Siapa Suamiku Sebenarnya?

1088 Kata
"Assalamualaikum" "Kumsalam!" Yuda mengerutkan kening heran. "Gak ikhlas banget jawab salamnya," komentarnya lalu berjalan masuk ke kamar Dinar. Dinar masih duduk dengan tatapan kosong melihat betapa hancur masa depannya. "Kesambet?" tanya Yuda lalu duduk di sisi Dinar. Dinar melemparkan daftar belanjaan yang diberikan ibunya tadi pada Yuda. Yuda melihat semua list belanjaan itu. Lalu melihat lagi Dinar. Tak ada yang aneh baginya dengan daftar belanjaan itu. Sementara Dinar tampak seperti orang habis tertimpa musibah "Bisa di usir kita nih," gumam Dinar lemah. "Kenapa?" tanya Yuda tidak paham. Kenapa mereka bisa di usir? Aneh. Ia butuh penjelasan detail dari Dinar. "Gimana kita beli semua belanjaan itu?" keluh Dinar lagi-lagi dirinya hendak menangis. Ternyata menikah tidak menikah sama saja. Memang mereka akan tetap di usir. Secara tidak langsung ibunya ingin ia pergi dari rumah ini dengan memberikan list belanjaan sebanyak itu. Padahal ibunya tau kalau suaminya tidak punya banyak uang. "Ini? Gampang, Dinar. Tinggal ke toko, kasih catetan, bayar." Bugh! Lemparan bantal tak terelaikan mengenai wajah Yuda. Dinar menatap suaminya itu geram. "Aduh, Dinar. Saya salah apa?" keluhnya dengan wajah meringis. Lemparan istrinya ini tidak main-main kuatnya. Apalagi bantal itu kena tepat di hidung mancungnya. Untung saja tidak sampai mengurangi ke tampanan di wajahnya ini. "Mas tuh gak paham, ya? Mas cuma ngomong aja. Dinar capek kayak gini! Capek!" Yuda berlindung di balik bantal yang Dinar lempar padanya. Tak menyangka dengan lampiasan emosi yang sudah menyerupai istri-istri pada umumnya. Khas ngomel ala emak-emak mulai terasa dari diri Dinar. "Cuap-cuap. Jangan marah-marah," bujuk Yuda sambil menyenyir. Ia meletakkan bantal di tangannya. Agak kaku mengusap bahu istrinya. Bagaimanapun juga walau istri, ia tidak pernah berbuat lebih pada Dinar. Jadi harap maklum dengan ke kakuannya saat ini. "Sabar dulu ya," katanya. Tangannya kemudian meraih sesuatu dari dalam tas. Ia mengeluarkan lembaran warna merah dari tasnya. "Nah, ini buat kamu," ujarnya memberikan tumpukan uang itu ke tangan Dinar. "Cukup gak?" tanyanya. Sementara Dinar malah terdiam dengan tangan gemetar melihat benda di tangannya. Kedua belah tangannya memegang uang itu seolah beratnya mencapai puluhan kilo. Matanya tidak bisa mengedip saking kagetnya. Ia menatap uang di tangannya dan wajah Yuda secara bergantian. "Apa ini?" tanyanya seperti orang bodoh. "Uang. Memangnya terlihat seperti apa buat kamu?" balas Yuda menurun naikkan alisnya. Jelas-jelas ini tumpukan kertas bernilai. Masa iya Dinar tidak tau benda ini. "Mas nyolong di mana?" tuduh Dinar dengan wajah takut. Belum selesai satu masalah, satu masalah datang lagi. Dapat nyolong dari mana Yuda sampai punya uang sebanyak ini. "Astaghfirullah! Dinar!" "Kamu nuduh saya nyolong? Itu uang saya buat nafkahin kamu," ujar Yuda kaget dengan ucapan sang istri. Ini tuduhan yang sangat menyakitkan bagi Yuda. Ia pikir tadi istrinya akan bersorak gembira dan spontan memeluknya. Seperti yang ia sering lihat perempuan akan sesang di berikan uang. Kenapa istrinya ini malah menuduhnya seperti itu. "Tapi? Ini banyak banget, Mas." Yuda mengernyut heran. Ia melihat kembali tumpukan uang di tangan istrinya itu. "Kebanyakan ya? Saya pikir malah gak cukup," balas Yuda. Dinar seolah di buat makin tidak mengerti dengan situasi yang saat ini mereka hadapi. Bagaimana? Kenapa bisa? Menjadi pertanyaan bertubi-tubi dari kepala dan hatinya. "I-ini uang beneran punya, Mas?" tanya Dinar lagi-lagi mastikan. "Ya kalau uang orang, di marahin orang saya kasih itu ke kamu. Itu pokoknya uang bulanan kamu." Dinar ternganga mendengar ucapan bulanan. Berati bulan depan akan ada tumpukan uang ini lagi. "Ini uang buat satu bulan?" tanya dinar lagi memastikan telinganya tidak bermasalah. Yuda mengangguk sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Nah kalau ini kasih ke ibu. Jangan kamulah yang beli. Ibu aja." Lagi-lagi tumpukkan uang di serahkan Yuda padanya. Uang dalam jumlah yang tidak sedikit bagi Dinar. "Mas???" Rasanya pandangan Dinar mengabur. Kamar terasa berputar hingga ia tidak dapat melihat apa-apa lagi. "Astaghfirullah!" "Dinar?" "Sadar! Kamu masih hidup?" **** Dinar menghitung ulang uang yang tadi ia terima dari Yuda. Uang yang Yuda bilang untuk dirinya. Ia menyusun lembaran uang itu sepuluh-sepuluh. Hingga tertumpuk 5 tumpukkan kertas merah itu "Subhanallah! 5 juta," lirih Dinar lalu melirik Yuda yang masih tertidur di lantai sana. Untuk mempunyai uang 5 juta bukan hal mudah untuk Dinar. Bahkan perlu 5 bulan saat bekerja, baru bisa punya uang sebanyak ini. Itu juga, ia tidak boleh memakai uang itu sepeserpun. Ia kemudian menghitung lagi uang yang di khususkan untuk biaya rumah "Ya Allah! Ada 3 juta!" pekiknya pelan. Tukang parkir mana yang punya uang sebanyak ini???? "Ini mah lebih besar dari pemberian bapak buat ibu," gumamnya seorang diri. Tukang parkir macam apa Yuda?! **** "Makanan gak cukup lagi buat semua orang." Saat Dinar dan Yuda ke meja makan. Suara ibu langsung menggemelatuk masuk ketelinga keduanya. "Ya udah. Kami makan di luar aja," balas Dinar dengan senyuman lebar. "Oh, iya. Ini, Bu. Buat dapur. Dari Mas Yuda." Dengan bangganya Dinar memberikan uang itu dengan cara melebarkan tumpukkannya hingga seperti kipas. Ia letakkan di atas meja lalu menatap Sania dengan senyuman sangat lebar seolah berkata "duit tuh! Banyak! Lo bisa kasih sebanyak ini?!" Sekali-kali menyombongkan diri tidak masalahkan??? Hitung-hitung melampiaskan kekesalannya. "Ayo, Mas Yuda Sayang. Kita sarapan di luar aja." **** Yuda memperhatikan istrinya yang kini makan dengan lahap. Rumah makan yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka agar tidak bertemu orang-orang yang sudah menelan bulat gosip murahan itu. "Ternyata benar ya? Kalau Abang punya uang Abang di sayang. Kalau gak punya uang, Abang di tendang," sindir Yuda yang melihat perubahan hati istrinya pagi ini. Dinar mendongak seraya mendengar ucapan Yuda. "Ah, gak gitu kok," balasnya sambil cengar-cengir tidak enak. Apalagi tadi saat memanggil Yuda sayang di hadapan orang tuanya. Spontan saja padahal. "Gak apa. Saya paham kok. Udah puaskan kamu dihadapan sodara kamu itu?" Dinar mengangguk dengan semangat. "Tapi itu uang yang mas kasih beneran buat Dinar?" tanyanya lagi mengulang. "Iya. Itu nafkah kamu sebagai istri saya." "Tapi, itu uang punya, Mas?" Lagi-lagi ia mengulang. "Iya, Dinar. Kenapa sesulit itu kamu percaya?" Mungkin siapapun akan sama sepertinya, sulit mempercayai lelaki seperti Yuda memiliki uang yang terbilang banyak untuk memenuhi nafkah istrinya. "Apa jangan-jangan sebenarnya mas ini pengusaha sukses yang nyamar jadi tukang parkir?" tebak Dinar teringat novel-novel yang dulu pernah ia baca. Mungkin saja mas Yuda pengusaha sukses yang nyaman jadi orang miskin karena satu dua alasan! "Ngaco kamu. Saya itu kerja, Dinar. Saya kerja jadi tukang parkir." "Tapi, Mas!" Dinar masih tidak bisa percaya. "Kok bisa?" "Ya bisalah. Kalau kerja, otomatis punya uang. Saya gini-gini bukan pengangguran." Dinar menatap Yuda lekat. Mungkin Yuda menyembunyikan identitasnya sebagai orang kaya? Sungguh sulit dipercaya Yuda dapat memberi dirinya uang bulanan dalam jumlah yang tidak sedikit. Padahal ia hanya tukang parkir. Bersambung. . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN