12

1063 Kata
Panas sekali, tanpa pelindung Ara dan Zayn melakukan seks. Mereka berdua saling berpaut mesra. Ara mengakui kehebatan Zayn saat melakukannya. Dia bisa melakukan banyak gaya di berbagai posisi. Belum lagi di bibirnya selalu terselip kata pujian. Dia melakukannya dengan sangat lembut dan Ara ingin mengulanginya lagi dan lagi hingga pagi menjelang. “Ah tulangku mau patah.” ucap wanita itu saat matahari memasuki kamar melalui jendela yang kini sudah terbuka lebar. “Zayn.” wanita itu tak menemukan pria yang sejak semalam bercinta dengannya. “Aku di sini! Pakai bajumu kita akan makan siang bersama.” Ara menatap jam di dinding, “Makan siang? Ah aku benar-benar sudah gila, bagaimana bisa aku bangun pada pukul satu siang.” “Hey, Ara! Bersihkan dirimu terlebih dahulu. Aku sudah membelikan sikat gigi baru untukmu. Masuklah kamar mandi dan gunakan pakaian yang aku letakkan di atas nakas.” Ara keluar dari balik selimut dengan tubuh polosnya. Dia melihat pakaian yang Zayn siapkan, begitu pas di tubuhnya dan ini adalah gaya Ara. Zayn memang selalu tahu apa yang dia sukai. Ah samar-samar Ara mengingat apa yang Zayn bisikkan di sela-sela seks mereka. Apa aku tak salah dengar? Dia bilang mencintaiku? Ara menggeleng dan masuk ke dalam kamar mandi, dia melihat sikat gigi baru yang Zayn belikan untuknya. Itu terlihat sangat imut sekali dan dirinya sangat suka. Setelah hampir 30 menit Ara keluar dari kamar mandi, dia langsung menuju meja makan tapi tak ada Zayn di sana. Wanita itu pun langsung menuju ruang kerjanya. “Apa kau menunggu untuk makan bersama?!” “Memangnya apalagi yang bisa aku lakukan.” jawabnya pelan. “Zayn, ayo kita makan sekarang.” Pria itu berdiri dan berjalan tepat di belakang Ara. Dia tersenyum karena pakaian yang di belikan begitu pas di tubuh Ara. “Makanlah yang banyak, aku takut kau pulang dalam keadaan pucat. Aku yakin kau tak ingin aku antar pulang, bukan?!” “Ya, aku lebih suka membawa mobil sendiri. Pergi kemanapun yang aku suka tanpa di curigai orang lain. Aku benar-benar ingin berpisah dari Dion, bagaimana menurutmu?!” Tentu saja Zayn sangat setuju dan menginginkan hal itu terjadi, tapi apa dia harus mengatakan secara terang-terangan? “Hm, apa kau yakin?” “Aku tak yakin hanya saja aku ingin lebih menjaga hati ini agar tak terkoyak-koyak.” Ara mengangkat wajahnya menatap Zayn dan pria itu memalingkan wajahnya. “Apa ini? Apa kau malu padaku? Ah yang benar saja!” “Bukan begitu, aku hanya-” “Hanya apa? Aku melihat wajahmu memerah. Zayn, aku ingin bertanya denganmu, apa bisa kau melihat ke arahku?!” Mau tidak mau dia harus mengikuti apa yang Ara inginkan, “Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” “Apa kau memasukkan semuanya ke dalam tanpa pengaman?!” - Rasanya hilang selera makan Zayn, dia meletakkan sendoknya lalu menyandarkan diri di kursi. “Apa kau serius bertanya soal ini?!” Ara mengangguk, “Aku sangat penasaran. Kenapa terasa sangat berbeda? Selain milikmu lebih besar dari punya pria b******k itu, aku tak tahu lagi apa yang membuatnya terasa lebih nikmat.” Ah kacau, Zayn ingin mengacak-acak rambutnya saja saat ini. Dia rasanya malu sekali saat membicarakan ini. “Apa kau tak malu? Sungguh?!” “Jadi kau malu?” tanya Ara balik, “Bukankah kita sama-sama sudah dewasa?! lagipula hubungan ini tanpa keterpaksaan sama sekali. Kau dan aku secara sukarela, bukan?!” “Iya, aku tahu! Tapi aku mohon jangan bicarakan semuanya saat ini. Aku pikir tak masalah jika menyingkirkan pengaman, selain kau sudah tak pernah lagi melakukan seks bersama Dion! Aku pun sama, sudah sangat lama tak melakukan seks bersama seorang wanita.” “Oh, oke! Lagipula aku tak akan hamil. Hanya saja rasanya begitu nyata dan nikmat. Kita wajib melakukannya lagi ketika senggang.” Zayn menegakkan tubuhnya, “Aku siap kapanpun kau mau melakukannya. Apa sebaiknya malam ini kau tak usah pulang, Ara?!” “Ck, semua pria sama saja. Tapi karena kau temanku maka ini tak masalah sama sekali. Kita berdua harus menikmati hidup ini, bagaimana menurutmu?!” Zayn mengangguk setuju, dia akan melakukan apa saja demi Ara dan jika boleh jujur dia juga menikmati seks mereka tadi malam. Setiap hembusan napas Ara membuat Zayn semakin menggebu. “Lalu apa sebelum kau pergi apa sebaiknya kita melakukannya satu kali lagi?!” Ara mengangkat wajahnya menatap Zayn, “Apa kau bisa membaca pikirkan ini?!” Zayn tersenyum malu, dia melipat bibirnya karena tak menyangka apa yang dia inginkan juga di pertanyakan dalam hati Ara. “Aku harap kau makan dengan kenyang.” ucap Zayn tersipu malu. Di bawah cahaya matahari yang menyengat. Hordeng yang tersibak membuat mereka berdua begitu texas bercinta. Tanpa malu seperti tadi malam keduanya saling melepaskan pakaian. Bibir mereka tak berhenti saling mencumbu. Lumatan kecil yang mereka lakukan menjadi candu, apalagi saat tangan Zayn menyentuh puncak p******a Ara. Desahan demi desahan keluar dari bibir Ara, wanita berumur 30 tahun itu melompat hingga berada dalam gendongan Zayn. Kakinya mengepit pinggang pria yang tak bisa menahan gairah yang sudah muncul seperti percikan api. “Zayn… ah…” suara itu tepat berada di ujung telinganya. Tak ada yang bisa menghentikan mereka sampai suara ponsel yang berkali-kali bunyi tidak mempengaruhi sama sekali. “Ponselmu berbunyi Ara.” “Aku ada sedikit pertemuan dengan mitra.” “Apa itu tak penting?!” “Sangat penting Zayn.” jawabnya. Pria itu pun langsung terhenti, dia tak lagi mencumbu Ara, dan pisang miliknya tak lagi bergerak dan itu sungguh membuat Ara kesal. “Jadi apa yang kau lakukan di sini kalau itu sangat penting, ah kau gila juga!” Umpatnya kesal. “Zayn.” Ara menahan pinggul yang ingin mencabut miliknya dari dalam milik Ara. “Apa, mandilah dan kembali lagi padaku setelahnya. Pekerjaan kita belum tuntas tapi urusanmu juga penting. Ponsel itu tak berhenti sejak tadi berdering. Aku tak ingin melakukan seks hanya untuk kata puas saja.” Ara menghela napas, dia terpaksa mengikuti apa yang di inginkan oleh Zayn. “Ah, bisa-bisanya kau melakukan ini padaku, Zayn! Kau benar-benar keterlaluan.” “Terus saja mengumpat, waktu semakin cepat berjalan.”jawabnya. “Kau ingin bertengkar denganku? Apa aku perlu mencari pria lain?!” Zayn berjalan cepat menuju Ara dan memeluknya dari belakang, dia sangat menyayangi wanita ini. Pelan Zayn berbisik, “Jangan katakan hal itu, aku sungguh minta maaf padamu. Tak ada maksud sampai seperti itu, aku akan menunggu kau pulang Ara.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN