hitung pendekatan siapa tau mereka bisa saling menguatkan. Eh malah bertemu genk emak-emak mulut runcing.
"Iya, Bu," balas Dinar malas
"Ih. Kamu jahat kayak gitu, Dinar," ucap salah satu dari mereka.
"Iya bener. Kasian Danu."
"Untung ada Sania."
Ibu-ibu itu bersahutan mengomentari sesuatu yang hanya keluar dari kabar burung.
Benar-benar sukses Bu Halimah mengarang cerita. Kalau jadi penulis, pasti langsung best seller karena ceritanya mampu mempengaruhi orang satu kampung.
Cepat-cepat Yuda mengelus tangan Dinar yang mulai mengepal tanda gadis itu marah besar karena tidak terima.
"Dinar melakukan itu demi masa depan yang lebih baik, Bu," balas Yuda dengan pedenya.
"Baik apanya? Situ cuma tukang parkir," celetuk salah satu ibu-ibu itu lalu di susul tawa dari teman-temannya.
"Tukang parkir gak selamanya bermasa depan suram, Bu," balas Yuda
"Iya gak suram. Lebih tepatnya ancur."
Lagi-lagi celetukan itu di sambut tawa.
Dinar sudah tidak mampu diam. Ia menatap Yuda dengan mata berkaca-kaca.
Sebelum Dinar mengeluarkan emosinya, Yuda dengan cepat berkata, "Kita pulang ya?" ajaknya.
****
Dinar membenamkan wajahnya di bantal. Menumpahkan tangis karena ucapan menyakitkan yang ia dengar barusan.
Ia seorang diri di kamar. Yuda bahkan tidak terlihat. Dia pergi dengan motor bututnya setelah mengantar Dinar yang sedih ke rumahnya.
Ia kesal pada Yuda. Kenapa harus berkata demikian. Malah membuat ia semakin di pojokan dan rasanya kata itu malah membenarkan ucapan ibunya.
Apa Yuda memang sengaja?
Mungkin itu suruhan dari Bu Halimah. Dan Yuda menikahinya lagi-lagi karena untuk membuat orang-orang percaya kalau Dinar telah berselingkuh.
Jadi orang-orang akan percaya kalau Danu dan Sania tidak salah menikah.
Pikiran buruk demi pikiran buruk melintas di kepala Dinar. Rasa sakit kian menumpuk di hatinya.
Pintu kamar terbuka setelah lebih dari dua jam ia terdiam setelah puas menangis.
"Kenapa kamu nangis, Nak?" tanya Bu Tiara.
"Gak apa-apa, Bu," balas Dinar lemah
Tanpa banyak bertanya lagi, sang ibu memperlihatkan sesuatu padanya.
"Ini daftar belanjaan yang habis di dapur. Kasih tahu suami kamu ya? Usahakan biar bisa di beli."
Dinar melihat list bahan dapur itu.
"Banyak sekali, Bu? Ini mas Yuda semua yang harus beli?"
Gila sih ini. Mana mungkin Yuda punya uang sebanyak ini, pikir Dinar.
"Iya. Usahakan ya."
Sang ibu beranjak pergi tanpa perduli perasaan putrinya itu.
Kekalutan makin kental ia rasakan. Dinar rasanya mau pingsan saja.
****
Dinar mencuci piring sambil terus berfikir bagaimana dirinya nanti setelah semua beban yang di berikan semua orang padanya.
Bahkan berfikir mungkin lebih baik mencari tempat tinggal lain. Ia juga akan kembali bekerja sebagai tukang setrika di laundry lagi nanti.
Mungkin jauh lebih baik dari pada ia berada di sini. Rasa sakit hatinya saja tak hilang, dan sekarang juga di berikan beban.
Yuda bahkan tidak tampak setegas kata-katanya waktu itu. Dia bahkan tidak bisa membantah ketika ibunya menginginkan sesuatu yang pasti tidak bisa mereka berikan.
"Ke kamar yuk, Mas."
"Tunggu dulu. Aku mau ambil minum."
Dinar menyadari ke datangan sosok yang teramat sangat di bencinya. Sekuat tenaga ia menahan diri tidak mengeluarkan kata-kata makian pada pria itu. Dinar tetap berada di posisinya depan wastafel walau cuciannya sudah beres.
Seolah Danu sengaja memperlambat gerakannya. Entah kenapa rasanya Dinar seolah di tatap lekat oleh pria itu dari belakang.
Ia mendengar langkah kaki pria itu seperti akan menjauh.
"Maaf, Dinar. Aku menyakiti kamu. Aku sungguh minta maaf."
Langkah kaki itu kian menjauh usai sebuah kalimat di dengarnya.
Tak dapat lagi menahan diri, Dinar luruh ke lantai dengan air mata berderai. Rasanya hatinya makin hancur berkeping-keping. Tiap balut kebahagiaan yang dulu di impikannya kini sudah menjadi serpihan tak berbentuk.
Apa tuhan begitu membencinya hingga melakukan sesuatu yang begitu menyakiti perasaanya?
Dinar menangis sejadi-jadinya seolah tak ada lagi langkah untuk dirinya menjapani hidup
Bersambung. . . .